Sebuah Catatan dalam Menulis

Menulis, untuk sebagian orang, adalah hal yang menyenangkan. Ia bisa dengan senang hati meluangkan sebagian besar waktunya hanya untuk duduk di depan laptop, mengasyikkan diri dengan ruang pikirannya, bermain dengan kata-kata yang muncul dan lewat, sembari ditemani beberapa buku yang ditumpuk di sebelahnya. Tak sedikit bahkan yang menjadikan aktivitas menulis ini sebagai salah satu profesinya. Berbagi ilmu dan emosi sembari mencari penghidupan darinya.

Atau ia membuat dirinya nyaman di sela-sela aktivitasnya dengan menulis di atas sebuah catatan bersampul dengan tulisan “Diary” di bagian depannya. Sebuah pena dan secangkir minuman hangat sudah cukup untuk dapat membawanya pada sebuah dunia yang hanya dimengerti olehnya. Tidak ada yang diizinkan masuk. Dunia yang hanya untuk dia seorang.

Untuk sebagian yang lain, aktivitas menulis ini masih dikaitkan dengan suasana hati, waktu yang tersedia, hingga ada atau tidaknya ide yang dapat dituangkan. Simpelnya, menulis hanya ketika sedang mood, mendapat waktu yang–menurutnya–dirasa tepat untuk menulis, atau saat ada sesuatu yang benar-benar ingin ditulis. Jika satu atau semua kondisi tersebut tidak terpenuhi, menulis sering kali hanya berakhir wacana, walau sebenarnya ia sangat senang dan sangat ingin menulis.

Ada beberapa catatan yang mungkin bisa dijadikan sticky notes dalam menulis. Catatan yang berasal dari perenungan pribadi, pengalaman, dan buah diskusi dari beberapa orang yang menyenangi kegiatan tulis-menulis.

Niatkan untuk Berbagi

Semua pekerjaan bergantung niat di baliknya. Dan ia akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang ia niatkan. Menulis adalah salah satu metode berbagi. Berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, berbagi visi, berbagi emosi.

Menulis bisa dimulai dari sesuatu yang dekat dengan apa yang sedang dipikirkan dan apa yang sedang dirasakan. Seperti halnya berbagi hikmah dari apa yang baru saja dialami, menyebarkan informasi temuan terkini yang dianggap penting, atau hal baik yang dirasa orang lain perlu tahu. Tak perlu menunggu pikiran terisi penuh oleh segudang cakrawala terlebih dahulu. Mulai dari apa yang sedang melekat dalam diri sudah cukup.

Meniatkan berbagi berarti mengedepankan kebermanfaatan. Saat kebermanfaatan menjadi value utama yang tertuang dalam tulisan, kebaikan yang didapat akan jauh lebih banyak dari hanya sekedar like atau komentar positif semata. Ide yang pada akhirnya terpancang dalam pikiran pembaca bernilai lebih baik dari dunia dan seisinya, karena mungkin bisa menjadi sumber hidayah atau jalan keluar kesulitan seseorang.

Karena menulis adalah perkara kebermanfaatan. Dan selama hal yang ditemui mengandung unsur kebermanfaatan untuk sekitar, tidak ada frasa terlalu sedikit atau hal remeh untuk dibagikan dalam bentuk tulisan.

Satu pembelajaran yang hinggap di benak satu pembaca saja, sudah menjadi tabungan kebaikan yang akan terus mengalir hingga akhir hayat. Dan hal itu akan teraktivasi jika dan hanya jika tulisan itu diniatkan sebagai bentuk berbagi kebermanfaatan.

Menulis untuk Menulis

Menulis untuk hanya menuliskan apa yang ingin ditulis, tanpa ada sebuah keinginan besar agar dibaca banyak orang. Berharap agar tulisan yang dihasilkan bermanfaat untuk banyak orang tidak salah, tapi berharap besar untuk di-like atau dikomentari mereka sepertinya hanya akan menurunkan nilai dari tulisan itu.

Terkadang banyak bisikan yang cukup mengganggu saat hendak mulai menulis. Mulai dari “bakal dibaca ga ya?” atau “bagus ga ya tulisannya?” atau “duh, takut rancu” dan lain sebagainya. Mulai dari kekhawatiran eksternal seperti pandangan orang, hingga kekhawatiran internal seperti kurang percaya diri yang sebenarnya akan berujung pada kekhawatiran eksternal juga.

Menulis adalah hubungan bilateral antara si penulis dengan media tulisnya. Tidak secara langsung dengan orang yang membaca tulisannya. Mengesampingkan pandangan orang lain dan memfokuskan diri untuk menuangkan yang terbaik dalam tulisan akan membuat pikiran dan hati lebih tenang. Tulisan yang dihasilkan pun tidak akan terkontaminasi oleh hal-hal yang akan mengurangi value kebermanfaatan yang terdapat di dalamnya.

Saat kegiatan menulis benar-benar ditujukan untuk menulis, sunnatullah semesta akan bekerja sedemikian rupa untuk menjadikan tulisan itu–setidaknya–sampai pada orang yang sedang membutuhkan. Saat value kebermanfaatan dijadikan ruh utama dalam tulisan, sunnatullah semesta akan bekerja sedemikian rupa sehingga tulisan itu berakhir menjadi sesuatu sebagaimana ia diniatkan. Biarkan sunnatullah semesta yang menyampaikan maksud dari tulisan pada siapapun yang membutuhkan.

Tuangkan apa yang memang ingin dituangkan. Saat ada hikmah hidup tertangkap, tuangkan dalam tulisan. Bisa jadi di luar sana ada orang yang sedang mengalami hal sama namun belum tahu bagaimana menghadapinya. Saat ada hasil seminar atau diskusi tercatat, tuangkan dalam tulisan. Bisa jadi di luar sana ada orang yang sedang membutuhkan informasi tersebut. Saat ada pandangan hidup terlintas, tuangkan dalam tulisan. Bisa jadi di luar sana ada orang yang sedang ingin mempelajari cara berpikir orang lain. Saat ada suatu pencapaian yang didapat, tuangkan dalam tulisan. Bisa jadi di luar sana ada orang yang sedang mencari inspirasi atau sesuatu yang dapat menguatkannya.

Mengondisikan Diri Menangkap Ide

Ide memang fondasi utama dalam sebuah tulisan. Ide di sini bersifat luas. Tidak hanya sesuatu yang berasal dari dalam pikiran. Ia juga bisa berasal dari kejadian sekitar yang muncul. Intinya, sesuatu yang menjadi sumber inspirasi dalam menulis.

Menunggu ide muncul baru menulis, biasanya hanya berakhir di tataran niat. Mencari ide dulu baru menulis, biasanya berakhir pada stagnasi. Tidak jarang bahkan hasrat untuk menulis tiba-tiba hilang tanpa alasan yang jelas. Menggantungkan aktivitas menulis pada ide hanya akan membuat kegiatan menulis itu sendiri menjadi kurang produktif.

Ide tidak perlu dicari ataupun ditunggu. Biarkan ia datang dan mampir dalam pikiran dengan sendirinya. Karena pada hakikatnya, ide yang dapat dijadikan sumber inspirasi dalam menulis itu tersebar di mana-mana. Mengalir deras, berserakan di sana-sini. Hal yang perlu dilakukan hanyalah mengondisikan diri untuk menangkap ide-ide terserak itu.

Banyak hal yang dapat dilakukan dalam pengondisian diri ini. Mengasah kepekaan, contohnya. Kepekaan yang dimaksud adalah kepekaan dalam mengambil hikmah dari apa yang terjadi di sekitar. Baik yang dialami sendiri, maupun yang dialami orang lain. Hal yang mungkin dianggap remeh oleh orang lain, akan menjadi sesuatu yang tak ternilai bagi orang yang memiliki sensor hikmah yang sensitif. Saat sensor hikmah aktif, kejadian sekecil apapun dapat diubah menjadi tulisan yang mengesankan.

Bentuk lain pengondisian diri ini adalah berdiskusi. Diskusi adalah salah satu media menangkap ide yang efektif, karena saat berdiskusi ide berlompatan ke sana kemari. Terkadang, tak hanya dari sesuatu yang didiskusikan saja, dari cara kawan diskusi menyampaikan argumen, cara pandang yang berbeda, emosi yang terlibat, bisa dijadikan ide dalam menulis. Tidak ada pelibatan wawasan, emosi, visi, dan pengalaman yang lebih banyak selain dari saat berdiskusi. Akan ada banyak unsur ide yang dapat ditangkap saat berdiskusi.

Pengondisian diri yang umum dan simpel dilakukan adalah membaca buku. Buku menyimpan segudang cakrawala yang siap untuk disebar ulang. Dan takkan pernah habis. Meluangkan waktu untuk membaca buku, akan memberi kesempatan bagi pikiran untuk menangkap ide-ide yang terkandung di dalamnya. Tak jarang bahkan, ide untuk menulis muncul hanya dari satu potongan kalimat yang tercantum di sana.

Bentuk terakhir dari pengondisian diri yang bisa dilakukan adalah merenung. Merenungi apa-apa yang telah dilakukan atau apa-apa yang pernah terjadi. Menoleh sejenak pada masa lalu atau berdialog dengan diri sendiri sering kali menjadi opsi yang dilakukan saat merenung. Ide-ide biasanya muncul saat proses mencerna apa yang didapat dari masa lalu dan lintasan-lintasan saat berdialog dengan diri sendiri.

Sehingga saat merasa tidak ada ide untuk menulis, bisa jadi itu hanya kurang banyak mengondisikan diri dalam menangkap ide. Menulis, hanya butuh sedikit usaha untuk menjaring ide-ide yang beterbangan bebas di luar sana.

Menjiwai Tulisan

Menulis tidak hanya mentransfer apa yang diketahui, namun juga apa yang dirasakan. Beberapa tulisan yang peruntukannya khusus, semisal perihal emosi wanita, untuk sesiapa yang sedang bingung akan sesuatu, atau tulisan yang melibatkan emosi lainnya, penjiwaan tulisan menjadi penting sehingga mereka yang membaca dapat menangkap maksud sebenarnya. Seperti sebuah pepatah mengatakan, apa yang berawal dari hati akan kembali sampai pada hati.

Menaruh jiwa pada tulisan dapat dilakukan dengan berdialog dengan orang yang pernah merasakan, mengondisikan emosi seperti yang akan ditampakkan pada tulisan, atau menuangkan pikiran dan perasaan seutuhnya pada tulisan. Berdialog dengan orang yang pernah merasakan akan menambah pengetahuan utuh tentang rasa yang akan dituangkan dalam tulisan. Mengondisikan emosi saat menulis akan memberikan makna utuh pada pembaca. Menuangkan pikiran dan perasaan seutuhnya akan memberikan tulisan yang seutuhnya pula.

Emosi yang disisipkan dan pengetahuan utuh tentang rasa akan memberikan ruh lain pada tulisan. Tulisan yang memiliki emosi akan lebih cepat sampai dan tersimpan dalam diri pembaca. Menjiwai tulisan berarti menyampaikan tulisan lewat hati.

Kontinu hingga Terkarakterisasi

Galdwel dalam bukunya “Outliers” mengatakan bahwa seseorang tidak akan mencapai derajat ahli sebelum ia melakukan apa yang ia geluti selama 10.000 jam. Begitu pun dalam hal menulis. Salah satu tujuan teknis dalam menulis adalah menemukan karakter tulisan. Hingga ketika sebuah tulisan tanpa nama dipublikasikan, orang-orang langsung dapat menebak siapa penulisnya.

Seorang penulis yang senantiasa mengasah kemampuan menulisnya akan menemukan ciri khasnya sendiri seiring berjalannya waktu. Ciri khas seperti gaya bahasa, pola penulisan, kadar pelibatan emosi, dan alur tulisan. Hingga akhirnya semua itu dikenal menjadi karakter tulisan si penulis.

Banyak penulis yang kini telah menemukan karakter tulisannya sendiri. Dari mulai penulis zaman dahulu hingga penulis masa kini. Dari mulai Buya Hamka hingga Salim A Fillah. Memang karakter tulisan bersifat teknis. Tidak lebih penting jika komparasinya makna dan maksud dari tulisannya itu sendiri. Tetapi dengan adanya karakter dalam tulisan, seseorang akan mudah mengenali dan tenggelam dalam tulisan yang ia baca. Ia pun akan mampu mengikuti alur dari tulisan yang ia baca.

Dan syarat untuk mencapai titik penguasaan karakter tulisan adalah menulis secara kontinu. Menulis tanpa henti hingga selesai 10.000 jam waktu menulis. Tidak masalah ketika proses awal karakterisasi adalah menyandarkan tulisan atau mem-benchmark pada tulisan orang lain. Selama dilakukan secara kontinu, waktulah yang kemudian akan mengantarkan pada pertemuan dengan karakter tulisan yang dicari.

 

Catatan di atas hanya sebuah pengingat. Dan tidak menutup kemungkinan akan muncul catatan-catatan lain yang bisa diaplikasikan.

Semoga bermanfaat.

0 comments: On Sebuah Catatan dalam Menulis

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: