Tidak Menyepelekan Sesuatu

Ada satu hikmah terserak yang saya temukan hari ini.

Ini tentang tidak menyepelekan sesuatu sekecil apapun.

Terkadang, untuk sesuatu yang sifatnya ‘kecil’ dan sederhana atau sesuatu yang sudah tergolong rutinitas, saya jarang sekali mencoba melakukan semua itu dengan put much effort. Atau seminimalnya give best of the best preparation. Semaksimal yang saya bisa, hingga bener-bener mendekati batas kemampuan saya.

Ada semacam ‘klasifikasi’ tak tertulis dalam benak saya. Bahwa jika sesuatu tidak melibatkan orang banyak, atau tidak dalam suatu momentum tertentu, apalagi itu momentum yang lingkupnya besar dan luas, yaudah selow aja. Lakukan saja ‘alakadarnya’. Toh, kalopun ada konsekuensi, konsekuensinya buat diri sendiri. Tak ada yang akan merasa dirugikan. So, ㅡlagi-lagiㅡ selow aja.

Semisal nih saya dapat tugas untuk presentasi tugas di kelas. Biasanya kalau ‘cuma’ gini, persiapan yang dilakukan tak begitu spesial. Baca-baca dikit, masuk-masukin data, atur tampilan slide, review sebentar, presentasi. Bahkan ga jarang untuk tugas-tugas yang saya anggap ‘biasa’, baru dipersiapkan semalam sebelumnya.

Lain hal kalo misal judulnya sidang TA atau presentasi di seminar. Untuk hal-hal selevel itu, persiapan yang dilakukan biasanya jauh lebih ‘wah’. Kerasa banget lah perbedaannya. Hal yang jelas terlihat, misalnya, persiapan yang dilakukan pasti dari jauh-jauh hari. Pengondisian spiritual juga lebih banyak dilakukan. Seolah, jika tak bisa ‘mempersembahkan’ yang terbaik apalagi hingga menghasilkan penampilan yang terlihat buruk, seolah hancurlah harga diri ini.

Padahal, justru di sini titik kacaunya, menurut saya.

Saya sadar akan sesuatu. Bahwa berarti selama ini constraint yang saya consider itu faktor luar semata. Secara tak sadar. Pandangan orang, terutama. Khawatir dianggap begini, khawatir dipandang begitu. Sebenernya tak ada yang salah dengan itu. Apalagi kalo statusnya menjadi representative atas sesuatu. Memang, constraint pandangan orang harus diconsider juga. Sebagai salah satu motivasi agar bisa mempersiapkan yang terbaik. Tapi, setelah dipikir-pikir, justru ada constraint fundamental yang jauh lebih penting dari itu: diri saya sendiri.

 

Kenapa?

Pada hakikatnya, setiap diri, innerself manusia punya hak untuk diperhatikan, diconsider. Salah satu aspek diri yang bisa dikontrol kan kemampuan diri, skill, diferensiasi. Di era sekarang ini, hal-hal itu yang saya rasa cukup penting untuk dimiliki. Dan dalam pikir saya, sesuatu yang punya peran penting dalam usaha mempertajam hal-hal itu adalah habit. Habit dalam konteks kontinuitas dalam mengasah diri sendiri.

Kalau meminjam 10.000 jamnya Galdwell, artinya saya butuh banyak waktu untuk mengasah kemampuan dan spesialisasi saya. Baik itu kemampuan yang bersifat eksak, maupun yang bersifat softskill. Dan menurut saya, instrumen terbaik yang bisa mengantarkan saya pada ㅡlet’s sayㅡ 10.000 jam tadi adalah habit.

Yang saya fahami, habit ini bisa terbentuk dari hal-hal yang rutin dilakukan. Tapi habit juga bisa terbentuk dari hal-hal yang ‘dipaksa’ dirutinkan. Ga selamanya pembentukan habit harus bergantung pada ‘arus’ yang dilewati selama ini. Tapi juga perlu diciptakan sendiri momentumnya.

Dan saya menyadari, bahwa menyepelekan sesuatu justru merupakan penghambatan yang saya ciptakan sendiri. Karena dengan menyepelekan sesuatu, artinya saya menghilangkan kesempatan untuk mengasah diri di momen-momen yang saya anggap ‘kecil’ dan ‘biasa’ tadi. Padahal kesempatan-kesempatan itu adalah momentum yang baik untuk menabung pembentukan habit dan pembentukan karakter diri.

‘Menyamaratakan kondisi’ dalam situasi apapun, sepertinya merupakan jalan terbaik untuk membiasakan diri mengasah diri sendiri. Karena saat put much effort dan giving the best diterapkan ㅡeven di situasi ‘remeh’, pintu-pintu pembelajaran akan terbuka sangat lebar. Memberikan yang terbaik kan artinya menyengajakan diri untuk belajar lebih banyak. Sedangkan melakukan semaksimal mungkin artinya menciptakan keharusan untuk menjadikan kemampuan diri menjadi lebih terasah.

Sehingga, di balik put much effort dan giving the best ada hal yang secara tak sadar dapat mengasah kemampuan diri. Jika hal itu dijadikan habit, maka betapa banyak peluang menemukan pembelajaran baru yang ditemui. Dan bahkan hal itu bisa mengakselerasi penguasaan skill dan spesialisasi/diferensiasi tanpa disadari.

Konsep sederhana sebenarnya.

Tidak menyepelekan sesuatu, ternyata bisa menjadi suatu investasi diri yang prospektif di masa depan nanti.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: