Tetiba Teringat

Hah? Seriously? Masa sih?

Jantung tetiba dagdigdug. Mata kemudian terbelalak, mulut tak kuasa menganga. Beberapa detik kemudian mesem-mesem sendiri gak jelas. Warnet yang sebentar lagi akan tutup itu serasa kebun durian yang satu duriannya jatuh di atas kepala. Kaget. Shock. Dan sedikit tidak percaya. Tapi jauh di dalam lubuk hati yang terdalam, bersyukur sejadi-jadinya. Allahu akbar.

Karena tetiba mixed feeling, jadinya lupa mau ngapain lagi di warnet. Ah yasudah, keluar saja. Di luar, entah kenapa, bintang-bintang di langit yang sewaktu datang ke warnet terlihat biasa saja, jadi serasa super indah. Di antara sekian banyak bintang yang terlihat, ada satu yang cahayanya seolah menghangatkan perasaan yang sedang bercampur aduk. Bulan.

Bulan seolah sedang menjatuhkan pandangannya ke sini. Mata pun seperti ditarik oleh sorotan bulan untuk segera menjawab pandangannya. Cukup lama kami beradu pandang. Hingga akhirnya hati ini berbisik,

Hei bulan, ini gitu jawaban dari doa-doa yang kemarin?

*****

Sewaktu iseng-iseng buka timeline Line, saya menemukan video animasi dari lagunya Brian McKnight yang judulnya “Marry your daughter”. Terus gatau kenapa jadi keingetan scene masa silam yang menjadi awal mula kisah kehidupan bersama ibu negara.

Sepenggal kisah di atas adalah salah satu sisipan (kalo di anime OVA kali ya) yang dibuat sedikit dramatis dari kisah pertemuan saya dengan si dia. Kisahnya pernah saya tulis di web nikah dulu barengan dengan kisah dari sudut pandang si cinta juga. Kalo sekarang dibaca ulang, gatau kenapa jadi malu sendiri.

Sisipan itu adalah sisi lain dari kisah yang dulu pernah saya tuliskan. Mungkin gak ada yang tahu (kecuali orang-orang dekat) kalo ternyata si ‘kawannya‘ yang ada di kisah itu ternyata mba ini. Kalo mba ini gak inisiatif buat cerita, gak memberanikan diri buat ngasih tau, mungkin sampai saat ini saya bakal terus bertepuk sebelah tangan. Atau terus-terusan berharap kayak si a agung ke si anggun di komiklieur. Oiya, semua itu atas izin Allah tentunya. Yah pokoknya mah, nuhun Dew!

Since ever, saya jadi suka galau gak jelas. Kadang tapi. Beneran kadang-kadang. Serius, cuman sesekali doank. Masih gak habis pikir aja. Tapi setelah itu jadi bener-bener yakin, kalau Allah mendengar dan menjawab doa-doa saya. Dan kalau sungguh-sungguh minta sama Allah, Allah bakal kasih yang terbaik. Sebelumnya, jauh sebelum Dewi membawa kabar ke saya, saya pernah dinasihati oleh mentor saya,

Sebut aja namanya di doa-doa ente, gak apa-apa. Kalau ente yakin dia yang terbaik, minta aja sama Allah buat didekatkan dan di satu jalan ceritakan sama dia. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kalau Allah nilai akhwatnya baik buat ente, in syaa Allah bakal Allah kasih. Kalau menurut Allah gak baik, ente jangan baper kalau ternyata dikasih yang lain. Tapi yang pasti, Allah berjanji bakal selalu kasih yang terbaik buat hambaNya. Janji Allah itu pasti. Jadi gak ada salahnya sebut nama akhwatnya dalam doa ente. Kalo dikasih, ente dapet akhwat yang ente mau. Kalo gak dikasih, ente dapet akhwat yang lebih baik. Tapi inget, ente sedari awal harus dalam posisi di mana ente siap menerima keputusan Allah apapun itu. Lahaula aja.

Kata-kata mentor gak exact kayak di atas sih. Tapi kira-kira begitulah intinya. Nah sejak saat itu, jadilah saya selalu sebut nama dia di dalam doa saya. Saya hanya belajar dan berusaha menaruh yakin sama Allah waktu itu. ‘Pokoknya percaya aja deh sama Allah!‘, kalo kata Ust. Hanan Attaki mah. Qadarullah wal hamdulillah, Allah kabulkan doa saya. Saya yakin bukan karena doa sayanya, tapi karena Allah Maha Baik aja.

Singkat cerita, setelah kami sama-sama tau kalau kami sama-sama pernah memendam rasa sebelumnya, kami memutuskan untuk serius. Tapi, karena waktu itu saya keburu KP (Kerja Praktek), jadi niatan saya buat berkunjung ke rumahnya harus di postponed. Selama KP inilah saya menemukan lagu Brian McKnight di atas, yang selalu jadi pendamping perjalanan dari site office ke tengah laut. Konyol emang.

Tapi jadinya lagu ini memberikan kesan tersendiri. Pernah gak sih setiap kali denger musik, terus langsung terlintas sesuatu, seolah lagu itu terasosiasi secara otomatis sama suatu memori? Lagu ini yang secara otomatis terasosiasi sama memori saya sewaktu KP. Seolah musik ini membentuk rasa dan memori.

Buat saya lagu ini juga jadi mengingatkan scene dimana saya mendatangi rumahnya, berbincang bertiga dengan dia dan Bapak, hingga akhirnya Bapak bilang,

Karena Zaky memang serius, dan Pipitnya bersedia, Bapak in syaa Allah ridha mengizinkan. Cuman Bapak titip aja, nanti jaga Pipit, bimbing Pipit, jadi imam yang baik buat Pipit.

Setelah dengar itu, antara senang dan haru. Waktu itu hampir cirambay. Untung si pride masih bisa menopang terjangan gelombang si cirambay. Saya sempat terdiam sejenak. Lalu setelah itu berterima kasih ke Bapak. Dan berjanji bakal melaksanakan nasihat-nasihat Bapak. Dream comes true! Alhamdulillah ya Allah! *cirambay di motor*

Maha Suci Allah. Allah memang selalu tahu keinginan hambaNya. Selalu tahu yang terbaik buat hambaNya. Saya jadi suka merenung, dulu saya yang begajulan aja ㅡya sesekali pernah berusaha buat sedikit shaleh lah, Allah masih mau denger doa saya. Apalagi kalau saya beneran hijrah total.

Tentu hijrah ini bukan sebab dari datangnya keajaiban-keajaiban dari Allah. Tapi setidaknya, hijrah ini bisa jadi proposal buat dikasih liat ke Allah, kalau proses yang sedang ditempuh ini memang benar serius. Karena kabar baiknya, kalau mendekat ke Allah berjalan, Allah akan mendekat dengan berlari. Dan Allah senang sama hambaNya yang senang tobat. Kalau Allah udah senang hambaNya, apapun yang hambaNya minta, Allah bakal kasih. Nah setidaknya proposal itu yang diupayakan agar bisa termasuk ke golongan orang-orang yang Allah senangi.

Setiap kali denger lagu ini, selain jadi inget masa-masa KP, jadi inget masa-masa ‘disidang’ sama Bapak. Dan setiap kali inget masa-masa disidang, jadi selalu inget lagi kalau Allah itu Maha Baik. Dan akhirnya, selalu jadi ingin tobat, perbaiki diri, dan mendekat ke Allah lagi.

Ya Allah, maafkan hambaMu yang selalu khilaf dan khilaf ini. Padahal Engkau selalu baik memberikan yang terbaik dari apa yang hambaMu minta. Tapi hambaMu ini selalu saja khilaf. Malu Ya Allah. Di saat hambaMu ini pernah bosan mendekat kepadaMu, Engkau tak pernah bosan mendekat pada hamba. Ya Allah, bimbinglah hamba selalu, ingatkan kala khilaf, tegur kala berlebihan. Tak ada yang bisa membimbing hamba menjadi hamba yang lebih baik selain diriMu

*****

Oke. Sesekali postingan random ga apa lah. Itung-itung sedikit bernostalgia, sedikit merenung, dan demi mengembalikan semangat menulis yang sedang tertidur. Butuh trigger sedikit-sedikit sebelum kembali menulis yang sedikit lebih berkonten (tapi ampasnya banyak).

끝.

Credit cover photo : disini

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: