Us Time

Kunci dalam merawat cinta, salah satunya adalah mencari momen-momen “us time” yang sederhana

― Pak Wali

Sekitar satu pekan lalu, salah seorang kawan lab mengundang saya untuk menghadiri pesta ulang tahun anaknya yang pertama. Pestanya dilangsungkan di sebuah restoran yang letaknya cukup jauh dari rumah. Perjalanan dengan menggunakan kombinasi subway-taksi saja membutuhkan sekitar satu setengah jam.

Sebenarnya sudah dari lama punya keinginan berkunjung ke rumah kawan yang satu ini. Dari sejak Daehan belum lahir bahkan. Lebih tepatnya ingin bertemu Kang-Hi, anaknya yang selalu tersenyum lebar setiap kali bertemu kami. Namun, niat itu baru bisa terlaksana kali ini. Makanya, kami pikir ini waktu yang pas untuk bertemu Kang-Hi. Sekalian memperkenalkan Kang-Hi dengan Daehan.

Momen berharga ini kami manfaatkan juga untuk “us time“. Jarang-jarang kami bertemu dengan momen dimana kami bisa menikmati waktu bersama. Ini juga kesempatan bagus buat Daehan untuk melihat dunia luar. Here we go! Saatnya jalan-jalan!

Sabtu menjelang tengah hari kami semua baru saja membuka mata. Pekerjaan Daehan yang membuat kami baru bisa memejamkan mata jam 7 pagi. Semalam kerjaannya kalau tak mimi dan minta digendong, ya main. Kalaupun tidur, tidurnya hanya bertahan 20-30 menit. Setelah itu merengek minta mimi atau digendong. Rekor sejauh ini Daehan harus membuat kami terjaga hingga jam 7 pagi. Untungnya kami masih sempat melakukan shift-shift-an jaga malam.

Singkat cerita kami bergegas mandi karena waktu sudah menunjukkan pukul 11. Pesta ulang tahun dimulai pukul 12.30. Estimasi kami, agar tidak terlalu telat sampai sana, maka pukul 11.30 kami harus sudah beranjak dari rumah. Ah, iya. Sebelumnya, Daehan kami mandikan terlebih dahulu.

Di tengah persiapan, suara dering telepon istri berbunyi. Ternyata profesornya mengundang kami untuk makan siang bersama. Karena kami pikir memenuhi undangan profesor lebih harus didahulukan walau mendadak, akhirnya kami memutuskan untuk memenuhi undangan beliau terlebih dahulu. Pukul 12.30 barulah kami berangkat ke pesta. Akan sangat telat kami rasa, tapi semoga pestanya belum usai. Oke, saatnya bergegas!

"Halo? Bisa bicara dengan Ayah?
“Halo? Bisa bicara dengan Ayah?

Sholehnya Daehan membuat kami sedikit menghembuskan nafas panjang. Sepanjang perjalanan ia bobo ganteng tanpa sedikitpun tangisan keluar. Padahal sebelumnya kami sudah was-was. Pasalnya ini pengalaman pertama kami membawa Daehan keluar untuk jangka waktu lama dan jarak yang jauh pula. Khawatir ia tiba-tiba rudet hingga membuat kami salah tingkah. Tapi Alhamdulillah, semua berseberangan dengan apa yang kami pikirkan sebelumnya. Daehan hanya terbangun sebentar saat transit subway dan sedikit merengek minta mimi beberapa saat sebelum kami sampai ke tempat pesta.

Jam 2 kami sampai di tempat pesta. Dan benar, pesta telah usai. Untungnya, Kang-Hi masih belum pulang. Masih sempat memberi kado langsung dan sedikit cuap-cuap dengan kedua orang tuanya. Kami pun dipersilakan mengambil hidangan yang masih tersisa. Tak banyak yang kami ambil karena hidangan didominasi oleh daging. Hanya udang, jamur dan beberapa sayuran serta buah-buahan yang kami santap.

The Birthday Party
The Birthday Party

Tak lama kemudian, kami pun berpamitan.

Melihat jam, sepertinya masih siang. Kami memutuskan untuk jalan-jalan sejenak sebelum kami pulang. Satu tempat yang langsung terlintas dalam pikiran kami saat itu: Banwoldang. Karena kami akan melewatinya saat perjalanan pulang, maka tak ada salahnya kami mampir sebentar ke Downtown sebentar buat ngeteh.

It is time for “us time”!

Sesampainya di sana, kami pun lalu saling bertatapan.

Mau kemana sekarang?

Eeaa. Terserah sok mau kemana juga. Aku ngikut.

Ngga. Aku yang ngikut. Sami’na wa atha’na.

Setelah ‘beradu mulut’ sebentar, mata kami tetiba tertuju pada satu cafe bernama Chocobing yang di depannya dipampang bingsu. Bingsu, di summer seperti ini memang bertebaran di mana-mana. Penyegar khas summer, kombinasi red bean dan berbagai macam rasa ice cream. Dan kami sepakat untuk melepas dahaga sejenak di sana.

Menu yang kami pilih adalah menu kebangsaan: Green Tea. Satu Green Tea Bingsu dan Nutella Toast menjadi pesanan kami. Melihat display di cafenya cukup menarik. Jadinya tertarik untuk beli.

Enak pisan, sumpah!
Enak pisan, sumpah!

Setelah kami cicip, ternyata enak banget, sumpah! Sejauh ini, ini green tea terenak yang pernah kami cicip. Saya dan istri sepakat dengan hal ini. Rasa green tea nya benar-benar terasa. Rasanya seperti green tea latte yang dibuat sedikit padat. Paduan green tea ice, red bean, dan susu kental manis membuat lidah kami tak mampu berhenti mencicipinya. Seolah ia melambaikan tangan, menggoda kami untuk terus memakannya. Nutella toast-nya juga tak kalah lezatnya. Kerenyahan roti dan komposisi nutella serta cream nya yang pas hanya mampu kami komentari:

Ini serius seenak ini?

Ini Chocobing harus kami pinpont kami pikir. Kapan-kapan kami harus kembali mampir kesini untuk merasakan kelezatan menu lain. Menu yang kami pesan dan santap di siang terik itu menjadi teman yang pas dalam menemani bincang siang dan ngedate berdua kami. Lupa ada Daehan, Maksudnya us time bertiga kami.

Ah, kembali ke Daehan.

FullSizeRender_4
*senyum*

Memang dasar Daehan bisa diajak cooperative, ia tahu kapan dan dimana ia harus bangun. Sepanjang perjalanan sebelum kemari, ia tertidur pulas. Sesampainya di sini ia langsung terbangun dan tertawa. Sesekali ia mengajak kami berbicara. Setiap kali kami berbincang berdua, ia langsung bersuara. Seolah meminta untuk diikutsertakan dalam perbincangan kami. Dan setiap kami coba ajak bicara, ia langsung tertawa. Tawanya yang menarik kedua pipinya hingga limit menuju tumpah membuat kami tak berhenti tersenyum melihatnya.

Duh. Cuanet sih kamu Daehan

Sekitar satu jam setengah kami disana. Menikmati Green Tea Bingsu dan Nutella Toast, ngedate asik berdua, dan tertawa ria bersama Daehan, cukup menjadi mood booster kami di hari itu.

Singkat, namun bagi kami sangat berharga. Benar kata Pak Wali, momen-momen sederhana seperti ini bisa menarik umpan-umpan cinta yang mungkin selama ini tersembunyi di balik kabut rutinitas.

Can’t wait for next ‘us time’!

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: