Rindu Itikaf

Di 10 hari terakhir ini, saya ngerasa ada yang hilang. Satu agenda yang biasanya rutin dilakukan di 10 malam terakhir ga bisa saya nikmatin lagi di sini.

Itikaf.

Biasanya, di awal malam ke 21, masjid-masjid yang akan dikunjungi udah dilist terlebih dahulu. Walau ujungnya tetep ke masjid favorit lagi haha. Kalau ga Masjid Habiburrahman, ya Masjid An-Nur Biofarma.

Nah, faktor-faktor yang jadi pertimbangan pemilihan masjid untuk itikaf biasanya ada 4 minimal: kenyamanan tempat, bacaan Quran yang dibaca saat QL, ketersediaan pelayanan sahur dan buka, dan ada teman itikaf atau tidak. Soalnya kalau sendirian teuing, males oge haha.

Akhir-akhir ini, Masjid An-Nur naik pamor di kalangan itikaf-ers. Tempatnya cukup nyaman. Ada kajian setelah tarawih dan selepas shubuh yang biasanya diisi oleh ustad-ustad terkemuka. Dan yang paling menjadi magnet diantara semuanya adalah sahur dan buka disediakan gratis. Mantap. Pilihan terbaik bagi para pencari gretongan.

Tapi bagi para pencari kenikmatan dan kekhusyuan dalam beribadah, Masjid Habiburrahman jadi top choice sejauh ini. Belum ada yang bisa mengalahkan kualitas QL dan kajian di sana, menurut saya. Dan sepengalaman saya, itikaf disana adalah yang paling menentramkan. Biasanya, di malam 25, 27, dan 29 Ramadhan pilihan itikaf jatuh di Masjid Habiburrahman.

Itikaf juga jadi momen silaturahim dengan kawan-kawan sejawat. Perbincangan dengan mereka adalah saat-saat ditunggu. Dan tilawah, shalat malam, dan diskusi keislaman bersama mereka adalah hal yang dirindukan.

Sayangnya.

Di sini saya tak bisa mendapatkan feel itu lagi. Sedih gan.

Masjid besar di Korea cuman satu. Belum seperti di Jepang yang jumlahnya sudah belasan. Mungkin sekarang sudah masuk puluhan. Sisanya musholla-musholla yang tersebar di beberapa daerah. Dan musholla besar terdekat dari sini cukup jauh.

Satu lagi, sejauh yang saya tau, di sini tak ada kajian keislaman dan QL berjamaah yang sesuatu. Apa mungkin karena sudah ter-benchmark sama Habiburrahman ya? Haha. Tapi sepertinya, feel saat itikaf di Habiburrahman atau Biofarma ga terasa kalaupun berkunjung ke musholla. *niat itikafna naon sih*

Sebenarnya satu alasan yang membuat kaki ini tidak berusaha untuk berkunjung kesana, terlepas dari yg nama feel atau apalah itu, adalah Daehan yang selalu terjaga di tengah malam. Bahkan terkadang hingga pagi.

Daehan baru bisa tidur tengah malam. Kadang kalau bisa tidur pun, tidurnya ga nyenyak hingga selepas shubuh. Jadi baru bisa merebahkan badan setelah shubuh. Akibatnya, harus berbagi tugas sama istri. Berbagi shift agar keduanya tak menjadi zombie di pagi hari.

Sehingga hanya bisa mencuri waktu tilawah atau menulis di tengah malam, di sela-sela aktivitas menemani Daehan. Satu sisi, sangat disayangkan ga bisa lagi merasakan itikaf seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi sisi lain, aktivitas menemani Daehan juga tak bisa ditinggalkan. Mungkin ini sudah jalannya.

Ah, saya rindu itikaf euy..

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: