Rekaan Kelulusan

Assalamualaikum, Yah..

Yah, Zaky mau sedikit cerita..

Satu hal yang membuat zaky ga percaya di titik zaky dimana berdiri sekarang adalah, zaky udah di penghujung tahun di ITB Yah. Cepat pisan waktu bergulir. Antara terlalu banyak hal yang zaky lakuin sampai kurang merasakan alur hidup, atau terlalu banyak waktu yang zaky buang sampai-sampai baru sadar sekarang udah di ujung jalan. Serasa kemarin zaky diskusi sama Ayah ITB nya diambil apa ngga, serasa kemarin zaky pamer jaket almamater ITB di hadapan Ayah. Yap, sekarang udah mau sampai finish aja.

Penghujung semester 8, buat kebanyakan mahasiswa termasuk zaky, adalah masa-masa dimana tema hidup yang mewarnainya mengerucut jadi satu atau setidaknya terfokuskan pada satu tema, kelulusan. Segala hal pengiring tema itu kayak seminar, ujian komprehensif, draft TA, bimbingan, sidang TA, wisuda, dan kawan-kawannya mendadak laris di perbincangan sekitar. Pun hampir di setiap perbincangan yang Zaky lakukan, topik-topik itu lebih sering keluar dan intensitasnya nambah.

Selalu ada perasaan bahagia saat liat temen-temen Zaky bersenyum lebar di hari kelulusannya. Setiap liat mereka berbangga dengan toganya, berkumpul bersama kerabat yang datang menjumpainya, berfoto dengan orang yang dicintainya, serasa ingin segera berada di posisi mereka. Zaky pernah melewati beberapa rangkaian wisuda di himpunan dan melihat temen-temen di luar kampus yang diwisuda. Berulang. Kebahagiaan dan canda tawa dengan teman dan kerabat, semua berulang. Liat mereka seperti itu, lagi-lagi ingin segera merasakan apa yang mereka rasakan, waktu itu.

Sejenak Zaky terlamun. Mencoba membayangkan apa yang terjadi di hari dimana Zaky diwisuda nanti. Mencoba mereka-reka ulang bayangan terekam dari alur orang-orang yang berbahagia di hari wisuda mereka. Dan Zaky ganti tokoh dalam bayangan itu dengan Zaky sendiri. Dan. Entah kenapa, Zaky ga merasakan perasaan bahagia seperti yang Zaky rasakan waktu liat temen-temen Zaky diwisuda, tempo dulu. Zaky berpikir, mungkin ada scene rekaan yang terlewat. Zaky reka ulang, ternyata rasa yang muncul sama. Sama seperti sebelumnya. Antara sesak dan senang. Zaky ga tau harus menamai perasaan itu dengan istilah apa.

Mungkin itu karena Zaky ga memasukkan sosok Ayah di rekaan tadi. Bukan ga mau, Yah. Tapi ga bisa. Zaky ga mau dibohongi realita di hari H nanti. Makanya Zaky mencoba memaksa diri untuk tidak memasukkan sosok Ayah di rekaan tadi. Walau besar keinginan Zaky agar Ayah hadir baik di rekaan itu, maupun di realita nanti.

Salah satu alasan Zaky bertahan di kampus ini adalah karena Zaky ingin membuat Ayah bahagia dan bangga. Bahagia atas kelulusan Zaky, bangga atas kehadiran Zaky. Karena itu yang bisa Zaky lakukan. Zaky sadar, bahwa Zaky takkan pernah bisa, sanggup, mampu, dan bahkan untuk sepadan dalam membalas semua kebaikan Ayah dari Zaky lahir hingga Ayah berpulang. Sedikitpun. Secuilpun. Satu hal yang bisa Zaky lakukan adalah membuat Ayah tersenyum dengan kebanggaan tadi, dengan kebahagiaan tadi. Walau Zaky merasa ini masih sangat tidak cukup.

Segimanapun Zaky merancang ribuan skenario hari H kelulusan, Zaky ga pernah bisa melangkahi kenyataan bahwa Ayah ga akan bisa ada di sana. Ga bisa memberi selamat, memeluk, dan berfoto bersama. Ga bisa.

Maaf, ga bermaksud membebani Ayah. Hanya ingin menumpahkan rindu. Hingga detik ini, Zaky masih belum bisa menenangkan pikiran ini dari bayangan Ayah.

Sial. Air mata Zaky ga bisa berhenti Yah. Haha..

Oke Yah. Terlepas dari apapun yang terpikirkan tadi, Zaky akan selalu menyisipkan satu faktor dalam setiap aktivitas dan pencapaian yang Zaky dapat, kebanggaan buat Ayah. Bahwa Zaky akan berusaha untuk selalu membuat Ayah bangga. Bahwa Zaky akan selalu berusaha untuk menjadi anak kebanggaan Ayah. InsyaaLlah.

Semoga Allah senantiasa memuliakan dan menerangi Ayah di sana.

 

Pengagum setiamu,

 

Zaky

0 comments: On Rekaan Kelulusan

Leave a Reply to Zaky Amirullah Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: