Tak Sesuai Harap

Akan ada suatu masa dimana kita dipertemukan dengan sesuatu hal yang tidak selaras dengan harap kita. Wajar. Karena alam ini tidak diciptakan hanya untuk kita saja. Tetapi juga untuk miliyaran manusia lainnya. Otomatis segala macam bentuk kepentingan yang terlahir dari hadirnya alam dan segala hal yang terkait dengannya ini memiliki kemungkinan untuk berbenturan satu sama lain. Untungnya alam ini telah diciptakan sedemikian rupa sehingga memiliki mekanisme yang dapat menjaga keteraturan satu kepentingan dengan kepentingan yang lain.

Siapa yang menjaga keteraturan itu? Sebuah pertanyaan retoris yang orang-orang sudah tahu jawabnya. Dzat yang tentunya faham dan kuasa untuk mengatur semua hal yang lingkupnya ini tak sampai dalam nalar kita, manusia.

Melihat lingkup nalar kita yang terbatas, tak heran jika banyak jalan hidup yang terkadang tidak masuk dalam kapasitas berpikir akal kita. Padahal jika ditinjau ulang, apa yang akal dan rasa kita sebut dengan ‘kesal’, ‘kecewa’, atau ‘kesialan’ itu mungkin hanya bentuk dari ke-sotoy-an sesaat kita saja.

Bisa jadi sebenarnya di titik dimana kita yang sedang berhadapan dengan jurang itu, jika kita mau sedikit merendahkan hati untuk menoleh ke samping, kita mungkin akan menemukan jalan setapak yang ternyata mengarah ke taman bunga. Namun terkadang, kita gemar mengambil simpulan sesaat. Saat bertemu dengan jurang, kita segera menutup mata, telinga, mulut, untuk kemudian mengucap keluh. Tanpa memberi kesempatan hati kita untuk disisipi sesuatu yang bernama ‘ikhlas’ dan otak kita untuk disisipi sesuatu yang bernama ‘berpikir positif’.

Bicara tentang ‘tidak sesuai dengan harap’ memang tidak sederhana. Karena harus sedikit melawan emosi. Emosi sesaat yang terkadang banyak mendominasi. Emosi sesaat yang terkadang menjadikan kita membuat simpulan dini. Selain itu, juga terkadang berbenturan dengan ego kita yang seolah tau segala. Memunculkan berbagai macam asumsi yang berasal dari logika manusia kita. Bahkan tidak jarang, asumsi ini kita menyebutnya dengan fakta.

Padahal kita tahu, ada Dzat Maha Segala. Yang logikaNya jauh lebih sempurna dari logika kita. Yang ruang lingkup penglihatanNya jauh lebih luas dari penglihatan kita. Yang perhitunganNya jauh lebih tajam dari perhitungan kita. Tak ada yang dapat dibandingkan. Ditambah dengan kemurahan hatiNya yang tak pernah memilih ruang dan waktu. Semua itu sebenarnya sudah cukup menjadikan hati kita tenang saat bertemu dengan sesuatu hal yang tak sesuai harap.

Satu hal saja yang perlu kita pastikan hadir dalam diri kita : Yakin.

Yakin bahwa rencanaNya tak pernah salah, gagal, atau kurang sempurna. Mengapa? Karena Ia adalah sebaik-baik pemegang janji. Karena Ia adalah sebaik-baik pemilik akhlak mulia. Karena Ia adalah sebaik-baik penerjemah makna cinta menjadi sebuah aksi nyata. Semua rencana yang telah dibuatNya adalah semata-mata untuk kebaikan kita.

Maka, saat bertemu dengan suatu hal yang tak sesuai dengan harap, tak perlu risau atau gundah apalagi kesal dengan hal itu. Karena bisa jadi, di depan sana telah Ia siapkan sebuah kejutan yang bahkan logika kita tak sampai untuk menerkanya. Kejutan yang mungkin merupakan buah doa kita atau doa orang-orang di sekitar kita selama ini. Dan yang pasti, kejutan yang membuat lisan kita tak berhenti mengucap syukur.

Sekali lagi, hanya butuh sebuah keyakinan dan kerendahan hati untuk tidak membuat simpulan sesaat dalam menyikapi sesuatu yang tak sesuai harap. Ikuti prosesnya dan berikan yang terbaik selama berproses tersebut. InsyaaLlah kita takkan pernah menduga bahwa kejutan di luar nalar kita itu benar-benar nyata.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: