Trimester Ketiga

Sudah memasuki bulan ketujuh si kecil yang kini sedang bersemayam di rahim istri. Hari sabtu ini, si kecil berusia sekitar 27 minggu. Perjalanan demi perjalanan kehamilan tak terasa sudah banyak terlewati, bertransformasi menjadi serpihan-serpihan cerita yang terekam dan pasti akan dikenang di kemudian hari. Mungkin akan kembali hadir menjadi salah satu topik perbincangan bertajuk nostalgia. Di saat-saat menghabiskan waktu bersama, di saat-saat bercengkrama dengan si kecil yang nanti sudah mendewasa.

Ada tema tertaut di masing-masing trisemester kehamilan. Ada tema umum, tema yang secara statistik dirasakan sama oleh kebanyakan orang yang melewatinya. Pun kami juga, terlebih istri, merasakannya. Namun teruntuk kami, kami memiliki tema khusus di masing-masing trisemester, terutama di dua trisemester sebelumnya. Tema, yang bagi kami, sangat-sangat memberikan banyak pembelajaran dan hikmah hidup, di samping memori-memori yang akan selalu kami kenang. Dua trisemester yang menjadi saksi perjuangan dalam mengantarkan si kecil menghirup udara dunia dalam beberapa waktu ke depan. In syaa Allah.

Tema umum di trisemeseter pertama adalah morning sickness. Masa-masa di mana sang Bunda sangat sulit berdamai dengan kondisi tubuhnya. Hal yang paling sering dirasakan, dalam pengamatan saya, adalah kondisi mual di setiap awal hari. Membuat indera penciuman dan perasa sang Bunda sedikit lebih sensitif dari biasanya. Berakibat nafsu makan sang Bunda melemah. Selain itu, juga aktivitas sang Bunda menjadi sedikit lebih terhambat dari biasanya. Sebagaimana para Bunda di luar sana merasakannya, pun demikian dengan istri. Morning sickness adalah ladang kesabaran, tak hanya bagi istri, namun juga bagi saya, yang kala itu membuat saya tak bisa berbuat apa-apa karena jarak yang memisahkan.

Jarak menjadi watermark bagi tema khusus kami di trisemester pertama. Semacam satu istilah dengan Long Distant Relationship, atau orang di luar sana lebih sering mengistilahkannya LDR. Dapat dibayangkan, di saat morning sickness tak terelakkan, jarak antar kami tak dapat kami satukan. Suatu kondisi sulit yang kami alami kala itu. Istri tak dapat meminta haknya untuk ditemani. Saya tak mampu menunaikan kewajiban saya untuk selalu mendampingi. Di masa-masa sulit itu, kami benar-benar berjuang dengan cara kami masing-masing. Mencoba memberi yang terbaik dari apa yang kami dapat berikan bagi kebaikan kami berdua.

Mungkin orang di luar sana menilai saya tak berlemah lembut pada istri saat harus meninggalkan istri di masa sulitnya. Jangankan orang di luar sana, saya sendiri terkadang merasa kesal saat saya tak dapat melakukan apa yang seharusnya saya lakukan pada istri saya di masa-masa sulitnya. Rasa sedih juga beberapa waktu hadir saat saya hanya bisa memastikan kondisi istri dari jarak jauh. Saat ia sedang sakit misal. Di saat seharusnya saya berada di sampingnya, yang bisa saya lakukan hanya memandangi layar smartphone untuk memastikan kondisi istri baik-baik saja. Bagi lelaki, kondisi ini sungguh menyita pikiran. Sungguh kondisi yang sulit. Membuat diri ini merasa tak berguna.

Di balik semua kondisi itu, tentu sebenarnya terdapat banyak pembelajaran yang dapat kami ambil. Dan kami merasa, memang sangat banyak hal yang dapat kami pelajari. Mungkin Allah ingin menamai tema khusus dari trisemester pertama kami dengan tema kesabaran. Jika kami coba toleh jejak kisah trisemester pertama kami ke belakang, kami melihat banyak ladang kesabaran yang beberapa bagian darinya telah kami panen, namun beberapa bagian lagi masih berbentuk semaian.

Satu hal yang ingin saya utarakan dari kisah trisemester pertama kami adalah bahwa sungguh saya sangat terkagum dengan kegigihan istri. Atas kesabarannya dalam menghadapi morning sickness seorang diri, atas perjuangannya bertahan dengan segudang aktivitas lab nya di tengah-tengah masa sulitnya. Ia jalani seorang diri, tanpa kehadiran saya di sisinya. Mungkin tidak berlebihan jika saya menyebut dirinya wanita tangguh.

Tema umum di trisemeseter kedua adalah babymoon. Orang-orang menyebutnya honeymoon kedua. Honeymoon di saat kondisi istri sudah masuk masa stabil dan sebelum masuk masa sulit sebelum persalinan. Di masa ini, pada umumnya morning sickness sudah tak muncul lagi, membuat sang istri lebih mudah untuk dibawa bepergian kemanapun ia mau. Masa yang paling tepat untuk menghabiskan waktu berdua sebagai pasangan, mengenang masa-masa indah saat masih berdua. Karena setelah si kecil lahir, kehidupan akan menjadi jauh berbeda dari sebelumnya. Itu kata mereka yang sudah merasakan. Oleh karenanya, masa trisemester kedua ini adalah masa terbaik untuk menjadikan setiap harinya adalah quality time bagi kedua pasangan. Dapat diisi dengan mengunjungi tempat menarik atau tempat penuh kenangan. Dapat juga diisi dengan menghabiskan waktu dengan makan malam bersama, menonton bioskop bersama, atau hal lain yang dapat dilakukan bersama.

Seperti halnya saat trisemester pertama, pada trisemester kedua juga kami memiliki tema khusus. Mungkin hanya teruntuk kami. Dan lab adalah watermark bagi tema khusus kami di trisemester kedua. Bagaimana tidak, lab yang terkoneksi dengan company membuat liburan sama sekali tak memiliki arti. Di saat yang lain menikmati liburan panjang, kami harus menyiapkan raga kami untuk beraktivitas di lab setiap harinya. Hanya beberapa kali kami menemui libur yang rentangnya cukup lama. Selebihnya kami lewati hari-hari kami di lab. Istri yang tergabung dengan lab yang memiliki interkoneksi dengan research foundation membuat liburannya terisi dengan eksperimen. Pun demikian dengan saya. Sehingga, membuat kami tak dapat mengoptimalkan babymoon sepenuhnya. Kondisi seperti ini membuat kami bersepakat untuk menjadikan saat-saat tak terikat dengan lab adalah quality time kami berdua. Di weekend atau sepulang beraktivitas di malam hari , misalnya.

Saat melihat pasangan yang dapat mengoptimalkan babymoon nya dengan baik, terkadang kami merasa sedih. Namun kami yakin, pasti ada sesuatu yang harus kami pelajari di balik ini. Untuk kehidupan kami yang lebih baik di masa depan. Untuk kebahagiaan si kecil saat ia lahir nanti.

Selain itu, beberapa hal mewarnai trisemester pertama kami. Kami menemui berbagai kondisi yang benar-benar menguji keimanan kami. Kami berada di ambang batas keyakinan. Satu sisi mau tak mau pasrah karena merasa buntu, sisi lain harus yakin atas apa yang belum tentu terjadi. Kondisi yang benar-benar membuat kami menghela nafas panjang. Namun, setelah kami jalani, kami menemukan kondisi yang tak pernah kami duga sebelumnya. Tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Sama sekali tidak masuk dalam skenario buatan kami. Di situ kami merasa, bahwa keimanan kami benar-benar diuji.

Mungkin Allah ingin menamai tema khusus pada trisemester kedua kami dengan tema keyakinan. Allah ingin kembali mengingatkan bahwa jangan sampai kami berputus asa atas rahmat Allah. Menyerahkan dan mengembalikan semua padaNya bukan lagi sebuah opsi. Kini sudah menjadi sebuah keharusan, karena hanya pertolonganNya lah yang layak dipinta. Menyalahkan keadaan juga bukan hal yang patut dilakukan. Karena setiap orang diciptakan dengan skenario spesifik masing-masing. Yakin akan keputusan terbaikNya adalah hal terbaik. Karena berdasarkan apa yang kami alami, pertolongan Allah benar-benar di luar nalar dan datang dari arah yang tak diduga. Sungguh pembelajaran yang takkan pernah kami lupakan.

Dan kini, kami memasuki trisemester ketiga.

Tema umum di trisemester ketiga adalah persalinan, tentunya. Semua aktivitas suami dan istri diarahkan agar bagaimana caranya persalinan dapat berjalan dengan baik. Persalinan normal dimana kondisi sang Bunda dan si kecil berada di titik terbaiknya. Persiapan fisik, psikis, finansial, dan spiritual menjadi sebuah keniscayaan menjelang lahirnya si kecil. Hal ini jua yang kini sedang coba kami rancang dan jalani. Berharap persalinan istri normal dan dede kami lahir dengan tidak susah payah.

Teruntuk tema khusus, saat ini kami belum menemukannya. Sedang mencoba menyaring hikmah dari apa yang kami alami saat ini dan beberapa saat ke depan. Satu hal yang kami yakini, bahwa tema khusus pada trisemester terakhir kami ini adalah tema yang pastinya mengandung berbagai macam hikmah sebagaimana halnya dua trisemester kami sebelumnya.

Selamat datang trisemester ketiga. Tak sabar ingin segera bertemu dengan dede 🙂

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: