Catatan Hikmah

Menaikkan Standar Keimanan

Pernahkah terbesit dalam pikiran bagaimana contoh ujian keimanannya Ust. Salim A Fillah atau Ust. Adi Hidayat atau Ust. Khalid Basallamah atau ustad-ustad lainnya? Yang saya yakini, beliau-beliau adalah sama-sama manusia seperti layaknya kita. Sehingga, pasti beliau-beliau juga diterpa badai ujian hidup. Tapi mungkin, level ujiannya jauh lebih advance. Karena dalam pandangan saya, beliau-beliau adalah orang-orang yang berkapasitas besar. Sedangkan kadar ujian disesuaikan sama kapasitas orangnya kan?

Berkaca pada hal itu, saya berkesimpulan bahwa setiap orang pasti memiliki jenis dan kadar ujian yang berbeda-beda. Tidak akan pernah bisa disamakan antara satu dengan yang lainnya. Karena lingkungan, basic value, wawasan, pola pikir, serta karakter yang sedikit banyak berperan dalam peningkatan kapasitas dan kadar keimanan seseorang sudah pasti tidak sama.

Tapi, menurut saya, ada satu hal yang bisa dikatakan setiap orang pasti didorong untuk bisa melakukannya, terlepas dari berat atau ringan ujian (dalam kacamata manusia) yang dihadapinya, yaitu,

Menaikkan Standar Keimanan

Setiap orang pasti menginginkan tempat terbaik di akhirat kelak. Siapapun itu, saat ia ditanya bercita-cita ingin masuk syurga mana, hampir bisa dipastikan jawabannya adalah syurga Firdaus. Syurga tertinggi, tempat para Nabi, Rasul, dan orang-orang Shalih berkumpul. Dan memang kita pun dianjurkan untuk meminta syurga Firdaus kapanpun dan dimanapun kita menengadahkan tangan padaNya.

Terlepas dari tingkatan manapun kita pada akhirnya, proses menuju ke sana pastilah tidak mudah. Akan ada banyak ujian yang harus dihadapi di setiap checkpoint-nya. Ujian yang sengaja Allah ciptakan untuk menjadi media penilaian siapa-siapa yang paling baik amalannya. Dengan kata lain, ujian keimanan adalah sebuah keniscayaan. Yang kemudian menjadi pilihan adalah bagaimana kita menyikapinya.

Kita bisa memilih untuk terus berada pada level ujian yang sama dengan terus mengiblatkan diri pada nafsu yang bersemayam dalam diri, atau memilih untuk menapaki ujian yang menghampiri sebagai bentuk usaha mencari rahmat Allah. Tidak ada paksaan, pilihan itu murni ada di tangan masing-masing.

Namun, saat kita memilih untuk menapaki ujian, hal yang mau tidak mau harus diikhtiarkan dengan baik adalah bagaimana caranya agar standar keimanan yang dimiliki setahap demi setahap mampu dinaikkan hingga sampai pada titik tertinggi yang dapat diraih. Karena jika tidak beralih dari standar saat ini menuju standar yang lebih baik, ujian yang dihadapi akan terus selamanya berada di level yang sama. Jika terus berada di level yang sama, maka akan muncul sebuah pertanyaan. Benarkah kita sungguh-sungguh menginginkan tempat terbaik di akhirat kelak?

Menurut pemahaman yang saya miliki, menaikkan standar keimanan artinya menjadikan suatu kondisi yang saat ini masih belum mampu diraih atau masih terasa berat untuk dijadikan aktivitas rutin, menjadi sebuah kebiasaan yang terasa ringan dilakukan sehari-hari. Semisal, jika standar saat ini hanya mampu membuka Quran satu kali dalam satu hari, maka ikhtiar untuk menaikkan standar yang bisa dilakukan adalah bagaimana agar mampu membuka Quran 5 kali sehari di setiap waktu shalat, terlepas dari berapapun ayat yang dibaca, dan menjadikan kondisi itu sebagai standar amalan sehari-hari.

Saat kualitas standar amalan naik, standar keimanan (yang dapat diukur dari kualitas amalan) pun in syaa Allah akan turut naik.

Sebuah Pembuktian dan Pencarian Rahmat Allah

Pada hakikatnya, ikhtiar untuk menaikkan standar keimanan ini adalah sebuah bentuk pembuktian kita atas apa yang kita yakini sendiri: kita beriman pada Allah, kita meyakini adanya pertolongan Allah, kita mengharapkan syurga tertingginya Allah.

Ikhtiar ini dilakukan bukan untuk kemudian nantinya kita tukar dengan tempat terbaik yang ingin kita masuki, melainkan sebagai sebuah proposal yang menunjukkan bahwa kita sedang bersungguh-sungguh ingin membuktikan keimanan dan cintanya kita pada Allah. Karena sejatinya, sampainya kita di syurgaNya kelak bukanlah atas dasar segala macam ikhtiar yang kita lakukan, melainkan karena murni rahmat Allah semata.

Mengejar rahmat Allah tentu tidak bisa dengan hanya berdiam diri, karena rahmatNya diturunkan pada hamba-hamba yang Ia cintai. Dan salah satu ikhtiar untuk menjadi hamba yang Ia cintai adalah dengan terus berikhtiar meningkatkan kualitas iman dengan cara secara istiqomah terus berusaha menaikkan standar keimanan kita saat ini.

Wallahualam.

Featured photo taken from here

Berikan Komentar