http://www.freepik.com
Catatan Hikmah

Memberhentikan Kesibukan

Kalau udah dalam mode merenung-dalam-sepi gini tuh suka muncul semua refleksi-refleksi yang selama ini bersemayam. Refleksi yang sebenernya siap diputar dan didiskusikan ㅡdengan diri sendiriㅡ kapanpun dan dimanapun. Karena pada hakikatnya, refleksi akan selalu muncul setiap kali bertemu dengan pembelajaran, baik itu yang berupa wawasan baru atau kesalahan yang akhirnya menjadi pengalaman berharga. Cuman ya itu, selalu terhalangi oleh tabir bernama excuse. Juga oleh terms & conditions yang di awal di-setting sendiri tapi habis itu di-complain sendiri karena selalu tak terpenuhi. Semacam kampring emang.

Apa yang kita sebut dengan “kesibukan/rutinitas” itu kalau sekali-kali tidak direm dengan sengaja, akan menenggelamkan kita dalam kubangan stagnansi ㅡsebuah pengalaman pribadi.

Eh kalem, kesibukan yang mana dulu nih? Si Aku sibuk tapi grafik pertumbuhan expertise di bidang yang Aku berantemi (geluti-red) masih tetep gradually naik kok.

Ya alhamdulillah kalau gitu. Buat sayah yang terkadang sibuk itu terdefinisikan sebagai rutinitas yang kitu-kitu deui, kesibukan inilah yang seringkali membuat saya lupa akan esensi dari bertumbuh. Bahwa ada hak pikiran yang harus senantiasa dicukupi kebutuhan asupan wawasan dan pembelajaran hariannya agar level diri tidak melulu di level rookie. Bahwa ada juga hak ruh untuk selalu disirami kalimat-kalimat pengingat agar kembali masuk track ketika dirasa mulai melenceng dan kembali tersadarkan ketika pandangan hidup sudah mulai “kabur“.

Dan momen menuliskan-perenungan-dalam-sepi inilah yang ㅡIMOㅡ sebenarnya bisa menjadi salah satu rem yang cukup baik untuk memberhentikan sementara kesibukan-kesibukan yang “melenakan” itu. Karena saat berefleksi, ada sejenak waktu untuk bisa bernafas dan kembali menyirami pikiran dan ruh, kembali merenungi pembelajaran hidup yang didapat di waktu-waktu sebelumnya, baik dengan kembali membaca, kembali mengingat, evaluasi/muhasabah, hingga membuahkan perjanjian tak tertulis dengan diri sendiri untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

Kalau dipikir-pikir, bisa banyak tuh potensi pertumbuhan pribadi yang raib dimakan kesibukan ㅡyang dipagari excuse ya yang dimaksud. Banyak momen-momen pembelajaran yang sebenarnya siap menjadi bahan bakar pertumbuhan diri, namun absen karena lupa untuk direnungi dan dievaluasi.

Memberhentikan kesibukan, dengan sejenak duduk ditemani laptop dan kopi, atau diskusi di taman dengan anak di sore hari, atau hanya sekedar memandang pasangan *NSFW for jombs* (yang membuahkan kalimat syukur dan grateful atas semua aksi baiknya tentunya), sesekali memang harus dilakukan. Agar tidak ada potensi bertumbuh yang terlewat, agar pikiran dan ruh kita senantiasa membaik, dan yang pasti agar kita terus menyadari bahwa betapa Baik dan Sempurnanya Rencana Allah untuk kita selama ini.

Berikan Komentar