Terjaga di Waktu Malam

Ada satu habit baru yang baru saja kami develop akhir-akhir ini: terjaga di waktu malam.

Siapa lagi kalo bukan Daehan yang memaksa kami mendevelop habit baru kami ini. Haha.

Satu bulan terakhir ini, sudah menjadi hal yang default, bahwa kami harus memaksakan mata kami terbuka di malam hari. Bukan, di sepanjang malam bahkan. Tak peduli di siang sebelumnya kami disibukkan oleh banyak kerjaan rumah atau lab, tak peduli esok hari ada lab meeting yang presentasinya belum dibuat sama sekali. Atau final test yang persiapannya baru terwakili oleh beberapa halaman awal dari modul kuliah.

Pokoknya, satu yang Daehan minta di setiap malam adalah “temenin aku, ga mau tau!”. 

Daehan, mungkin satu frekuensi dengan early age baby lainnya, dengan santainya menghabiskan waktu siang dengan tertidur pulas. Seberisik apapun suara-suara di sekeliling dia, se-annoying apapun usaha-usaha yang dilakukan buat bangunin dia, niscaya hal itu tidak sedikitpun menyentuh sanubarinya untuk membukakan matanya walau sejenak. Sedikitpun.

Sewaktu Daehan di ajak ke pengajian rutin Ibu-Ibu Gyeongsan, lalu di sana ia diputer dari satu ibu-ibu ke ibu-ibu lainnya pun, sama sekali tak membuat hatinya tersentuh untuk membuka matanya. Walau sebentar.

Dua hal yang dapat membuat matanya terbuka di siang hari hanyalah haus dan buang air. Itu pun hanya terbuka beberapa detik. Setelah kebutuhannya terpenuhi, ia terpejam kembali.

Lain siang, lain malam. Di malam hari, Daehan berubah mode. Ia mengaktifkan salah satu mode favorit ibunya: sensitif. Sensitif yang ngebuat dia keselan (cepat ngerasa kesal) dan sensitif yang ngebuat tidurnya tak nyenyak. Keselan, kayak waktu bundanya datang bulan. Tak nyenyak, kayak waktu bundanya nunggu pulang suaminya kalo suaminya lagi dinas keluar kota. *semoga istri tak baca*

Sepanjang malam, start dari jam 11 malam biasanya, mode sensitifnya Daehan aktif. Saat aktif, segala yang dia mau harus segera dituruti. Karena kalo ga, dia akan menaikkan volume suaranya. Mukanya lalu memerah, kemudian kakinya ia regangkan sepenuh tenaga. Menandakan ia sangat kesal. Setiap kali bundanya telat kasih mimi atau dia ngerasa tak nyaman saat digendong, itulah yang terjadi.

Tak nyenyak adalah efek samping lain di saat mode sensitifnya aktif. Keterlelapan yang dia tampakkan di siang hari, sama sekali tak terlihat di malam hari. Seolah nyenyaknya dia tidur di siang hari itu hanyalah fiksi di dalam mimpi. Jauh beda dengan saat menemaninya di malam hari. Dengar suara dikit, bangun. Beberapa saat sehabis dininaboboin, bangun lagi. Baru aja merebahkan badan buat memejamkan mata, eh bangun lagi.

Dan SOP yang harus dilakukan setelah Daehan terjaga lagi adalah: kasih mimi, terus dininaboboin sekitar setengah jaman atau lebih, terakhir ditidurin di atas kasur dengan hati-hati. Jika tak berhasil mensinkronkan konsentrasi dan perasaan di poin terakhir SOP, maka wassalam. Kembali looping ke poin pertama SOP. SOP juga berlaku saat ia selesai buang air.

Punya rutinitas baru di malam hari, sekilas melelahkan. Bukan sekilas denk, da memang melelahkan. Bahkan sampe ngebuat istri ngasih mimi sambil memejamkan mata. Atau sampe ngebuat kami meninabobokan Daehan sambil terkantuk-kantuk. Sampe mimpiin suara bayi nangis, yang ternyata pas sadar dan ngebuka mata, eh ternyata suara Daehan yang lagi nangis.

Tapi di balik kelelahan tadi, ada satu kebahagiaan yang kami rasakan. Mengutip perkataan seorang rekan kerja di lab. Katanya, seseorang yang telah menikah dan dianugerahi anak, diberikan satu tambahan kebahagiaan dalam hidupnya. Yang dimana, kebahagiaan ini mengalahkan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang pernah ia rasakan sebelum ia menikah. Walau secara fisik ia capek, secara psikis ia bahagia. Katanya.

Dan setelah apa yang kami alami sejauh ini, kami rasa, kami setuju dengan perkataan rekan kerja lab di atas. Ada satu kebahagiaan yang tak bisa dirasakan, kecuali dengan merasakannya sendiri.

Sekalipun selama satu bulan kemarin, dan mungkin hingga beberapa bulan ke depan, kami harus membuka mata di malam hari, tapi kami tak menyesal atasnya. Yang ada, kepala kami dikunjungi oleh satu pertanyaan yang selalu muncul setiap malamnya:

Cerita apa yang akan kami lalui bersama Daehan malam ini? 😀

0 comments: On Terjaga di Waktu Malam

Leave a Reply to Denny Reza Kamarullah Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: