Respek ke Bumil

Sehari-hari berinteraksi sama bumil, membuat saya menyadari satu hal. Bahwa bumil itu benar-benar luar biasa kerennya.

Di tengah segala hal yang dia rasakan, dari mulai mual, sakit pinggang, susah jalan, ampe susah tidur, dia tetap berjuang untuk dapat beraktivitas seperti biasa. Padahal kayaknya, kalo misal ga kurang-kurangnya sabar mah udah pasti bawaannya ingin nangis seharian. #sotoy

Tapi beneran.

Yang saya alami selama menemani istri, dia selalu terlihat menahan rasa sakit setiap kali mau tidur, bangun tidur, bangun dari duduk, jalan ke kampus atau pulang dari kampus. Terutama waktu malam hari selepas pulang dari kampus. Kelihatannya tuh semua badan terasa sakit. Mungkin akumulasi dari aktivitas dia seharian kali ya.

Semisal, setiap kali mau tidur, istri selalu terlihat kesakitan saat harus menentukan posisi tidur. Sekarang, setiap kali mau tidur, istri harus menemukan posisi yang nyaman buat dia dulu soalnya. Kalau ga, dia ga bakal nyenyak tidur, atau ga biasanya pas bangun tidur, dia akan susah bangun karena pinggangnya sakit.

Terus misal setiap kali bangun tidur atau bangun dari duduk, entah itu sehabis shalat atau sehabis makan, dia butuh penopang untuk bangun. Sudah jadi default sekarang. Setiap kali dia mau berdiri, saya harus lebih dulu berdiri untuk membantu menopang dia untuk berdiri. Belum selesai. Setelah dia berdiri, pinggangnya harus dibuat lurus terlebih dahulu sebelum akhirnya ia melanjutkan aktivitas yang lain.

Terkadang suka ga tega waktu melihat dia menahan rasa sakit. Mau bantu ini itu malah kadang jadi tak membantu. Kadang (atau mungkin seringkali) saya berada di posisi serba salah. Pijitin ini sakit, bantuin itu sakit. Bahkan, dia sendiri bilang ga tau harus diapain. Jadinya, tak berani melakukan sesuatu sebelum dapat instruksi dari istri.

Melihat perjuangan istri yang sungguh luar biasa, di situ kadang membuat hati saya terenyuh.

Saya salut pada para bumil. Terutama istri. Bisa memenej kesabaran dalam menahan segala rasa yang dirasakan. Apalagi istri. Di sepanjang masa ke-bumil-annya, ia harus melewati hari-hari dengan pulang pergi lab untuk berkesperimen. Waktu masa-masa morning sickness merajalela, bahkan ia lalui semua itu sendirian. Sungguh kuat sekali kamu ay.

Melihat istri yang berjuang sedemikian kuatnya, tetiba jadi ingat Mamah yang pasti mengalami hal serupa. Walau saya tidak melihat perjuangan Mamah secara kasat mata (nya heueuh da aku nu dikandung), tapi melihat perjuangan istri sekarang, saya juga yakin Mamah telah melewati masa-masa hebat dimana kesabaran diuji dengan sebenar-benar ujian. Atas perjuangan membawa beban berat dan menahan rasa sakit yang luar biasa, saya sayang kalian berdua pokoknya.

Satu yang dapat saya simpulkan, bahwa bumil itu benar-benar hebat. Kesabaran selama melewati masa-masa sulit, kesabaran saat harus menahan rasa sakit, kesabaran dalam menjalani hari-hari yang tidak ringan, benar-benar terlihat dengan jelas. Sorot mata lelah tidak menjadikan mereka surut senyuman. Di tengah ia harus mengurusi diri sendiri, ia bahkan masih bisa mengurusi orang lain.

Teruntuk para bumil, saya benar-benar respek pada kalian.

Teruntuk istriku, I heart you so much pokoknya.

Keren pisan. Sungguh saya ingin belajar kesabaran dari kalian.

0 comments: On Respek ke Bumil

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: