Persimpangan

Selamat malam, para pencari makna hidup 🙂

Maaf, sedikit meracau di malam hari. Hanya ingin sedikit melepas segores pikiran yang sedang mengendap. Lagian, sudah lama tak menuangkan buah pikiran dalam serangkai kata. Anggaplah ini hanya sebuah bisikan kecil di tengah tiupan angin kencang haha..

Tak terasa, H-9.

Sembilan hari dari saat tulisan ini dibuat, persimpangan besar itu akan merapat. Saat tanggung jawab menjadi berkali lipat, saat yang dinanti akan mendekat. Tak terbayang, ruang pikiran nanti harus terbagi dua. Pun dengan perhatian dan masa depan. Tapi sesungguhnya itu bukan untuk dikeluhkan, karena setiap bersandarnya sebuah “beban”, bertambah pula kuat topangan di pundak , in syaa aLlah 🙂

Mencoba merenungi, bahwa apa yang terjadi di hari ini, hari esok, dan esoknya lagi bukanlah sebuah kebetulan semata. Bagi manusia yang lingkup daya tangkap masa depannya terbatas, mungkin iya, kebetulan. Tapi tidak untuk sang Pencipta. Ia adalah sebaik-baik Pembuat Perhitungan, sebaik-baik Pencipta Alur Hidup. Saat segudang opsi ditawarkan, segudang kekuatan dan jalan keluar juga hadir membersamai setiap keputusan.

Sungguh, konsekuensi besar hadir dibalik keputusan besar. Tapi bersamaan dengan itu, pertolongan besar dan kekuatan yang besar juga hadir mengiringi. Hanya “tinggal” mendamaikan gejolak hati, bergerak memberi bukti, dan meminta pertolongan setiap hari. Tidak mudah, namun sangat bisa untuk diikhtiarkan. Tidak pula nyaman, namun sangat layak untuk diperjuangkan.

Perkara menggenapkan agama bukanlah sesuatu yang cukup dilihat dari sisi bahagianya saja. Karena sejatinya, kepatuhan yang dipersembahkan oleh pasangan, harus ditransaksikan dengan penanggungan seluruh aspek hidup dari pasangan. Baik itu berbentuk pahala, maupun dalam bentuk dosa. Salah sedikit saja dalam memberikan bimbingan, maka harus bersiap untuk mempertanggungjawabkan.

Namun Allah Maha Adil

Bersamaan dengan “beban tambahan” yang diterima, ada keceriaan dan kesedihan yang dapat dibagikan. Bersamaan dengan tanggung jawab yang besar, ada sumber semangat yang tercipta. Bersamaan dengan kelelahan yang bertambah, ada tempat kembali yang dirindukan 🙂

Sepintas terpikirkan berbagai pertanyaan “apa” dan “bagaimana” dari segala hal yang akan terjadi selepas jabat tangan sakral nanti. Tak jarang, kebuntuan juga yang malah terbayangkan. Jika tak ingat dengan pesan “jangan berputus asa dari rahmat Allah“, mungkin kaki ini sudah tak kuat untuk bahkan menopang tubuh sendiri. Jika hati kecil tak membisikkan “ingatlah Allah, maka hati akan menjadi tenteram“, mungkin sudah lama kegelisahan menyelimti.

Tentunya, setelah semua ini dilewati, perjalanan belum akan berakhir. Bahkan baru akan bermula. Pemaknaan Be High Class for High Class pun akan kian bertambah.

Sembilan hari. Tak jauh dari satu pekan setelah ini, semua akan berubah, berganti, bertambah. Tak masalah sebenarnya, selama cahaya Hidayah masih menyinari. Dan hanya itu yang kini sedang dicari, diminta, dan dinanti. Tak kurang, tak lebih.

Allahummarhamnaa 🙂

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: