Tanah di Bawah Tanah

Sudah menjadi bagian dari bawaan lahir manusia, rasa sedih dan gelisah muncul saat berada pada nadir kehidupan. Seringkali, rasa ini membuat kaca pandang terlihat berembun. Membuat ruang pandang menjadi terlihat blur sehingga seolah tidak ada orang lain selain dirinya. Hanya dirinya di sana, dengan repetisi sugesti dalam pikirannya bahwa ia sedang berada di posisi nadir.

Memang, di satu sisi kehidupan, manusia diajarkan untuk melihat ke atas. Melihat mereka yang sedang merangkak menuju puncak. Baik puncak dalam prestasi atau puncak dalam kontribusi. Dengan melihat puncak, besar harapan muncul semangat berkompetisi untuk menjadi insan yang lebih baik. Semangat menebar kebermanfaatan, semangat dalam menularkan inspirasi.

Namun di sisi lain kehidupan, pola berpikir ini tak bisa dengan serta merta diterapkan begitu saja. Ada aspek lain dalam hidup yang justru akan membuat manusia kehilangan makna hidup dan membuat rasa sedih dan gelisah tadi tak kunjung hilang manakala pola ini yang diset dalam kepala.

Sesekali menengok ke bawah adalah sesuatu hal yang bijak. Bahkan mungkin tidak hanya cukup sesekali, dibutuhakan banyak kali untuk membuat sensor syukur kita senantiasa berfungsi. Karena jika ini mati, jangan pernah berharap ketenangan akan terus mengiringi setiap episode hidup ini. Sensor inilah yang banyak mengajarkan kita akan makna dibalik peristiwa dalam hidup, bila kita mau mempelajari.

Jika kita mau sedikit merendahkan ego untuk menundukkan kepala sejenak, melihat apa saja yang ada di bawah, kita akan banyak mengetahui berbagai kenyataan, di luar apa yang sering ditemui selama ini. Bahkan mungkin hal yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benak pun, ternyata itu terjadi.

Saat menemui hal diluar kehendak yang mengantarkan pada kesedihan dan kegelisahan dalam hidup, mungkin itu saatnya berpejam mata sejenak. Berefleksi, kemudian sempatkan diri untuk melihat ke bawah. Terasa kurang bijak saat merasa bahwa diri ini menjadi yang paling sial. Tanpa mencoba membersihkan kaca pandang, tanpa berusaha untuk berkaca dan turun sejenak. Karena perlu kita ketahui besama, bahwa di bawah tanah masih ada tanah.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: