Ramadhan Tanpa Ayah

Ramadhan tahun ini, Ramadhan tanpa Ayah. Pertama kalinya sahur, buka shaum, shalat berjamaah tanpa Ayah. Ayah yang biasa berkisah saat sahur, memimpin doa saat buka, dan jadi imam shalat berjamaah, kini hanya tinggal sesosok dalam kenangan saja.

Yah, Zaky hanya ingin bilang, selama Ramadhan ini Zaky sering di rumah Yah. Nemenin Mamah, De Rifa, De Geca sahur dan buka. Ga kayak satu, dua, tiga tahun ke belakang. Entah kenapa, sekarang Zaky lebih suka banyak menghabiskan waktu di rumah. Beraktivitas di rumah. Ke luar rumah juga sesekali, kalo memang harus keluar rumah. Bela-belain buka shaum di rumah, walau siangnya lagi ada agenda di kampus misal. Ga kayak satu, dua, tiga tahun ke belakang.

Iya. Ga kayak satu, dua, tiga tahun ke belakang Yah.

Zaky menyadari, dulu Zaky banyak menghabiskan Ramadhan di luar rumah. Bahkan mungkin Ayah ga banyak tahu apa yang Zaky lakuin di luar waktu itu. Karena, Zaky juga memang ga banyak cerita detail dari aktivitas Zaky, ke Ayah. Tapi Zaky tahu, Ayah pun ga nanya detail langsung itu, karena Ayah yakin insyaAllah yang Zaky lakuin ga melenceng dari apa yang Ayah harapkan. InsyaAllah, Semoga. Dan satu hal itu yang ngebuat hormat Zaky sangat tinggi kepada Ayah adalah, kepercayaan Ayah sangat besar terhadap apapun yang Zaky lakuin. Bahkan hingga saat Zaky harus mengambil keputusan besar dalam hidup Zaky sekalipun, Ayah ga banyak bertanya. Hanya meminta penjelasan, kemudian memberi nasihat dan doa. Dan hal ini pula yang ngebuat Zaky ga mau mengkhianati kepercayaan Ayah. Semoga apa yang Zaky lakuin hingga detik ini ga membuat Ayah kecewa.

Ramadhan awal tingkat dua di Salman, Ramadhan awal tingkat tiga di PPSDMS, Ramadhan awal tingkat 4 di tempat kerja praktek. Bisa dihitung jari kapan Zaky ada di rumah, kapan Zaky buka shaum dan sahur bersama di rumah, saat itu.

Zaky sendiri juga heran, kenapa waktu itu sangat senang beraktivitas Ramadhan di luar. Mungkin karena berharap bisa mendapat dan berbagi kebermanfaatan di luar. Mungkin juga karena Zaky ga tau bakal melewati Ramadhan tanpa Ayah secepat ini. Astaghfirullah. Tapi beneran Yah, Zaky baru merasakan kangen luar biasa melewati hari-hari Ramadhan bersama Ayah di Ramadhan tahun ini.

Zaky kangen sahur bareng Ayah. Ayah yang banyak mengawali sahur dengan shalat malam. Sesekali Zaky liat Ayah shalat di kamar atau di ruang depan. Sehabis itu, tak jarang Ayah juga bantu Mamah menghidangkan makanan. Membangunkan De Geca untuk sahur, menyodorkan lauk untuk diambil oleh Zaky dan yang lainnya. Selepas sahur, Ayah mengimami shalat berjamaah jika ga sedang pergi ke Masjid.

Zaky kangen buka bareng Ayah. Ayah yang selalu menyapa setiap kali Zaky datang di waktu buka. Ngasih air atau kurma, terus mengajak ke ruang keluarga untuk buka bersama. Di waktu ini, biasanya Zaky cerita hal menarik yang Zaky temuin selama aktivitas di satu hari. Kalo Ayah lagi di luar, Ayah pasti sms Zaky nanya buka dimana. Walau kadang Zaky jawab dengan jawaban yang mungkin mengecewakan Ayah. Entah ada agenda buka bareng di luar, atau memang ga bisa buka di luar. Yang membuat terharu adalah, Ayah yang ga pernah lupa untuk ajak Zaky buka bersama, jika memang Ayah lagi di luar. Itu.

Zaky kangen itikaf bareng Ayah. Ayah selalu antusias setiap Zaky ajak itikaf di tempat yang rutin dikunjungi di 10 malam terakhir, Masjid Habiburrahman. Berangkat tengah malem, sahur sama mie baso di belakang Masjid, tilawah bareng menjelang shubuh, tidur sejenak pasca kuliah shubuh, banyak lagi momen lain yang Zaky habiskan waktu itu. Walau mungkin di beberapa kesempatan Zaky membuat kecewa Ayah. Saat Zaky ketiduran padahal udah bilang mau itikaf dan akhirnya Ayah berangkat sendiri, saat Zaky malah kumpul bareng temen-temen sesampainya di Masjid, saat Zaky ga bisa pulang bareng Ayah karna Zaky mau main dulu sama temen-temen.

Allah..

Maaf Yah. Zaky ga pernah mencoba merasakan sesuatu dari sisi Ayah. Selama ini, Zaky menganggap perhatian Ayah itu sebagai perhatian biasa. Padahal mungkin bagi Ayah itu adalah perhatian terbaik yang Ayah kasih ke Zaky. Zaky ga pernah mencoba untuk merasakan bahwa mungkin saja Ayah kecewa setiap kali Zaky menolak ajakan Ayah. Ajakan buka bersama, ajakan menghabiskan waktu bersama.

Yah, kenapa senyum Ayah yang selalu tergambar di ingatan Zaky? Ga ada satupun ingatan Zaky, Ayah bermuka masam ke Zaky. Padahal Zaky udah banyak membuat Ayah kecewa. Saat Ayah ingin berdua sama Zaky. Saat Ayah ingin denger cerita Zaky. Saat Ayah ingin memperbanyak momen dengan Zaky. Zaky malah menghadirkan diri untuk orang lain. Padahal mungkin Ayah tahu, bahwa ajakan itu adalah ajakan sesekali, yang bahkan ketika pun Zaky penuhi, itu sama sekali ga mengganggu aktivitas Zaky sama sekali.

Ya Allah.. Maafkan Zaky Yah..

Saat ini, Zaky ga bisa memberi cerita atau hal menarik yang Zaky temui atau alami lagi ke Ayah. Semoga doa Zaky senantiasa sampai ke Ayah. Semoga kita dipertemukan lagi di Syurga Yah. Allahummagfirlaka.

Pengagum setiamu,

 

Zaky

0 comments: On Ramadhan Tanpa Ayah

  • Bang, kalau punya ayah yang tidak terlalu perhatian sikap kita harus gimana?

    • Kalo menurut saya, tidak ada orang tua yang tidak perhatian, insyaAllah. Mungkin hanya beliau memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan kasih sayang beliau. Lelaki secara naluriah memang dihiasi pride yang tinggi. Ada memang beberapa lelaki yang tak mau mengekspresikan rasa sayangnya secara langsung. Bukan karena tidak mau, tapi tidak bisa. Tapi, lelaki insyaAllah akan tetap berpegang pada prinsipnya. Ia takkan pernah menurunkan kadar sayangnya, mungkin hanya mengubah bentuknya menjadi bentuk ekspresi lain. Jadi, mungkin secara kasat mata, seolah ayah terlihat tidak perhatian, tapi insyaAllah beliau punya cara lain dalam mengekspresikan kasih sayangnya.

      Sebagai seorang yg telah faham terlebih dahulu bahwa memuliakan orang tua adalah lebih baik daripada jihad (berperang) di jalan Allah, maka kita yg harus berinisiatif untuk memulai untuk berbuat baik pada orang tua, khususnya pada Ayah. Terkadang kita, khususnya saya, seolah menunggu terlebih dahulu tunjukan kasih sayang orang tua buat kita, padahal, jika kita mau merenung sejenak, keberadaan kita secara sehat hingga saat ini itu kan merupakan “produksi” dari kasih sayang orang tua. Apalagi Ayah yg banting tulang peras keringat untuk keberlangsungan hidup kita.

      Tunjukkan lah kasih sayang kita pada Ayah dengan jelas. Sederhana saja. Menyengajakan untuk mengobrol dengan beliau walau sebentar, membelikan apa yg beliau suka di momen hari lahirnya, menuruti apa kata beliau, meminta nasihat beliau di setiap kita memiliki masalah sekecil apapun itu, dan yg paling simple, senyum setiap kali ketemu di pagi hari atau pulang ke rumah. Tunjukkan terlebih dahulu pada beliau bahwa kita sayang beliau, sebelum menyesal di kemudian hari, hehe

      Wallahu alam, semoga menjawab hehe

Leave a Reply to Zaky Amirullah Cancel reply

Site Footer