Sebut Nama

Selalu ada rasa bercampur setiap kali mengingat apa yang kulakukan di masa silam. Kamu tahu? Apa yang secara tak langsung pernah aku lakukan terhadapmu jauh, jauh sebelum kita bertemu? Mungkin kamu tidak percaya. Jangankan kamu, pun aku hingga saat ini tidak percaya bahwa apa yang kulakukan tempo dulu membawaku pada Satu Pemastian itu. Namun apa daya, kini, aku harus berhadapan dengan realita yang berdiri gagah menertawakan semuanya. Tidak, ini bukan realita kebetulan semata, menurutku. Ini skenario, yang aku yakini, telah dirancang seindah mungkin oleh Sang Pencipta. Jauh di luar nalar kita.

Aku sebut namamu di setiap untaian doaku.

Ya, itu yang aku lakukan sebelum kalimat tak terlupakan dari bibirmu itu terucap. Aku meminta, seolah tak ada wanita lain di dunia ini yang aku harapkan. Aku memohon, seolah hanya kamu satu-satunya wanita yang aku idamkan. Hanya namamu yang kuadukan di setiap penghujung sepertiga malam, kala itu. Namamu seorang. Terdengar konyol. Mungkin. Terdengar memaksa. Ya, bisa jadi.

Entah apa yang hinggap di dalam benakku saat itu. Aku pernah bercerita, bahwa di masa itu, rasaku senantiasa bertarung melawan logikaku. Aku tak bisa berbohong bahwa rasaku terhadapmu begitu besar. Namun, aku juga tak bisa mengelak bahwa jangkauanku terhadapmu begitu jauh. Aku menginginkanmu, namun di saat yang sama aku merasa tak akan bisa mendapatkanmu. Oleh karenanya, saat itu aku merasa, sebut namamu dengan jelas di hadapanNya adalah senjata terakhirku.

Ya Allah, hamba memiliki rasa yang sangat besar kepadanya. Satu keinginan hamba saat ini adalah, di masa depan nanti, hamba ingin hidup satu atap dengannya. Membina sebuah keluarga kecil bersama, membangun batu bata peradaban bersama. Hamba tidak tahu apakah ia yang terbaik buat hamba atau tidak. Karena, hanya Engkau lah yang Maha Tahu segalanya. Namun, atas segala pertimbangan dari pengetahuan dan rasa hamba yang terbatas ini, saat ini, hamba merasa yakin bahwa ia adalah yang terbaik untuk hamba. Takdirkanlah kami bersama, pertemukanlah kami dalam sebuah skenario indah yg tak dapat kami duga. Engkau Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada hal yang paling hamba harapkan saat ini selain permintaan itu Ya Rabb. Ya Aziz, kabulkanlah doa hamba.

Doa itu senantiasa aku ulang. Berharap, doa yang Allah kabulkan selaras dengan apa yang aku pinta. Berharap, ada suatu skenario tak terduga yang  menjumpakan kita. Berharap, kita dipertemukan di jalan yang tidak disangka-sangka.

Aku sadar diri atas posisiku saat itu. Aku juga telah menyiapkan diri jika apa yang aku harap berseberangan dengan kenyataan yang harus aku terima. Karena memang pada hakikatnya, wanita baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki baik untuk wanita yang baik. Aku siap jika ternyata menurutNya kamu terlalu baik untukku, dan aku tidak lebih baik darimu. Aku siap.Benar-benar siap.

Maha Suci Allah. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Allah menyelaraskan kehendakNya dengan apa yang aku pinta. Aku dipertemukan denganmu dalam kisah tak terduga. Aku diberikan jalan untuk mengetahui jawabanmu dari pintu yang tidak disangka-sangka. Dan semoga, Allah tetap melanjutkan kisah ini hingga tanganku dan tangan ayahmu bersalaman dan mengucapkan kalimat yang mampu menggetarkan Arsy-Nya.

Mari kita kembali menjadi insan lugu yang tetap bersabar untuk menunggu.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: