Teguran dan Jawaban

Ceritanya, beberapa waktu yang lalu saya dihadapkan pada satu ujian kesabaran. Ah, tidak hanya ujian kesabaran, buat saya, ini juga merupakan ujian keyakinan dan ujian kesadaran. Keyakinan akan kemutlakan janji Allah, kesadaran bahwa diri ini tidak lain tidak bukan hanyalah sesosok makhluk semata.

Saya merasakan, bagaimana keyakinan saya sempat goyah dan kesombongan yang ada dalam diri saya sempat muncul ke permukaan. Saya sempat tenggelam dalam situasi “hidup tak hidup”. Berada dalam posisi antara yakin dan tak yakin. Dan berjalan dengan kondisi “hilang kesadaran”.

Saya bingung, saat itu. Saya khawatir salah langkah. Saya khawatir yang saya lakukan melanggar koridor-koridor yang telah Allah buat. Tak ada tindakan apapun yang saya lakukan selain meminta petunjuk. Tentang apa yang harus saya lakukan, yang terbaik yang harus saya lakukan. Agar tak menodai satu hal yang selalu saya cari: keberkahan.

Maha suci Allah. Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang. Di tengah kegundahan yang saya rasa, satu petunjuk dari Allah mendekat, memberikan satu pencerahan hingga pada akhirnya petunjuk itu menuntun saya untuk memperkuat kembali kesabaran, mengokohkan kembali keyakinan, dan memperjernih kemballi kesadaran saya tentang posisi saya sebagai makhluk.

*****

Bermula dari keputusan saya untuk membeli suatu barang via dunia maya. Berlandaskan pengalaman saya membeli sesuatu via online, saya tidak merasakan kekhawatiran apapun sesaat setelah saya memutuskan untuk melakukan itu. Saya pikir, ini akan seperti kegiatan online shopping sebelumnya, dimana setelah deal ada transaksi uang. Kemudian barang akan dikirim setelah alamat dan bukti pembayaran diberikan pada penjual.

Di awal, semua berjalan normal, tidak ada hal yang mencurigakan. Hingga di tengah proses jual-beli, saya menyadari sesuatu, bahwa saya sedang dipermainkan. Ternyata saya sedang berurusan dengan scammer!

Segala upaya telah saya lakukan untuk mencoba menyelamatkan uang yang telah saya berikan. Namun, ternyata hasil tak sesuai dengan harapan. $480 saya raib tanpa jejak. Jumlah yang mungkin untuk sebagian orang tak seberapa. Tapi untuk saya, hilangnya uang sejumlah itu cukup menyakitkan. Apalagi itu adalah tabungan yang ditimbun dalam waktu yang tidak sebentar.

Tau gitu uangnya dipake buat biaya sehari-hari dede aja.

Coba kalo dari awal udah sadar, tabungan sekarang kan jadinya masih segini. Cukup buat tambah-tambah ini dan itu.

Kenapa ilangnya harus segitu sih?

Dan lain sebagainya.

Berbagai macam lintasan pikiran berkecamuk. Yang semua bermuara pada satu: Saya tidak ikhlas uang itu hilang.

Sejak saat itu, innerself saya saling “beradu mulut”. Saat satu sisi berkata,

Hei, uang itu juga kan datangnya dari Allah. Harusnya bersyukur ga semua uangnya hilang..,

sisi lain menimpali,

Tapi kan uang segitu cukup banyak. Kalo uang itu ga hilang, tabungan kamu masih lumayan. Kalo uang itu ga ilang, uang itu bisa dipake buat hal lain yang jelas manfaatnya.. 

Pergolakan itu terjadi setiap hari. Membuat saya hanya bisa terdiam. Alam sadar dan bawah sadar pun tidak condong pada salah satu sisi. Seolah saya sedang berada pada titik tengah, berdiri diantara dua sisi tersebut.

Di setiap ada kesempatan, saya selalu meminta petunjuk. Selalu meminta agar dikuatkan hati, dicondongkan pada hal yang menurut Allah benar.

Hingga akhirnya dalam suatu kesempatan, Allah mempertemukan saya dengan ini:

Saya tak sengaja menemukan ini. Di tengah refreshing saya membuka Youtube, di antara begitu banyak suggestion videos yang muncul di sana, mata saya langsung tertuju pada video ini. Dan bahkan tanpa berpikir panjang, jemari saya dengan segera mengeklik mouse, membawa saya pada satu ceramah khutbah dari Ustad Nouman Ali yang berdurasi sekitar 30 menit ini.

Subhanallah.

Saya merasa, ini strike banget. Setelah menonton ini, seolah semua kegundahan sebelumnya hilang. Kekurangyakinan, ketidaksadaran, dan kesombongan saya lenyap. Saya baru saja “terbangun”. Baru saja menyadari, bahwa apa yang menimpa saya beberapa waktu lalu itu adalah musibah. Musibah yang Allah berikan hanya untuk saya, yang dirancang hanya untuk saya. Yang pasti dengan tujuan agar saya menyerap hikmah-hikmah dari kejadian ini.

Saya baru memahami konsep cause and effect dari musibah. Bahwa hukum musibah ada dua, based on Al-Quran:

  1. Akibat perbuatan dan kesalahan manusia itu sendiri
  2. Qadarullah, sudah tertullis dalam kitabNya Allah

Mungkin selama ini saya lebih banyak melakukan maksiat daripada ketaatan. Atau mungkin selama ini, interaksi saya dengan Allah semakin merenggang. Hingga akhirnya Allah menurunkan musibah ini. Atau mungkin Allah hanya ingin mendengar saya mengucapkan “Ya Allah..”.

Saya tersadar. Ya, karena saya lah musibah ini terjadi.

Saya juga paham, bahwa setiap musibah yang menimpa saya, sudah tercatat rapi, on purpose, dan terjadi atas izin dan kehendak Allah. Allah berkehendak, berarti ada maksud dibalik perbuatanNya. Allah menurunkan musibah spesifik bagi setiap hambaNya, berarti ada pelajaran yang Allah ingin hambaNya mempelajarinya. Bahwa kejadian yang menimpa saya kemarin pun, atas satu maksud agar saya mempelajari banyak hikmah di baliknya.

Dan satu hal yang saya lupa:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Bahwa saya sama sekali own nothing. Saya tak memiliki uang itu in the first place.

How dare you claim that money as yours?

Itu uang yang Allah titipkan. Saya hanya dititipi. Saat Allah menginginkan uang itu kembali, ya itu hakNya. Dan yang fatal adalah saya lupa konsep ini. Saya lupa ayat ini. Saya tahu, dan sering mendengar ayat ini. Namun saat kejadian kemarin, saya totally lupa.

Alhamdulillah Allah mengingatkan kembali.

*****

Satu hikmah terakhir dari kejadian ini adalah bahwa jika memang kita serius meminta petunjuk, Allah akan beri dari manapun yang Ia suka. Dan Allah akan selalu menjawab setiap permasalahan yang kita alami, selama kita meminta jawaban padaNya.

Semoga Allah senantiasa mendaftarkan kita dalam golongan kekasih-kekasihNya. Sehingga setiap musibah akan selalu berujung hikmah dan gelisah akan selalu berujung sakinah. In syaa Allah.

Wallahu’alam.

0 comments: On Teguran dan Jawaban

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: