Ikhtiar Bangkit dari Keterpurukan

Mungkin di suatu titik, kita pernah merasa ada di satu kondisi (berdasarkan sudut pandang kita sendiri ya pastinya), dimana kita tuh seperti sedang terpuruk seterpuruk-terpuruknya.

Seolah kita sedang meluncur kencang ke titik terbawah hidup. Saking dalamnya posisi kita, kita seperti dihantui oleh rasa gelisah yang tak menentu, oleh pikiran-pikiran yang ujungnya malah membuat aktivitas jadi kontraproduktif, oleh kekhawatiran yang seolah bakal membawa kita pada skenario terburuk.

Kenapa ya hidup tuh jadi kayak gini? Sampe kapan ya gini teh? Kok kayak yang buntu ini persoalan.. Kemana lagi nih harus cari pintu keluar? Burem gini sih ini jalan setapak…

Pikiran-pikiran semacam itu bak playlist yang di-set random and on loop. Keluarnya tidak selalu berurutan, tapi ya muter di situ-situ lagi. Redaksinya juga mungkin beda-beda, tapi nafasnya kurang lebih sama. Berbau gerutu, ketidakberdayaan, rendah diri, blurnya keyakinan, dan semacamnya.

Pernah kayak gitu ga sih? Atau lagi ngalamin?

Well, saat kita merasa sedang mengalami hal-hal semacam di atas, bisa jadi di balik itu semua ada nilai kebaikan yang lagi Ia tanamkan dalam hidup kita. Atau bisa juga itu sebenarnya bentuk manifestasi dari doa-doa kita selama ini. Atau mungkin kita selama ini hubungan kita dengan yang Di Atas udah terlampau renggang, jadinya kita dikasih ‘keterpurukan’ biar kita melek dan jadi semakin mendekat padaNya.

Manusia kan kadang harus disentil duru baru dia kebuka matanya. #ntms

Regardless, intinya sama: Allah lagi menyutradarai skenario terbaik rancanganNya. Kita hanya perlu memastikan apa-apa yang diikhtiarkan selama menjalani skenarioNya ini selalu terkoneksi denganNya.


Membangun Mindset

Nah, mungkin bentuk ikhtiar awalnya, bisa dengan cara mencoba mendamaikan diri dengan repeatedly berbisik ke dalam hati:

Oke, harus yakin, ini pasti ujian yang in syaa Allah akan mendatangkan kebaikan, bukan masalah yang akan menjatuhkan. Bersama kesulitan kan ada kemudahan. Sabar… Allah Maha Bijaksana. Laa haula wa laa quwwata illaa billah..

atau bisikan positif lain semacamnya

Dengan harap, pengulangan-pengulangan itu nantinya berubah jadi sebuah mindset, bahwa ujian adalah kebaikan. Bahwa ujian yang dirancang Allah ini sudah satu paket dengan solusinya. Pengondisian mindset ini menjadi penting, soalnya mindset yang akan menjadi proton-neutron-nya aksi-aksi yang mendasari proses ikhtiar. Mindset juga yang bakal jadi pendongkrak motivasi yang juga akan menjaga kontinuitas ikhtiar.

Cukup kah dengan berpikir positif doank?

Bisa jadi. Namun bisa juga belum cukup. Karena masih di tataran pikiran, maka, jika pemahaman dan kemampuan untuk mengerti permasalahan yang sedang dihadapi tidak terus di-update, lama-lama energi yang dikeluarkan bisa saja tergerus faktor eksternal.

Untuk itu, asupan pikiran pun perlu diperhatikan. Ilmu yang bersifat duniawi, atau nasihat yang bersifat ukhrawi harus senantiasa disiramkan setiap hari. Karena bisa jadi kegelisahan yang dirasakan bersumber dari kurangnya pengetahuan. Terutama pengetahuan yang meningkatkan keyakinan dan mendatangkan ketenangan.

Terus memperhatikan asupan pikiran juga dapat menjaga atau bahkan memperbaharui mindset yang dimiliki ke arah yang lebih baik, karena pandangan yang diadopsi menjadi asupan pikiran akan memengaruhi cara kita memandang ujian di depan kita.

Perkuat Koneksi Vertikal

Mungkin kita pernah mendengar atau teringatkan pada KalamuLlah yang menjelaskan bahwa siapa-siapa saja yang berikhtiar meningkatkan kadar taqwa di hadapanNya, Dia menjanjikan akan membukakan jalan keluar untuk setiap masalah yang dihadapi.

Bahwa bentuk ikhtiar pertama sebelum melakukan penyelesaian masalah secara duniawi adalah dengan memperkuat koneksi vertikal. Merendahkan diri di hadapanNya, lalu meminta agar ujian yang sedang dihadapi ditunjukkan jalan keluarnya.

Kenapa harus perkuat koneksi vertikal dulu?

Karena, siapa kita? Sebegitu yakinkah kita bisa menyelesaikan permasalahan dengan usaha sendiri? Padahal daya prediksi terbatas, ilmu terbatas, kemampuan terbatas, jangkauan helicopter view pun terbatas. Sedangkan Ia, Yang Maha Kuasa, yang dimana kalau Ia berkehendak, solusi bisa hadir seketika dari arah mana saja.

Dengan terus berikhtiar memperkuat koneksi kita dengan Sang Maha Kuasa, in syaa Allah, lambat laun akan menaikkan kadar taqwa. Dan titik inilah yang harus kita kejar. Titik kepastian yang probability-nya 100%, karena Allah tidak pernah mengingkari janjiNya. So, saat Ia menjanjikan akan mengadakan jalan keluar bagi siapa aja yang bertaqwa, He absolutely means it.

Gimana caranya perkuat koneksi?

Dengan cara meningkatkan kualitas amalan wajib, memperbanyak amalan sunnah, memperbanyak sedekah, dan yang penting membawa hajat yang ingin diminta ke sepertiga malam terakhir.

Mensyukuri yang Ada

Ada satu hal yang sering luput dari radar kita, yaitu bersyukur dengan apa yang ada di sekeliling kita. Pasti ada saja yang luput jika kita mau merendahkan hati untuk membuka mata dan melihat apa yang ada di kanan-kiri kita.

Mungkin selama ini di mataNya, kita belum mensyukuri penuh apa yang kita punya dan segala yang telah Ia titipkan. Kita terus saja sibuk memikirkan dan meminta apa yang belum kita punya, sedangkan apa yang Ia berikan belum sepenuhnya kita syukuri. Ia mungkin hanya khawatir, saat Ia memberikan apa yang kita pinta, kita malah meminta lagi hal lain dan melupakan apa yang sudah Ia beri.

Sudahkah kita mensyukuri bahwa begitu menenangkan hati ada pasangan di sisi? Bahwa menggembirakan ada anak di samping? Bahwa melegakan ada motor yang setia mengantar? Bahwa sampai saat ini masih bisa makan? Bahwa ada orang-orang baik yang selalu siap menolong?

Saat jalan yang kita harapkan itu belum nampak, mungkin bukan Ia tak mau menunjukkannya. Bisa jadi, Ia hanya ingin memastikan terlebih dahulu, bahwa kebiasaan bersyukur sudah menjadi bagian dari keseharian kita.

Menambah Kapasitas Diri

Ada juga hal lain yang mungkin ingin Ia lihat: kesiapan kapasitas kita dalam menerima konsekuensi dari jalan keluar yang kita pinta.

Bisa saja di mataNya, kapasitas diri kita untuk menerima konsekuensi itu masih belum cukup, karena -misal- persiapan yang kita ikhtiarkan masih minim atau belum begitu greget. Alih-alih mendatangkan maslahat, mungkin Ia menilai apa yang kita pinta justru malah akan mendatangkan mudharat, jika memang kapasitas diri yang kita siapkan belum dinilai memadai di mataNya.

Menangisi Dosa

Poin terpenting dari semua ikhtiar untuk bangkit dari keterpurukan adalah ikhtiar untuk memohon ampun atas segala dosa yang kita perbuat.

Sudah merupakan suatu kepastian Allah akan menjawab doa hamba-hambaNya, walau tidak selalu memberikan exactly sesuai dengan apa yang hambaNya minta. Bisa saja Ia menjawab dengan memberikan dalam bentuk lain yang nilai kebaikannya lebih baik dari yang kita minta. Atau Ia menangguhkan untuk Ia berikan nanti saat kita lolos hisab dan tinggal di dalam syurga.

Semua ikhtiar untuk meminta jalan keluar akan menjadi sirna ketika kita sendiri tidak berusaha meminta ampun atas segala dosa kita. Karena dosa bersifat menutup, menutup pintu hati dan kebaikan hidup. Jika dosa masih hadir, maka jawaban atas segala yang kita pinta yang telah Allah turunkan dapat mental kembali.

Haruskah nangis saat minta ampun?

Memohon ampunan tidak bisa serta merta hanya terucap di lisan, namun juga harus diejawantahkan dalam bentuk tangisan. Air mata yang menetes merupakan bentuk penyesalan terdalam. Menangisi dosa berarti menyesali dengan sebenar-benar sesal atas kelalaian dan kekhilafan kita dalam melakukan maksiat, baik itu sengaja ataupun tidak.

Saat kita mengeluarkan air mata penyesalan, akankah Allah menghiraukan setiap tetes air mata yang membasahi pipi kita?

Saking pentingnya menangis saat meminta, bahkan Baginda SAW pun meminta kita berpura-pura. Jika memang belum terbiasa menangisi dosa, atau mungkin hati kita sudah terlalu keras untuk menangisi dosa, maka tak apa untuk berpura-pura menangis.


Kembali ke dasar, bahwa sejatinya, ujian (yang di mata kita dapat berubah makna menjadi keterpurukan) itu merupakan caraNya menghujani kita dengan kebaikan.

Pertanyaannya, maukah kita berikhtiar untuk bangkit dari apa yang kita sebut dengan keterpurukan tadi?

Wallahu’alam.

Featured photo courtesy

Berikan Komentar

Back to top
%d bloggers like this: