Ujian Kesabaran

Sebenernya udah lama ingin nulis ini, tapi baru menyempatkan diri menuangkannya sekarang.

Oke. This is all about what I got from a moment when Daehan was in the hospital a couple of days ago. Mungkin tulisannya agak berbau curhat, tapi semoga ada hikmah yang dapat diserap. Karena sejujurnya, masa-masa ‘tak menyenangkan’ selama 10 hari di rumah sakit kemarin cukup memberikan banyak perenungan buat keluarga kami, khususnya buat saya pribadi.

Sebelumnya, izinkan saya sedikit memberikan prolog.

Di hari itu, hari dimana pertama kali Daehan harus dilarikan dan mendekam di rumah sakit, sungguh menjadi hari yang sangat-sangat unforgettable buat kami. Serius. Buat saya pribadi, saya masih merekam jelas momen-momen yang terjadi di pagi itu. Panik, khawatir, sedih, campur jadi satu. Padahal, pada mulanya, pagi itu buat kami adalah pagi yang sama ‘seperti biasanya’. Bangun tidur, aktivitas pasca shubuh, beberes, persiapan orinijib Daehan, bebersih diri, sarapan, dan…. yap tak ada yang spesial. Semua mengalir seperti rutinitas biasanya.

Satu hal yang mungkin jadi remark, pagi itu Daehan bangun lebih awal. Gak jarang sih memang dia bangun lebih awal. Tapi biasanya dia bangun sekitar jam 8 pagi. Dia sempet main beberapa saat setelah bangun sampe menjelang berangkat ke orinijib. Karena kebiasaan Daehan kalo ia bangun lebih awal ia bakal ngantuk lagi di waktu-waktu menjelang berangkat, ya di hari itu pun ia merepetisi kebiasaannya. Setelah diseka, diganti bajunya, Daehan pun kelihatan mengantuk. Saya coba gendong, eh dia pun tidur.

Dan di sini semua kepanikan bermula.

Bisa dibayangkan, di tengah lelapnya ia tidur dalam dekapan saya, tiba-tiba matanya kebuka lebar. Suaranya menggeram. Tangannya lalu bersilang ke depan dadanya, kaku, keras, dan bertenaga. Saya coba panggil dia,

Dehan? Dehan kenapa Dehan?

Tak ada respon sedikitpun. Matanya masih fokus ke satu titik. Geramannya sedikit mengeras. Wallahi, saya bener-bener panik. Saya coba deketin istri yang lagi siap-siap mau berangkat.

Ay, ini Dehan kenapa ay?! Dehan ini Appa nak..

Dehan.. Dehan.. Dehan kenapa sayang? Ini Eomma.. Daehan mau sama Eomma?

Istri yang tadinya biasa pun keliatan panik. Ia langsung ambil Daehan. Ia coba terus panggil Daehan. Tapi Daehan, matanya masih aja terpaku ke satu titik. Ia gak seresponsif biasa. Air mata istri mulai menetes. Sambil mendekap Daehan, istri masih terus coba mengajak interaksi Daehan. Tapi, nihil. Daehan masih gak merespon. Malah dari mulutnya tiba-tiba keluar busa. Sontak kami kaget. Tangisan istri semakin menjadi.

Allahu akbar! Daehan kenapa Daehan?!

Jujur, di saat itu, pikiran saya melayang kemana-mana. Lihat Daehan kayak gitu, jadi ingat detik-detik terakhir Ayah. Waktu itu, beneran saya bergulat dengan pikiran sendiri, mencurahkan semua tenaga buat terus ber-husnuzhan. Berharapㅡnaudzubillah, jangan dulu ya Allahㅡhari itu bukan hari terakhir Daehan.

Astaghfirullah.. Hamba mohon Ya Allah, jangan dulu ambil Daehan sekarang

Entah kenapa, pikiran saya terus berputar-putar di situ. Dan yang muncul di dalam pikiran waktu itu cuman itu. Mungkin momen-momen terakhir Ayah yang masih terekam, seketika berubah jadi trauma yang benar-benarㅡpersonally from the deep of my heartㅡ gak mau terulang lagi. Pasalnya, saya melihat kondisi Daehan, yang di mata saya, seperti antara hidup dan mati. Walau nanti finally revealed kalo itu ‘hanyalah’ kejang akibat panas yang tinggi. Tapi karena kami belum pernah berpengalaman dengan itu sebelumnya, pun di keluarga besar kami juga, kejadian seperti itu cukup menyeramkan buat kami.

Sedikit melanjutkan.

Tanpa pikir panjang, saya coba telepon taksi, kami langsung bergegas menuju rumah sakit. Berharap, kami masih bisa melakukan ikhtiar terbaik kami. Selama di taksi, Daehan sudah terlihat agak tenang. Walau dia masih sedikit kelihatan menggeram, kondisinya sudah terlihat stabil. Wajahnya nampak kelelahan. Bersandar lemas dalam pangkuan istri yang sedari rumah gak berhenti menangis.

Di rumah sakit, sebakda chit-chat sama dokternya, kami direkomendasikan untuk rawat inap di rumah sakit, mengingat kondisi Daehan yang ternyata selain bronkiolitis-nya sedikit memburuk, dia juga terserang demam yang saat itu belum diketahui penyebabnya. Karena kita khawatir kejadian di rumah terulang kembali, kami mengiyakan tawaran dokter. Di mulai dari hari itu, Daehan diinapkan di rumah sakit hingga nanti dokter membolehkannya pulang.

Selama di rumah sakit ini, kami merasa bahwa hari-hari yang kami lewati penuh dengan ujian kesabaran buat kami. Sebagai orang tua, juga tentu sebagai hambaNya. Dimana kami benar-benar diuji hingga limit atas kesabaran kami. Kami dihadapkan pada keraguan, kekhawatiran, dan kegelisahan yang masing-masing mungkin sudah berada di limit menuju titik ledak. However, masa-masa di rumah sakit itu, buat saya pribadi, adalah masa-masa terdekat saya denganNya. Mungkin tipikal manusia ya. Saat diuji, kedekatan denganNya semakin tak berjarak. Tapi itu lebih baik dari tidak sama sekali kan? Selintas dari sana saya berpikir, mungkin ini bentuk ‘tamparan’ Allah buat saya. Mungkin atas segala ‘kerenggangan’ saya selama ini.

Setelah kejadian yang cukup membuat sesak di rumah waktu itu, ternyata bersambung dengan ujian-ujian lain di rumah sakit.

Saat Daehan harus diinfus, pembuluh darah yang kecil dan tak tampak milik Daehan membuat dia harus merasakan tusukan jarum beberapa kali. Di lengan kiri gak dapet, pindah ke lengan kanan. Di lengan kanan ga dapat, pindah ke kaki kanan. Di kaki kanan ga dapet juga, pindah ke kaki kiri. Dapet di lengan, ternyata swelling. Pindah lagi ke tempat lain. Terus, sampe saya lihat tangan dan kakinya berwarna biru keungunan. Dan bukan cuman di satu tempat, tapi di banyak tempat! Bayi seusia 8 bulan yang masih belum bisa berteriak “sakit!” atau “tolong Daehan Appa!” hanya bisa mengekspresikan semuanya dengan menangis. Menangis meronta hingga suaranya dan air matanya gak ada lagi. Coba minta istirahat sama susternya, katanya harus sesegera mungkin diinfus buat mencegah kejangnya terulang lagi. Minta tolong biar dokternya aja yang ambil darah, dokternya lagi ga di tempat. All you can do just pretending to be strong and keep praying while you are seeing your baby is endlessly crying. Can you imagine that?

Saat itu kesabaran bener-bener di ujung tanduk. Serasa ingin berganti posisi jadi saya aja yang diambil darah. Serasa ingin nendang pintu terus bilang “mana sih ini dokternya?!“. Serasa ingin protes sama Allah “ya Allah kenapa Daehan harus punya pembuluh darah kecil?“. Serasa ingin segera keluar dari situasi itu pokoknya, no matter what. Sakit, bener-bener sakit lihat Daehan kayak gitu waktu itu. Bahkan saking sakit dan ga teganya, istri lebih memilih di luar ruangan.

Dalam kesempatan lain, kami dihadapkan pada situasi dimana kami harus tega melihat Daehan dibius. Melihat dia yang awalnya menangis, lalu lambat laut mulai tak bersuara, kemudian pandangannya menjadi kosong tak berdaya itu beneran gimana gitu. Hari demi hari harus menyaksikan Daehan yang bahkan untuk menopang kepalanya buat tegak aja sulit. Harus meminumkan sesuatu yang ia gak suka tiga kali sehari. Harus terus terjaga di malam hari untuk terus memantau kondisi Daehan karena kadang sewaktu-waktu panasnya bisa tiba-tiba naik. Kalo tidak ditangani segera, kejangnya bisa kembali.

Buat yang sudah punya anak, pasti merasakan sakit yang gak bisa didefinisikan sewaktu melihat anak terbaring lemas. Gak ada sakit yang lebih sakit selain melihat anak sakit, menurut saya. Ikatan batin yang mungkin tanpa disadari terjalin sangat kuat antara orang tua dan anak menjadikan rasa kebermilikan orang tua terhadap anak bisa menjadi sangat sangat besar. Persis seperti Ali Imran 14, bahwa anak adalah salah satu yang dijadikan ‘indah’ di mata manusia. Apalagi di mata orang tua. Mungkin rasa kebermilikan ini yang terkadang mendominasi akal dan keyakinan para orang tua, menjadikan seolah anak adalah ‘kepemilikan penuh’ orang tuanya. Padahal sejatinya anak tak lebih dari titipan yang hanya Ia yang punya hak penuh terhadapnya.

Tapi terkadang, di situasi ‘tak menyenangkan’ kayak di atas, pemahaman ‘anak adalah titipan‘ yang mungkin dalam kondisi normal diyakini dengan baik, seolah tiba-tiba unconsciously blurred. Semua digantikan oleh ‘kenapa sih begini, kenapa harus begitu‘. Protes-protes yang didasari oleh keyakinan semu bertajuk ‘keakuan‘ pun muncul beriringan. Tapi setelah dicoba direnungkan sejenak, di sini lah memang justru letak ujiannya. Di titik di mana orang tua dihadapkan pada kekhawatiran dan kesabaran yang memuncak, mereka harus tetap berjuang menekan egonya, menahan luapan emosinya, dan mengedepankan keyakinan padaNya. Karena di titik ini, mungkin yang ingin Allah lihat hanya satu: kerberserahan diri dan kebergantungan para orang tua hanya padaNya. Bagaimana di situasi sesulit, sesesak, dan setakmenyenangkan itu, orang tua bisa sejenak memejamkan mata, menarik nafas, mencoba berserah diri, dan meminta pertolongan hanya kepadaNya. Karenaㅡberdasar apa yang saya alamiㅡmelawan semua lintasan suuzhan dan luapan emosi lalu kemudian bersungguh-sungguh meminta, membangun ulang keyakinan, dan berserah sepenuhnya dalam situasi seperti itu sangatlah sulit.

Pengalaman selama di rumah sakit juga mengantarkan saya pada sebuah perenungan, bahwa bisa jadi suliltnya seseorang dalam meng-overcome kondisi hati dan pikirannya dalam situasi-situasi ‘tak menyenangkan’ itu disebabkan ia dalam kesehariannya terlalu sering membiarkan hatinya kosong. Kosong akan nilai-nilai spiritual. Membiarkan kebiasaan-kebiasaan berbau laghwu (tak mendatangkan manfaat) terus membiasa, hingga akhirnya tanpa disadari gerhana hati pun terjadi. Dimana ‘cahaya’ dalam hati yang sejatinya berfungsi sebagai balancer dalam situasi-situasi ‘tak menyenangkan’ tadi tertutup oleh noda-noda laghwu yang sadar tidak sadar telah lama tertumpuk. Sehingga saat bertemu situasi ‘tak menyenangkan’, kondisi awal dia sedang dalam kondisi tidak siap karena di dalam hatinya, cahaya bahkan tidak mengimbangi nodanya. *Duh maap kalo rada retoris. Semoga nangkep.

Akhirnya saya berkesimpulan, waktu terbaik mendekat kepadaNya, bukan pada saat ujian itu sudah datang. Tapi bukan berarti juga saat ujian datang, sudah takada kesempatan lagi buat mendekat kepadaNya. Karena hakikatnya, ujian hadir buat melihat seberapa ingat manusia dengan Rabbnya. Baru mendekat padaNya saat ujian datang juga tidak berarti buruk. Karena menurut saya, itu sudah jauh lebih baik daripada melupakanNya sama sekali.

Tapi memang, memupuk kedekatan denganNya di kala lapang itu udah paling baik. Karena dengan memupuk kedekatan di kala lapang, in syaa Allah akan melapangkan kita di kala sempit. Memupuk kedekatan di kala lapang juga sedikit demi sedikit akan menjadikan cahaya lebih mendominasi hati dari noda-noda yang mungkin sudah lebih awal menempel di sana. Sehingga akhirnya, setiap kali bertemu situasi ‘tak menyenangkan’ dimanapun dan kapanpun, kondisi awal kita sudah lebih ‘siap‘. Dan lintasan suuzhan, luapan emosi, serta protes-protes berlebihan yang sebenarnya tidak perlu juga tidak akan memaksa hadir.

Satu kalimat nasihat yang saya ingat dari Ibn Qayim Al-Jauziyah:

When a person spends his entire day with no concern but Allah alone, Allah will take care of all his needs and take care of all that is worrying him

So, ujian kesabaran memang akan selalu hadir. Seseorang akan selalu diuji dengan hal yang sedang ia geluti atau ia senang di dalamnya. Seorang ayah dan ibu akan diuji dengan anaknya, seorang pemimpin akan diuji dengan posisinya, seorang karyawan akan diuji dengan pekerjaannya, dan seorang hamba akan diuji dengan sesuatu yang membuatnya jauh dari kehambaannya.

Tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain memupuk kedekatan denganNya sedari sekarang. Agar saat ujian kesabaran datang, initial condition kita dalam keadaan baik. Dan dengan kemurahan hatiNya, insyaa Allah, Allah pun akan menutup setiap kekhawatiran yang muncul dan  luapan emosi yang mungkin akan banyak mendominasi. Berharap, Allah akan memberikan kemudahan dalam melewati setiap ujian kesabaran.

Karena pada akhirnya, kita hanyalah makhluk lemah tak berdaya, tanpa pertolonganNya. Jika tidak menggantungkan diri padaNya, pada siapa lagi kita akan meminta pertolongan?

Allahumma yassir walaa tu’assir

4 comments: On Ujian Kesabaran

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: