Hal Menarik di Korea

Selama beberapa hari di sini, saya mengamati beberapa hal. Budaya, kebiasaan, hal baik, hal buruk, sejarah, dan banyak lagi. Terkadang, dari apa yang saya amati, semua itu membuat saya berpikir “Andai, keren oge Korea”. Kadang juga membuat saya berangguk-angguk, “Untung di Indo ga kayak gini”. Tidak bisa dielakkan memang, bahwa dimana ada wanita, di sana ada pria. Dimana ada siang, di sana pula ada malam. Hal yang bertolak belakang akan selalu ditemukan di manapun, baik dalam konteks baik maupun buruk.

Ada beberapa hal yang menurut saya menarik dari sebuah negara bernama Korea ini.

Menunggu Semua Selesai Makan

Di Korea sini ada semacam kebiasaan dimana orang sini jarang makan sendirian. Mostly makan bersama kawan satu lab atau makan besar dengan kawan dari lab lain. Kawan dekat lah, minimal. Jarang pisan lah dalam satu meja hanya ada satu orang. Tak heran, porsi makanan di sini pada umumnya porsi besar. Terutama side dish, atau mungkin bisa disebut juga ‘makanan tunggu’. Makanan yang disajikan sebagai ‘snack ngobrol’ saat menunggu main dish datang. Porsi makan untuk sendiri pun terkadang dalam volume yang sungguh bisa membuat perut kamerkaan.

Karena seringnya makan bersama, setia kawannya orang sini tumbuh kembang kali ya. Mereka tak akan meninggalkan kawannya yang masih menyantap makanan. Sekalipun misalkan, mereka sudah beres makan sedangkan hidangan kawannya baru saja hadir, mereka akan menunggu kawannya menyelesaikan makannya terlebih dahulu. Takkan beranjak sebelum semua yang duduk satu meja selesai makan. Biasanya sembari menunggu, mereka mengobrol atau haha-hihi sana-sini. Setelah memastikan semua beres makan, barulah mereka capcus.

Rokok Bareng

Di sela-sela ngelab, di jam-jam istirahat, atau di istirahat makan, biasanya cowo-cowo Korea berkumpul di satu spot. Di beberapa kesempatan, cewe juga ikut. Ternyata yang mereka lakukan adalah merokok bersama.

Yang saya amati, mereka, terutama cowo Korea, selalu mengajak kawannya untuk merokok bersama. Berkumpul di satu tempat, membuat satu lingkaran, lalu merokok bersama sambil bertukar cerita satu sama lain. Bahkan tak jarang mereka sengaja menghubungi kawannya via telepon hanya untuk mengajak merokok bersama di luar. Sebagian orang mendatangi langsung kawannya bahkan.

Tidak hanya yang muda, di beberapa kesempatan, saya juga melihat pria paruh baya pun melakukan hal yang sama. Mungkin beliau-beliau adalah Profesor-Profesor yang sedang rehat mengisi kuliah. Yang saya simpulkan sementara ini, mungkin mereka sosialis kali ya. Tak bisa hidup jika tak bersama yang lain. Haha.

Junior Hormat Senior

Penghormatan di sini benar-benar dimaknai dengan baik. Perbedaan usia benar-benar diperhatikan. Yang muda hormat pada yang tua.

Makanya ada ‘embel-embel’ -oppa, -hyeong, -nuna, -eonnie di nama senior saat dipanggil oleh junior. Dan mereka yang berumur lebih muda benar-benar memanggil seniornya dengan menyertakan’embel-embel’ tadi di ujung nama seniornya. Dianggap tak sopan jika junior hanya memanggil nama saja pada seniornya. Mungkin di Indo mah semacam panggilan bang atau kak atau kang atau teh kali ya. Tapi kan di Indo mah terkadang masih dianggap biasa saja junior memanggil nama senior.

Bentuk hormat lain adalah saat Professor masuk lab. Jika Profesor masuk lab, semua yang ada di lab akan berdiri menyambut sembari menunjukkan honorific attitude. Mereka yang pada mulanya duduk, mengobrol, main game, atau semacamnya langsung berdiri merapat meja lalu menghadapkan badan ke arah Professor untuk menyambut beliau. Bila sedang main game, tentu itu game di close dulu lah haha.

Lalu saat makan. Yang paling junior harus menyiapkan peralatan makan dan minum senior mereka. Di sini ada kebiasaan sebelum makan, sendok dan sumpit (peralatan makan utama di sini) ditaruh terlebih dahulu di meja, di depan mereka yang akan makan. Beberapa style ditaruh di atas tisu makan. Sendok dan sumpit sudah tersedia di meja, tinggal ambil. Junior juga harus menuangkan air pada gelas senior mereka. Jika harus refill, junior harus berinisiatif untuk mengambilkannya. Namun si junior tak boleh menuangkan air pada gelasnya sendiri, karena di sini dianggap sesuatu (lupa sesuatu nya apa haha). Jadi, saat tiba gilirannya menuangkan air di gelasnya, si junior harus meminta kawannya. Bahkan jika misal seorang murid hanya makan berdua dengan Profesor, maka Profesor yang akan menuangkan air pada gelas muridnya. Just in case.

Kata Dian, teman saya, nilai Konfusianisme yang ada dari zaman kerajaan itu masih tetap ada dan akan terus ada meskipun westernisasi dan globalisasi udah membaur di Korea.

Tetap Bahasa Korea 

Orang-orang sini, terutama masyarakat biasa, tak bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Bahkan di kalangan mahasiswa pun, masih ada yang benar-benar buta bahasa Inggris. Padahal negara ini sudah dilirik banyak orang luar. Setiap kampus pun membuka pendaftaran untuk para International Students. Artinya, seharusnya kan mereka mulai menyadari bahwa mereka sudah seharusnya mempelajari bahasa Inggris karena negeri mereka kan didatangi banyak pendatang asing. Menurut pandangan saya, hehe.

Dan yang menarik bagi saya adalah, orang sini, saat ada orang asing menghampiri atau bertanya atau mengajak berbicara, tak pernah mencoba merespon dengan bahasa Inggris. Selalu menggunakan bahasa Korea. Walau mereka sudah tahu mereka sedang berhadapan dengan orang asing. Maksudnya, kalo di Indo kan, setidaknya kalo di depannya ada orang asing, mereka mencoba berbicara memakai bahasa Inggris. Walau kelihatannya sok-sokan atau grammar nya acak-acakan. ‘how are you’ atau ‘yes, can I help?’ mah atuh sahenteuna mah lah. Bahkan terkadang, walau kita terlihat mengerenyitkan dahi karena tak mencoba menerka maksud mereka, mereka tetap nyorocos dengan bahasa Korea mereka.

Di kalangan mahasiswa yang sudah cukup mahir sih, mereka berbicara dengan Bahasa Inggris.

Good things nya sih, orang sini sangat menghargai dan bangga dengan bangsa mereka. Mereka prefer berbicara bahasa mereka ketimbang bahasa asing dalam keseharian mereka.

Transportasi Terintegrasi

Di negara-negara yang tergolong developed country sih justru aneh jika moda transportasinya masih acak-acakan. Salah satu indikator developed country kan transportasi yang simpel dan terintegrasi. Di sini, satu kartu bisa digunakan untuk dua moda transportasi utama di sini, bus dan metro. Taksi juga bisa denk. Mesin refill voucher kartu tersedia di subway atau di beberapa mart seperti 7 eleven. Tak lupa mesin pemecah uang besar juga tersedia, dan penggunaannya otomatis. Bahkan student id card di sini bisa multifungsi: kartu transportasi, kartu debit saat belanja atau makan di restoran, dan kartu atm. Pegang satu kartu sudah cukup aman untuk berkeliaran di negeri ini.

Semua jadwal metro dan bus terintegrasi. Letak halte dan subway juga diatur sedemikian rupa sehingga orang-orang mampu mencapai seluruh area dan tempat penting di suatu wilayah. Ongkos jauh dekat sama 1.100 won. Dan semisal keluar subway dan hendak naik bis, tak akan terkena ongkos lagi jika jeda turun dan naik kurang dari 30 menit. Berlaku juga sebaliknya atau sesama moda.

Kasarnya, moal nyasar teuing lah asalkan tahu tujuan dan (aplikasi) peta subway di tangan.

Tentang Ajuma

Satu hal yang menarik perhatian saya disini, Ajuma (wanita berusia lanjut) di sini semua setipe. Haha. Persamaan yang bisa dilihat secara kasat mata dari hampir semua Ajuma di sini adalah rambutnya yang ikal.

Saya pernah dengar dari istri, memang semua wanita berusia lanjut di sini akan mengikalkan rambutnya, dengan alasan supaya ga ribet. Yang saya amati lagi, dari waktu ke waktu, perkembangan style rambut wanita di sini tuh hampir sama semua. Usia anak-anak biasanya beragam, ada yang panjang ada yang pendek sekitar sebahu. Menginjak remaja, pada umumnya dan hampir sebagian besar wanita berambut panjang. Beberapa cm di bawah bahu mungkin yang paling pendek. Nah, wanita di sini akan memotong pendek rambut mereka setelah mereka menikah. Lagi-lagi alasannya supaya ga ribet. Mungkin dengan adanya anak, akan lebih mudah jika rambut mereka pendek sehingga mereka lebih leluasa mengurus anak. Setelah menginjak usia senja, memasuki fase Ajuma, barulah mereka mengikalkan rambut mereka.

Sejauh ini, pola seperti ini yang saya lihat.

Memperhatikan Disabled People

Saya lihat Korea sudah sangat teliti dan detail dalam rangka menyejahterakan warganya. Orang-orang yang terkategorikan sebagai golongan disabled sangat diperhatikan dengan baik.

Di setiap trotoar, rumah sakit, gedung pemerintahan, bank, subway, dan public facility lainnya pasti dilengkapi dengan lantai bertotol berwarna kuning. Lantai atau ubin timbul ini berfungsi sebagai bantuan bagi orang buta saat mereka hendak menggunakan fasilitas publik. Dengan demikian, mereka tak akan buta arah dan tak akan khawatir bila harus berjalan sendiri di jalanan kota atau saat ingin menggunakan fasilitas publik.

Lalu untuk orang tua, wanita hamil, dan penggunan kursi roda. Di metro dan bus tersedia tempat khusus untuk orang tua, wanita hamil, dan pengguna kursi roda. Biasanya ditempatkan di ujung gerbong dan dekat dengan pintu keluar-masuk. Tujuannya ya untuk memudahkan mereka keluar masuk. Agar mereka tak harus berjalan lagi dan langsung duduk saat mereka telah berada di dalam bus atau metro.  Semua orang di sini sangat menghormati tempat itu. Di metro, anak muda tak ada yang menduduki tempat itu. Kajeun nangtung. Di bus, jika kursi di bagian belakang sudah terisi penuh, beberapa orang memang menempati kursi untuk orang tua dan wanita hamil di depan, tapi jika ada orang tua dan wanita hamil naik bus, mereka yang menduduki tempat mereka langsung berdiri untuk memberikan tempat.

Satu hal yang baru saya temukan lagi di sini adalah parkir untuk mereka yang menggunakan kursi roda. Tempat parkir untuk mereka dicat warna kuning dan ada sign ‘kursi roda’ di atasnya. Parkir untuk mereka yang berkursi roda selalu di tempat yang dekat dengan akses gedung atau semacamnya. Tujuannya supaya mudah akses mungkin.

Mamang Pedal

Istilah Pedal diperuntukkan untuk delivery service. Restoran atau supermarket di sini biasanya memiliki jasa deliveryLet’s say, orang yang menjadi delivery man sebagai mamang pedal. Mamang pedal bertugas menggunakan sepeda motor. Di sini, hanya mamang pedal yang boleh ‘melanggar aturan atau norma’. Mamang pedal selalu tak segan untuk membawa motornya masuk trotoar jalan, masuk jalur pedestrian, nerobos lampu merah, dan menyalakan musik keras!

Kek dunia milik dia seorang haha.

Jangan Bawa Motor

Di sini sangat jarang ada orang yang bawa motor. Biasanya yang menggunakan motor, kalo ga orang yang hobi, ya mamang pedal. Selebihnya menggunakan transportasi publik. Jika memang ingin memiliki kendaraan pribadi. Mereka prefer menggunakan mobil atau sepeda. Kata mereka bahaya kalo pake motor.

 

Sejauh ini, baru hal di atas yang teramati. Sedang mencari hal menarik lain.

Mungkin ada lagi yang tahu hal menarik lainnya?

0 comments: On Hal Menarik di Korea

  • 1. Transportasi terintegrasi: kartu itu bisa juga ko dipakai bayar taksi. Asal uangnya cukup, ya.

    2. Soal Bahasa Korea: good thing about that one; mereka sadar benar itu negara mereka dan mereka sangat menghargai bahasa mereka. Makanya sering sedih kalo liat anak-anak muda (apalagi mereka yg masih kecil) lebih bisa bahasa Inggris dari pada bahasa Indonesia.
    Di sisi lain, kita bisa berbangga diri karena untuk kemampuan berbahasa kita bisa dibilang lebih bisa dari mereka. Maksudnya, dalam bahasa inggris pun pelafalan mereka masih terdengar aneh. Kecuali mereka yg emang udah sering banget ngobrol sama orang asing.

    3. Junior-Senior: bukan cuma hubungan junior-senior aja, tapi hubungan antara atasan-bawahan, dan mereka yg ada perbedaan usia juga. Nilai Konfusianisme yang ada dari zaman kerajaan itu masih tetap ada dan akan terus ada meskipun westernisasi dan globalisasi udah membaur di Korea.

    4. Sosialisasi
    Yup, buat orang Korea bersosialisasi itu penting. Ga cuma merokok atau makan, ada lagi satu yg pasti pernah lewat di pengelihatan kamu: minum. Baik itu minum kopi, teh, apalagi sul (alkohol). Ya kan? ^^
    Sebenernya soal kebiasaan mereka bersosialisasi ini ada teorinya. Catatan sejarah kebudayaannya sih, lebih tepatnya. Sayangnya catatan punya aku keselip entah dimana jadi belum bisa share hehehe.

    Take care di sana, Jek. Salam buat Tetehnya. Sama si calon juga 🙂

    • Mantap di. Makasih additional nya. Gue tambahin di tulisannya ya 😀
      Aamiin. Makasih di. Sukses buatmu 🙂

      • Mamang Pedal..
        Cuma mau mengkoreksi soal lafal. Secara lingusitik, fonem 배달 dibaca ‘bedal’, bukan ‘pedal’. Or at least, yang aku pelajari sih gitu hehehe. Tadi pas baca lsg kepikiran sama pedal sepeda :p
        Dan sepakat bgt mereka merasa jalur pedestrian itu punya mereka sendiri. Pengalaman hampir ketabrak sekali dan diklaksonin berkali-kali soalnya hahaha

      • Maap di masih belajar wkwk. Gue jg awal baca itu keingetan pedal sepeda jg haha..

Leave a Reply to Zaky Amirullah Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: