Senyum Kecil

Sebuah kebahagiaan, tidak selamanya harus digapai dengan cara meraih ini, atau mencapai itu terlebih dahulu. Karena, makna bahagia tidak serumit itu. Terkadang, ia bisa hadir di tengah-tengah rutinitas biasa, bahkan. Di tengah-tengah keseharian, di sela-sela aktivitas. Ia bisa muncul dari sumber yang sederhana. Sesederhana senyum kecil yang tersimpul di wajah.

Setiap orang di muka bumi ini akan menemui kesalingan interaksi satu sama lain dalam kesehariannya. Di rumah, di jalan menuju sekolah, menaiki kendaraan umum, antre di depan loket pembelian karcis, membeli suatu barang, meminta tolong pada orang lain, menawarkan jasa, dan masih banyak jenis interaksi lain yang akan dan selalu ditemui di setiap harinya.

Namun terkadang, interaksi itu hanya sebuah interaksi tanpa rasa. Tidak sering orang-orang terlihat berinisiatif untuk menciptakan interaksi yang tidak hambar, terlebih lagi untuk sebuah interaksi yang dibersamai makna. Padahal, interaksi yang mungkin dianggap biasa saja terjadi, atau berada di luar zona mengesankan karena telah menjadi rutinitas, bisa menjadi interaksi yang membuat hati bahagia. Membuat mood tetap berada di atas awan, sekalipun tidak sampai tersimpan dalam benak.

Sederhana. Interaksi bahagia itu dapat terjadi. Terjadi saat setiap interaksi disisipkan senyum kecil yang menghiasi. Di sela berbicara, di sela menanggapi, atau di sela bahasa tubuh yang ditampilkan.

Tidak sulit sebenarnya. Tidak juga membutuhkan effort yang sangat besar. Melebarkan bibir hingga empat atau lima senti sudah cukup. Yang berat memang menciptakan inisiatif untuk melakukannya, atau membuat hal tersebut selalu melintasi pikiran. Karena terkadang, senyum kecil yang tidak tampak, bukan karena ia tidak mau, melainkan karena tidak terpikirkan untuk melakukan itu. Ia mungkin biasa melakukan interaksi dengan pola datar. Entah karena merasa sudah menjadi rutinitas atau sudah terpatri dalam alam bawah sadar.

Sebenarnya, setiap orang merindukan interaksi yang berkesan, setidaknya interaksi yang tidak terasa hambar. Hanya saja, inisiatif untuk menciptakannya seringkali masih didominasi oleh jebakan rutinitas. Saatnya memulai untuk mencoba menciptakan interaksi yang memiliki rasa. Tidak harus dengan sesuatu hal yang berlebihan atau di luar jangkauan. Cukup dengan senyum kecil di setiap kali berinteraksi dengan siapapun.

🙂

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: