Rezeki Hidayah

Ah, lama tak bersua. Hai.

Awal tahun ini, ingin mencoba membuka dengan sebuah refleksi.

Setahun perjalanan hidup ke belakang, sudah pasti terlewati oleh banyak lika-liku, naik-turun, jatuh-bangun. Ada satu waktu dimana inginnya leyeh-leyeh, ada di waktu lain dimana semangat banget buat datang awal ke masjid. Ada satu kesempatan dimana bisa baca banyak paper dalam satu kali duduk, ada di kesempatan lain dimana hanya diisi dengan nge-youtube. Dan tentu masih banyak lagi drama-drama yang lain yang pada akhirnya mengantarkan pada pembelajaran dan hikmah.

Diantara semua pembelajaran dan hikmah yg telah dicoba disarikan, ada satu hikmah yang menurut saya pas buat dijadikan headline.

Rezeki Hidayah.

Kata “rezeki” dan “hidayah” ini menurut saya punya ketersalingan satu sama lain.

Sejauh yang saya fahami, konsep rezeki itu tidak hanya terbatas pada harta. Ilmu, pemahaman, kemudahan, pasangan, anak, teman-teman shalih, termasuk hidayah, adalah rezeki dari Allah buat hambaNya. Karena sejatinya rezeki adalah hal-hal baik yang Allah berikan sebagai hadiah bagi hambaNya yang senantiasa berusaha untuk menaikkan kualitas imannya dan mengerjakan amalan-amalan baik (QS. Ath Thalaq:11). Konsep yang lain, rezeki itu adalah hak prerogratif Allah, dimana Ia berhak untuk meluaskan atau menyempitkan rezeki bagi seorang hamba sebagaimana yang Ia kehendaki (QS. Ar Ra’d:25).

Hal ini sejalan dengan konsep hidayah, bahwa Allah takkan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka (QS. Ar Ra’d:11). Bahwa Allah takkan memberikan hidayahNya hingga kita, dengan segala effort yang kita punya, berusaha untuk menemukannya sendiri. Ada usaha yang harus ditempuh sebelum akhirnya Allah memberikan hidayahNya, sebagaimana ada hal yang harus dilakukan sebelum Allah menurunkan rezekiNya.

Kalau saya mencoba menyimpulkan, bahwa pertama, hidayah adalah rezeki dari Allah bagi siapa saja yang senantiasa berusaha menaikkan kualitas imannya. Kedua, hidayah adalah hadiah dari Allah bagi siapa saja yang terus berupaya mengalahkan dirinya sendiri dalam proses menjadi insan yang lebih baik.

Perjalanan satu tahun ke belakang membuat saya tersadar, bahwa ada gap yang cukup besar antara harapan saya dengan realita yang ada, juga antara kondisi ideal dengan kondisi existing. Setelah saya coba tarik ke hulu, ternyata mungkin akar masalahnya satu: saya tak cukup berusaha untuk menekan hawa nafsu.

Tapi serius, sepengalaman saya, melawan diri sendiri itu memanglah tidak mudah.

Saya pernah mengalami, dimana mengangkatkan kaki buat ke masjid, padahal saya ngeh 10 menit lagi shalat dimulai dan jarak rumah-masjid tidak terlalu jauh, itu tidak mudah. Saya juga pernah mengalami, menyempatkan membuka Quran di sela-sela kerjaan lab, padahal Quran setiap hari ada di tas, itu sulitnya gak nahan. Menahan godaan saat kepikiran buat mendengarkan kajian di monitor kiri, sedangkan tab browser di monitor kanan sedang nganggur, juga itu sungguh berat.

Saya suka iri dengan mereka yang dengan ‘mudah’nya menapakkan kaki ke masjid, hadir di majelis ilmu, dengan kajian online, menyempatkan tilawah setiap hari, sedekah tidak pakai itungan, menolong teman tanpa syarat. Betapa saya bahagia melihat orang-orang yang selalu diselimuti hidayah. Betapa saya juga ingin menjadi seperti mereka yang terlihat ‘mudah’ melakukan itu semua.

Maka, saat saya mencoba untuk berteriak kencang di dalam hati, lalu memaksakan diri untuk meng-eliminate semua distraksi-distraksi yang ada, dan pada akhirnyaㅡalhamdulillah atas hidayahNyaㅡsaya berhasil melakukan apa yang sudah seharusnya saya lakukan, itu rasanya…….. Ugh. Makasih Ya Allah!

Ada kepuasan, keharuan, kesenangan, kesyukuran tersendiri yang dirasa.

Dari sana saya menyadari, bahwa hidayah itu sangat mahal. Tidak semua orang diberikan hidayah yang sama. Yang sedih adalah ketika saya menyadari bahwa titik dimana saya berpijak masih jauh jauh beberapa langkah dari mereka yang Allah kasih ‘kemudahan’. Di situ saya merasa bahwa saya tidak cukup berikhtiar dalam menemukan hidayah. Tapi dibalik ‘kemudahan’ yang saya pikirkan, mungkin sebenarnya ada banyak perseteruan internal juga dalam diri mereka. Atau mungkin apa yang saya lihat adalah hasil jatuh-bangun mereka beberapa waktu ke belakang. Tapi yang pasti, menjemput hidayah itu tidak mudah. Itulah yang menjadikan hidayah sangat mahal.

Dari sana juga saya merasa, bahwa hidayah adalah hadiah terbaik. Tiada hal yang paling membuat saya bersyukur, selain ketika saat saya mampu melawan diri saya sendiri untuk bisa melakukan sesuatu yang menurut saya harus saya lakukan. Saat saya merasa dipermudah untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya sulit saya lakukan, saya merasa saya sedang diberi hidayah olehNya. Dan itu adalah ‘apresiasi’ dan hadiah terbesar bagi saya dariNya atas ikhtiar yang telah saya coba lakukan.

Semoga rezeki hidayah ini bisa terus diikhtiarkan mulai dari detik ini dan seterusnya. Aamiin.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi

ㅡAli Imran:8

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: