Tersipu Malu

Memandangmu, aku tersipu malu.

Tidak berlebihan sepertinya jika aku mengatakan bahwa kamu adalah wanita tercantik yang pernah kutahu. Karena sejatinya, dalam benakku, memanglah seperti itu. Kan? Ah, aku tak peduli dengan apa yang orang-orang katakan. Apapun yang terucap dari mulut mereka, takkan pernah bisa merubah sudut pandangku, bahwa kamu memang yang tercantik yang aku tahu.

Aku tidak membual. Atau mengarang seuntai kalimat yang ditujukan untuk memikat hati seseorang. Apalagi hatimu. Terlalu sederhana jika harus mengurai hatimu dengan sepasang-dua pasang frasa atau tiga-empat kalimat bernada ‘cinta’. Hatimu, terlalu istimewa untuk dikail dengan puitisasi rasa. Atas perkataanku sebelumnya, sungguh, aku tidak membual.

Sekali lagi aku ingin berkata: kamu wanita tercantik yang pernah kutahu.

Dahulu, memandangmu seperti sebuah dosa bagiku. Mataku tak pernah mau menatap wajahmu terlalu lama. Walau di dalam hati, keinginan untuk berlama-lama itu ada. Rasa penasaranku, selalu saja hadir setiap kali berpapasan denganmu kala itu. Walau pada akhirnya, hanya berakhir pada tatapan-dua-detik saja. Setelah itu, mataku kembali menatap tanah. Sesekali, aku berpura-pura tidak melihatmu sebelumnya.

Mungkin kecantikanmu itu yang dahulu selalu membuatku tersipu malu. Membuatku salah tingkah, membuatku tak mampu berpikir apa-apa.

Dahulu?

Tidak, tidak. Bahkan hingga kini.

Walau kini aku bisa menatap wajahmu setiap waktu, namun sepertinya kecantikanmu masih selalu membuatku tak mampu berlama-lama menatapmu.

Ya, bahkan sekarang pun, setiap kali aku memandangmu, aku tersipu malu.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: