Pesan Pengalih Fokus

Derrrrtt.

Sebuah notifikasi masuk.

Garda yang sedang fokus mendengarkan online course di kamar tidurnya tidak menyadari ada getaran dari telepon genggamnya. Dari setengah jam lalu, ia masih di posisi setengah tidur, menyandarkan punggungnya di kursi vortex yang belum lama ia beli. Kakinya ia naikkan ke atas meja, tepat di sebelah laptop miliknya. Kedua tangannya ia taruh di belakang kepala, menopang pandangan yang ia arahkan ke langit-langit. Headphone nirkabel terpasang di kedua telinganya dengan volume yang ia set cukup tinggi.

Tipe belajar Garda memang auditori sehingga ia tidak bisa belajar dengan baik jika ada suara bising di sekitar. Baginya, suara-suara yang sifatnya ramai mudah membuatnya terdistraksi. Ia lebih suka menyendiri di kamar jika ia sedang mendalami sesuatu yang betul-betul ingin ia pahami.

“Kok aing kayak haus sih”

Tetiba fokusnya teralihkan oleh keringnya tenggorokan. Ia kemudian menekan tombol pause, lalu sedikit beranjak untuk mengambil botol minum yang sudah ia siapkan. Setiap kali mau belajar, Garda selalu menyiapkan air minum, karena jika tidak, ia merasa punya beban moril terhadap ibunya yang selalu berceramah tentang pentingnya banyak minum.

Saat ia hendak menyimpan kembali botol stojo hitam miliknya, matanya sekilas melirik ke layar handphone. Ia pun terperanjat ketika melihat ada notifikasi WhatsApp dari Zeina Ummu Balqis. Biasanya, Garda menghiraukan semua notifikasi yang masuk, apalagi notifikasi yang datang dari grup. Semua grup yang ia masuki akan ia mute saat belajar. Notif yang ia segerakan untuk ia lihat hanyalah jika notif pesan yang masuk itu dari orangtuanya, ring satu organisasinya, atau japri dari……. Zeina.

“Waduh si Zay nge-mesej. Kapan ni wasap masuk? Oh, masi dua menit lalu”

“Kenapa aing harus deg-degan si, baca aja belum”

Garda lalu segera membuka pesan WA dari Zay, panggilan akrab Zeina. Sembari membuka pesannya, ia berusaha menenangkan diri, memberikan sugesti pada dirinya sendiri bahwa ia tidak boleh terbawa suasana. Walau ia telah berusaha mengalihkan segala macam pikiran yang melintas, ia masih diselimuti rasa penasaran akan isi pesannya.

Assalamualaikum kak. Maaf klo aku ganggu. 
aku mau tnya detail arahan Kak Babam ttg sosialisasi Sekolah Bintang
aku waktu itu izin ga ikut rapat kak, jdnya gak tau detailnya
td pagi Kak Babam minta aku buatin poster
tapi pas aku tnya balik detailnya gmn, smpe sekarang Kak Babamnya blm bales. 
jadi aku lngsung tnya Kak Garda aja
Maaf ya kak, mkasih

Si Babam kampring. Kebiasaan aeh ngasih kerjaan tapi ga detail. Kasian kan si Zay

Sesaat setelah itu, Garda segera masuk ke kotak search di WA-nya dan mencari riwayat pesan atas nama Abraham Maulida, nama asli Babam. Babam adalah salah satu ring satu yang menjabat sebagai Ketua Divisi Eksternal Himpunan Mahasiswa Psikologi, dimana Garda menjadi ketuanya.

Woy, Bam. Itu si Zay nanya arahan detail poster. Bales heula ai mane.
Mane lagi maen tamiya di Kubik, nya?

Setelah menekan tombol send, Garda segera kembali ke pesan yang dikirimkan oleh Zay. Dibalik kekesalanya pada Babam, dalam hati kecilnya, Garda sebenarnya sedikit senang karena ia berkesempatan untuk berbalas pesan dengan Zay, seorang yang entah sejak kapan ia menaruh rasa padanya.

Oh iya, gak papa Zay.
Maaf ya, Babam suka lupa kasih detail kalo kasih arahan.
Di saya ada notulensi rapat pengurus Kamis kemarin
Saya kirim Zay notulensi tentang Sekolah Bintang ya
Boleh minta emailnya, Zay?

Garda kembali memasang headphone-nya. Ia kembali melanjutkan online course tentang personality plus yang akhir-akhir ini ia tertarik mempelajarinya. Ia senang mempelajari karakter orang. Selain ini memang bidangnya, ia juga bisa langsung mempraktekkan ilmunya di organisasi yang sedang ia geluti.

Tidak seperti sebelumnya, sekarang mata Garda sesekali mengintip ke layar handphone. Walau rasionalitasnya mendorong agar ia kembali mengembalikan fokusnya 100%, tapi sisi lain dari dirinya masih menunggu respon balik dari Zay.

“Ah, Gar, naon si mane. Nanti si Zay juga bales. Ga usah ditunggu oge meur. Fokus belajar woy!”

Garda memang suka bermonolog. Menurutnya, itu salah satu cara dia mengingatkan atau menyemangati diri sendiri. Saat ia sendiri, pasti ada sebagian dari waktu sendirinya itu yang ia gunakan untuk bermonolog.

Namun, matanya tetap tak bisa lepas dari layar handphone-nya. Ia pun kembali bermonolog. Di tengah konflik internalnya itu, sebuah pesan dari kontak bertuliskan Zeina Ummu Balqis akhirnya masuk.

iya boleh kak. Ini email aku:
zeinabalqis10@xxxxx.com
makasi bnyak y kak...

Tanpa berpikir lama, Garda segera membuka dropbox. Ia masuk ke folder Himakologi, dan segera membuka file notulensi rapat pengurus terakhir. Ia kemudian meng-copy paste bagian Sekolah Bintang ke Word, dan langsung membagikannya ke email-nya Zay.

udah dikirim ya Zay..
boleh dicek..
cepet bgt kak :O
ok kak, mksih ya..
Hehe tinggal copas doank..
Sama2 Zay...
btw lagi ga ada tugas kuliah, Zay?
kalo lg ada tugas, tugasnya dulu aja selesein..
ada sih kak, tp alhamdulillah udh selese
oh gitu..

Ada keinginan dalam hatinya untuk meneruskan chat dengan Zay. Kapan lagi ada kesempatan ngobrol dengan Zay, pikirnya. Ia sempat terdiam sejenak. Pikiran rasionalitasnya, hati kecilnya, dorongan fuad-nya, dan sisi jomblo-nya berkecamuk, saling berusaha mendominasi satu sama lain.

Ah udah ah. Kata si Umar, untuk menghindari rasa yang belum waktunya merekah, kudu membatasi komunikasi dua arah. Cenah si eta mun teu salah, usahain kalo chat sama ukhti fillah ujungnya titik, supaya ga lanjut ke premature heartbeat.

Haha.. Naon sih si eta.. Suka tinggi bahasanya teh. Tapi anehna deuih sok bener..

“Hmm.. eh satu babak lagi weh lah. Moal nanaon meur haha..”

Dengan dalih agar bisa masuk lingkaran pertemanan Zay, Garda pun kembali mengirimkan pesan pada Zay yang katanya…. terakhir. Pikirnya, jika ia bisa masuk inner circle-nya Zay, siapa tahu saat Zay mencari jodoh suatu saat nanti, ia bisa menjadi salah satu kandidat pilihan Zay. Sebuah visi yang luar biasa.

Eh, Zay. bikin posternya yang bagus ya.. haha..
Iya, kak. in shaa Allah :)

Deg.

Dalam benak Garda, emoticon senyum di akhir pesan Zay itu seperti membawa suasana lain dalam hatinya. Seolah, ia melihat senyuman yang langsung dilontarkan oleh Zay kepadanya. Hatinya sedikit berbunga. Mulutnya sedari tadi tersenyum sembari ia mengusap-usap rambut depan yang sudah ia beri Gatsby tadi pagi.

“Astaghfirullah Gar! Eta personality plus can beres mane teh kampring!”

Garda pun kembali pada online course-nya. Saat ini, ia kembali memfokuskan diri pada video yang sedari tadi ia pause. Pikiran-pikiran seputar lingkaran pertemanan tadi sesekali melintas, tapi ia selalu berusaha kembali mengembalikan fokusnya.

Senin, cepatlah datang, teriak benaknya.

Berikan Komentar

Back to top
%d bloggers like this: