Satu Pemastian

Siang ini, lamunan sesaat, kembali membawaku padamu. Entah, apa yang dilakukan neuron di otakku sehingga sinyal-sinyal elektrik-kimiawi di sana mengantarkanku pada bayang-bayangmu, pada tangkapan dan cuplikan momen saat pertama kali kita bertemu. Bukan sebagai kawan yang hendak berkenalan, bukan pula sebagai partner kerja yang hendak mendiskusikan dinamika lapangan. Melainkan, sebagai dua insan yang hendak mencari kepastian. Kepastian dari kabar-kabar burung yang cukup membuat rasa penasaran berfokus jadi satu saat itu.

Ya, aku masih tertegun akan awal kisah Kesalingan yang membawa pertemuan antara aku dan kamu. Saat itu, aku masih belum yakin akan kebenaran dari kabar yang sampai di telingaku. Saat itu, aku juga masih belum percaya hal yang selama ini hanya sebongkah angan, menjadi bagian dari kenyataan. Aku menahan diri, mencoba tidak berlaku sesuai keinginan hati. Tak ada hal yang ingin kulakukan, selain percakapan empat mata. Untuk memastikan segalanya. Sekali, untuk selamanya.

Pertemuan terharap akhirnya tiba. Pertemuan yang sukses membuatku kacau dalam bertingkah, kosong dalam berpikir, kelu dalam berucap. Pun dengan kamu. Lirikan yang tak pernah tertuju padaku dan tingkah malu yang sesekali membawamu mengalihkan pembicaraan pada seseorang di sebelahmu itu masih terekam jelas dalam benakku. Cukup lama berbasa-basi. Bukan untuk mengulur waktu, namun karena tak tahu di titik mana pemastian itu harus dimulai.

Menit berganti menit. Aku memberanikan diri untuk mengawali semuanya. Satu pertanyaan yang ingin kupastikan sejak lama. Sejak aku tahu kabar itu.

Serius kamu ingin melangkah ke mistaqan ghaliza?

Tak banyak ucap, tak banyak berkata-kata. Yang aku dengar darimu saat itu hanya satu kata tegas. Satu kata yang membuatku terdiam sejenak, menarik nafas panjang, dan tak kuasa membiarkan seluruh rasa bercampur menjadi satu. Ada rasa tak terdefinisi. Senang, khawatir, bahagia, cemas, takut, gemetar, entah ada berapa rasa lagi yang bertolak menjadi satu. Sejenak, aku berpikir akan masa yang akan datang, sekian detik kemudian aku berkaca pada masa lalu. Entah apa yang kucari. Mungkin sebuah kenyataan, keyakinan, bahwa tiba saatnya aku memasuki zona ini.

Tetiba muncul satu pertanyaan lagi dalam kepalaku. Aku ingin kembali memastikan sesuatu. Bukan karena tidak yakin akan rasaku terhadapmu. Atau rasamu terhadapku. Karena kamu tahu, bahwa rasa ini sudah kusimpan sejak lama, bahkan sebelum kabar itu dengan sayup menghampiri telingaku.

Kenapa mau sama saya? Bukankah di luar sana banyak yang jauh lebih mapan, lebih intelek, dan lebih segalanya dari saya? Saya belum berpenghasilan. Bahkan studi saja belum selesai. Kalo boleh tau, apa yang mendasarimu memantapkan hati seperti itu?

Tiada jawaban dari pertanyaan yang paling kutunggu selain jawaban dari pertanyaan itu. Kulihat kamu diam cukup lama. Sekilas aku berpikir apakah pertanyaanku terlalu berat untukmu. Karena aku tahu, wanita baik diselimuti rasa malu. Aku diam menunggu. Aku mencoba menarik tatapanku pada titik fokus yang terletak jauh di belakangmu.

Seketika, dengan tertunduk kamu mengucap sesuatu,

Saya mencoba berpikir dan mencari, tapi tidak menemukan jawabannya. Satu hal yang saya tahu, bahwa saya telah memilihmu

Aku kembali terdiam. Mencoba menghentikan seribu pertanyaan lain yang kembali muncul di kepalaku. Ya, aku tahu, wanita terkadang tak pandai dalam mendefinisikan apa yang sedang ia rasa. Entah mengapa, satu kalimat itu sudah lebih dari cukup buatku. Untuk menjawab apa yang kamu harap. Untuk menjadikan realita apa yang aku damba.

Tak terasa, kini semakin dekat.

Maaf, maaf jika aku terlalu berlebihan menanggapi hal ini. Izinkan aku mengajakmu kembali menjadi insan lugu, dan mari kita sama-sama kembali menunggu.

0 comments: On Satu Pemastian

Leave a Reply to devu Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: