Nikah Muda Berawal dari Novel

Buku adalah Jendela Dunia

Sebuah Pepatah

Pasti sering banget lah kita denger pepatah itu. Tapi memang, pengalaman pribadi sih bilang kalau buku itu punya power buat mengubah cara pandang terhadap sesuatu, gak jarang juga bisa sampai membentuk mindset baru. Buat sebagian orang, titik balik seseorang bahkan bisa berawal dari suatu buku.

Termasuk di antaranya adalah pengalaman pribadi yang akhirnya mengantarkan sayah pada keputusan untuk menikah di usia yang mungkin masih tergolong muda. Sebuah keputusan yang pada saat itu tidak mudah untuk diambil. Dan ternyata, setelah ditarik benang merah mudanya ke belakang, semua itu berawal dari satu novel yang pernah saya baca sewaktu SMA.

Nikah Dini Kereeeeeen!

seriusan ini ‘e’ nya ada 6 biji

Judulnya emang sesuatu sih. Provokatif tetapi inspiratif.

Penampakan bukunya

Novel karya Haekal Siregar, putranya bunda Pipiet Senja (wait, namanya kayak familiar) ini adalah buku non-akademis pertama yang saya baca sepanjang sejarah saya hidup. Di masa-masa SMP, saya pernah bertemu buku, tapi tidak sampai membaca sampai habis, apalagi menikmatinya. Tapi ajaibnya, buku ini menjadi buku pertama yang langsung habis dibaca. Begitu juga dengan buku sekuelnya. Langsung beres dalam satu hari. Buat saya yang tidak punya sejarah asyik dengan buku sebelumnya, ini sebuah prestasi yang (tak) layak masuk CV.

Sudah agak lupa gimana isi buku ini (monggo cek aja review atau resensinya di lapak lain), tapi pada intinya buku ini berisi pengalaman pribadi dari Haekal dan istrinya, Selly, yang memutuskan untuk tidak pacaran dan inginnya nikah saja selepas lulus SMA. Karena gaya bahasanya teen banget dan dikemas seperti menceritakan pengalaman pribadi, jadinya gak sulit buat diserap isi bukunya. Ditambah, karena waktu itu saya berprinsip “gak mau pacaran” juga, jadinya ini buku seperti relate banget sama jiwa dan raga saya.

Percaya atau tidak, seusai buku ini selesai dilahap, saya tetiba bermimpi untuk nikah muda dan memasang target untuk menikah sebelum lulus kuliah. Akankah ini hanya omong kosong semata dan berujung pada wacini? Ah liat weh nanti. Pikir saya waktu itu.

Setelah melakukan proklamasi sepihak itu, entah kenapa pikiran dan hati saya seperti punya heading baru yang berjudul “nikah muda”. Saya punya cara pandang dan keyakinan baru bahwa nikah muda bukan sesuatu yang sulit dijangkau. Hingga pada akhirnya berujung pada sebuah mindset, bahwa menikah itu layak untuk diperjuangkan.

Saya bisa mengatakan kalau titik itu salah satu tipping point saya. Dengan semangat mempersiapkan diri agar layak saat berada di dermaga tujuan kelak, saya pun memulai perjalanan bebenah diri. Saya mulai berkenalan dan berteman dengan buku, meningkatkan kualitas akademik, mengembangkan softskill dengan ikut berbagai organisasi, hingga memperkuat ikatan vertikal dengan banyak meminta untuk diertemukan dengan orang tepat di saat yang tepat.

Saya punya satu pemikiran kala itu bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik, saya harus menjadi sesorang dengan kualitas terbaik.

Be high class for high class

Sebuah motto

Walau selama perjalanan ada ups and downs-nya, qadarullah, saya dipertemukan dengan satu skenario yang saya sendiri hingga sekarang masih amazed dan surprised. Singkatnya saya dipertemukan dengan seseorang bernama Pipit (nah loh, namanya mirip ibunya Haekal. Konspirasi alam semesta?) yang sekarang menjadi istri saya di tahun ketiga kuliah dan Allah pertemukan kami kembali di pelaminan dua bulan sebelum wisuda sarjana.

Menurut saya, efek buku yang paling revolusioner dalam hidup saya ya berasal dari novel ini. Karena it is safe to say, kalau buku ini menjadi trigger awal yang mengantarkan saya pada salah satu keputusan besar yang harus saya ambil dalam hidup saya, yaitu menikah. Di usia muda.

Credit photo

Berikan Komentar

Back to top
%d bloggers like this: