Ujian, Masalah atau Kebaikan?

Sudah merupakan suatu keniscayaan bahwa seorang manusia akan menghadapi berbagai macam ujian dalam hidupnya. Mau itu ditunggu atau tidak ditunggu, diharapkan atau tidak diharapkan, ujian pasti akan tetap datang. Tinggal bagaimana mindset orang itu mencerna setiap ujian yang menghampiri.

Ujian bisa bertransformasi menjadi masalah jika di dalam mindset, ujian didefinisikan sebagai gangguan atau sesuatu yang tak menyenangkan. Saat ujian dimaknai sebagai masalah, hidup secara otomatis pasti akan terasa sangat menyebalkan. Secara tidak sadar, sumbu berpikir pun menjadi lebih pendek dari biasanya. Pikiran andai-mengandai mulai bermunculan. Tak jarang mulut dengan refleksnya menggerutu, diikuti hasrat untuk menyalahkan orang lain, dan/atau mempertanyakan mengapa situasi seperti itu hadir. Lalu muncul keinginan untuk menemukan jalan pintas agar ‘situasi menyebalkan‘ itu segera terlewati. Ujungnya? Bisa jadi jalan keluar tidak nampak, malah energi terkuras banyak, kepala pusing, menghening tidak jelas, bahkan bisa saja menghadirkan masalah baru.

Sayangnya, mindset di atas sudah ter-setting otomatis. Artinya, kalau tidak ada inisiatif atau dorongan untuk menggunakan mindset lain, secara alamiah kita akan diantarkan pada sebuah pemahaman kalau ujian itu adalah masalah. Dan semua konsekuensi di atas akan mengikuti tanpa diminta.

Sebagaimana hukum Newton I, untuk menggerakkan sesuatu yang pada awalnya diam butuh usaha karena kecenderungan yang dimilikinya memang akan tetap diam. Suatu hubungan sebab-akibat yang sudah ter-setting otomatis bisa dianalogikan sebagai benda yang resultan gayanya sama dengan nol, tanpa diapa-apakan pun kecenderungannya akan tetap selalu begitu. Untuk merubah settingan yang sudah diatur otomatis dengan settingan baru, perlu usaha ekstra. Besar usahanya tergantung dari sudah seberapa nyaman dengan settingan otomatis tadi. Kalau kadar nyamannya sudah terlalu tinggi, usaha yang dibutuhkan pasti sangat besar, pun sebaliknya.

Oleh karenanya, merubah mindset yang sudah ter-setting otomatis ke mindset baru pasti perlu usaha. Apalagi beralih ke sesuatu yang bermuatan positif, pasti membutuhkan usaha yang besar, kan? Karena karakteristik dari perpindahan yang bermuatan positif biasanya itu berat dilalui, menimbulkan ketidaknyamanan, dan berpotensi selalu berhadapan dengan konflik internal setiap waktu. Tapi kabar baiknya, sesuatu yang membutuhkan dorongan usaha yang besar, in syaa Allah rewarding.

Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya

HR Imam Muslim

Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk selalu meyakini bahwa ujian itu dihadirkan untuk membawa kebaikan, yang terkadang kebaikan tersebut tidak akan nampak langsung kandungannya, karena terbatasnya akal, sedikitnya pengetahuan, dan tidak sebandingnya ilmu yang kita miliki dengan ilmuNya. Tapi satu hal yang pasti, bahwa dibalik setiap ujian yang kita dapati ada banyak hikmah yang telah Ia sisipkan, menanti untuk kita sadari. Hikmah yang sejatinya membuat kita takjub karena ternyata betapa besar kadar kasih sayangNya. Bahwa Ia, dengan caraNya, senantiasa merencanakan dan mengusahakan agar kita menjadi pribadi yang baik di mataNya.

Memahami bentuk kasih sayangNya di balik ujian yang Ia berikan pastilah membutuhkan usaha yang besar. Betapa tidak, dorongan untuk memaknai ujian sebagai masalah lebih besar ketimbang memaknai ujian sebagai kebaikan. Secara otomatis, pikiran kita akan diarahkan untuk merasakan ketidaknyamanan dan hasrat untuk menyalahkan keadaan. Mengarahkan pikiran untuk memahami bahwa semua ketidaknyamanan tersebut mengandung kebaikan butuh ‘pemaksaan’ yang luar biasa. Pemaksaan inilah yang disebut dengan kesabaran.

Dalam situasi penuh kecamuk itu, pikiran sadar kita perlu kita paksa untuk berjeda sejenak, menghela nafas, berusaha menerima, dan menginternalisasi keyakinan bahwa pasti ada jalan keluar dan hikmah di baliknya. Kemudian terus merepetisi ‘pemaksaan’ tersebut hingga kecamuk itu mereda lalu digantikan dengan suatu kondisi dimana kita ingat pada janjiNya. Ingat bahwa Ia sudah menyiapkan jalan keluar dan kebaikan yang mungkin belum dapat kita sadari kandungannya. Jalan keluar dan kebaikan yang akan Ia tampakkan manakala kita mau bersabar dalam menghadapi serangkaian ujian yang telah Ia siapkan.

Ya, ujian bisa menjadi masalah ataupun kebaikan, tergantung mindset yang kita gunakan untuk memaknai ujian tersebut. Dan sudah sunnatullah, saat hendak memaknai ujian sebagai kebaikan, akan ada usaha berupa kesabaran yang harus diikhtiarkan. Tidak hanya sekali, kesabaran itu juga perlu direpetisi, karena dorongan untuk memaknai ujian sebagai masalah selalu berusaha mendominasi setiap waktu. Tapi, suatu ikhtiar menjemput kebaikan selalu rewarding, sesuai dengan janjiNya. Dan janjiNya adalah mutlak, tidak akan pernah tidak ditepati.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, ‎kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita ‎gembira kepada orang-orang yang sabar, ‎(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna ‎lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.‎ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan ‎mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.‎‎

Al-Baqarah : 155-157
Photo Courtesy

One thought on “Ujian, Masalah atau Kebaikan?

Berikan Komentar

Back to top
%d bloggers like this: