Perihal Menjemput Rezeki

Perihal rezeki.

Pada hakikatnya, penentuan kadar rezeki tidak termasuk ranah manusia. Manusia, mungkin memang makhluk yang sempurna diantara makhluk ciptaanNya yang lain. Namun, keterbatasan yang dianugerahkan padanya, hanya mampu membuat ranah manusia terbatas pada penjemputan saja. Penjemputan rezeki yang kadarnya telah ditentukan dengan seadil-adilnya dan sebijaksana-bijaksananya oleh Sang Penggenggam Rezeki.

Keterbatasan dalam diri manusia, sejatinya adalah anugerah. Karena dengan adanya keterbatasan, manusia pada akhirnya mengenal kata sabar, syukur, keberkahan, perjuangan, keyakinan, dan tawakkal. Keterbatasan yang mendorong manusia untuk melakukan dan memberikan yang terbaik dari apa-apa yang ia punya, baik yang diperuntukan bagi dirinya sendiri ataupun orang lain. Keterbatasan yang mendongkrak manusia dalam pencarian keberkahan di berbagai episode kehidupan. Terutama dalam episode menjemput rezeki.

Rezeki, dalam cakupan yang luas, memang termasuk pada hal yang berada di luar nalar manusia. Dalam arti, tidak ada yang pernah tahu kapan ia datang, dari mana ia berasal, berapa kadarnya, dan sebagainya. Tidak mungkin ada kalkulasi manusia yang mampu menghitung dengan tepat kadar dan waktu kedatangannya. Seorang matematikawan handal sekalipun. Karena memang rezeki, seperti yang telah termaktub dalam kitabNya, disempitkan dan diluaskan sesuai kehendakNya. Juga diberikan pada siapa-siapa, sesuai kehendakNya.

Namun satu hal yang pasti terkait rezeki ini. Bahwa Allah takkan pernah mengingkari janjiNya.

Saat Allah berjanji akan memampukan sesiapa yang merasa miskin (An-Nur:32) , maka yakinlah, Allah pasti akan menepati janjiNya. Saat Allah berkehendak untuk memberikan rezeki dari arah yang tak disangka (Ath-Thalaq:2-3), maka yakinlah bahwa kehendak Allah pastilah akan sesuai dengan semestinya. Pun saat Allah menenangkan hambaNya dengan berfirman jangan berputus asa dengan rahmatNya (Ibrahim:87), maka yakinlah sesungguhnya firman Allah itu sangatlah benar.

Sejatinya, tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang rezeki. Karena Allah sudah menjamin, bahwa setiap mahklukNya telah dianugerahi rezeki sesuai dengan kadarnya masing-masing. Allah sendiri yang langsung menjamin dalam firman-firmanNya.

Namun terkadang, kekhawatiran akan datangnya rezeki di masa depan senantiasa muncul. Membuat hati gundah, membuat pikiran tak menentu. Tak jarang, kekhawatiran tersebut mengantarkan pada gerbang keputusasaan. Suatu hal yang wajar kekhawatiran akan muncul. Karena itu merupakan fitrah manusia. Justru di sinilah titik ujiannya. Bagaimana manusia melewati setiap kerikil yang muncul di hadapannya dengan sebaik-baik langkah.

Bahwa datangnya ujian adalah keniscayaan, sedangkan bagaimana menghadapinya adalah pilihan.

Saat kekhawatiran akan rezeki muncul, bahkan membawa kita pada titik terluar batas nalar manusia, sandingkan segera dengan keyakinan bahwa janji Allah adalah benar. Hadirkan yakin dalam hati bahwa firman-firmanNya tentang rezeki pastilah terjadi. Buatlah Allah yakin bahwa hambaNya ini benar-benar yakin padaNya. Lakukan hal terbaik yang mampu dilakukan. Lalu, hadirkan keyakinan paling yakin yang mampu dihadirkan. Biarlah Allah yang menyelesaikan sisanya. Saat kerja keras dan keyakinan disandingkan dalam satu lantai, percayalah, bahwa keajaiban firman Allah itu benar-benar nyata.

Perihal menjemput rezeki. Saya memiliki pengalaman menakjubkan tentangnya. Izinkan saya berbagi cerita.

Beberapa waktu silam, saya sempat diliputi kegelisahan akan rezeki di masa depan. Di saat penghasilan tetap belum di tangan, keputusan menikah telah dibuat. Saat itu, sejujurnya, belum ada sedikitpun langkah konkret yang saya lakukan dalam usaha menjemput rezeki. Bukan karena tidak mau, melainkan karena saya menyadari bahwa kapasitas saya hanya mampu menopang dua aktivitas utama saya saja saat itu. Aktivitas utama yang notabene masih di kelas dan organisasi. Semua hal tentang penjemputan rezeki masih dalam bentuk rencana yang tertulis di atas kertas.

Kekhawatiran pun tak terelakkan lagi. Darimana saya harus menafkahi istri dan keluarga? Pekerjaan belum punya, bisnis belum terpikirkan sama sekali. Satu hal yang saat itu terpikirkan adalah saya harus menaikkan kualitas dari apa-apa yang sedang saya kerjakan. Belajar dengan maksimal, berorganisasi dengan maksimal. Pikiran pendek saya adalah saya harus maksimalkan apa-apa yang sudah saya mulai, agar semua itu dapat berakhir dengan hasil yang maksimal pula. Setelah itu, saya akan kembali memulai sesuatu yang nantinya akan saya jadikan sumber nafkah untuk istri dan keluarga kelak. Berbekal sebuah keyakinan, bahwa Allah pasti melihat apa-apa yang saya kerjakan.

Qadarullah.

Saya diterima di kampus yang sama dengan istri. Diizinkan untuk melakukan riset di salah satu lab departemen yang memang ingin saya masuki. Riset yang tak hanya mendanai penelitiannya saja, namun juga para penelitinya. Atas izin Allah, melalui kepercayaan melakukan riset ini, alhamdulillah Allah mempertemukan saya pada sumber nafkah keluarga. Bahkan dengan jumlah di luar dari apa yang saya perkirakan sebelumnya.

Di lain waktu, saya dan istri sempat hampir terbawa sampai titik putus asa. Biaya persalinan dan kebutuhan bayi setelahnya cukup membuat kami berpikir tujuh kali. Bagaimana tidak, pada awalnya, saat kami mengetahui jumlah biaya persalinan di sini dari pengalaman seorang teman, kami langsung terdiam menganga. Jumlahnya cukup fantastis. Setelah kami mencoba melakukan kalkulasi dan mengorganisasi ini dan itu pun, kami belum menemukan jalan keluar. Satu hal yang saat itu terucap dari mulut kami adalah serahkan semua pada Allah. Bahwa bayi mungil yang kini sedang bersemayam di rahim istri pasti sudah dibersamai oleh rezeki miliknya.

Qadarullah.

Allah benar-benar menurunkan rezekiNya dari arah yang tidak disangka. Tetiba saya mendapat informasi dari seorang kawan yang lain bahwa biaya persalinan bisa ditekan hingga 80% dari biaya yang saya ketahui sebelumnya. Kalkulasi yang sebelumnya terlihat mustahil, kini menunjukkan titik terang. Selain itu, atas izin Allah, saya terpilih sebagai foreign student di departemen saya untuk menerima beasiswa tambahan dari kampus. Beasiswa dari kampus yang diberikan pada mahasiswa setiap departemen, terutama foreign student yang memenuhi standar kampus untuk diberikan beasiswa. Beasiswa yang insyaa Allah cukup untuk membiayai persalinan bayi mungil yang akan segera lahir nanti. Alhamdulillah.

Rezeki materi berupa sumber nafkah serta rezeki dede bayi, dan rezeki non materi berupa kemudahan proses menyusul istri serta informasi tentang keringanan dalam persalinan, sungguh sangat begitu terasa nyata adanya bagi saya. Bahwa benar, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Bahwa benar, Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tak disangka. Bahwa benar, Allah akan memampukan sesiapa yang merasa miskin. Atas izin Allah.

Terkadang saya merasa, saya yang sebegini lalai di hadapanNya saja seperti bertemu oasis di padang pasir. Apalagi saya menaikkan kualitas dan kuantitas ibadah saya. Mungkin pertolongan Allah akan menjadi lebih banyak. Insyaa Allah.

Bukan berarti saya mengatakan bahwa semua rezeki itu merupakan akibat dari apa-apa yang telah saya lakukan, atau ibadah yang saya kerjakan. Justru sebaliknya, saya merasa apa-apa yang saya lakukan bahkan sangat tidak sebanding dengan apa-apa yang alhamdulillah saya terima. Di sini, saya sama sekali tak melihat rezeki yang saya terima merupakan akibat dari apa-apa yang saya kerjakan. Saya justru melihat, bahwa semua rezeki yang sampai di tangan ini murni kemurahan hatiNya.

Saya berkesimpulan bahwa Allah takkan menelantarkan hambaNya yang berusaha dan meminta padaNya. Dan Allah akan senantiasa menjaga janjiNya selama hambaNya berusaha menunjukkan bahwa ia pantas mendapatkan janjiNya.

Perihal rezeki, insyaa Allah tak perlu khawatir. Saat kita yakin Allah ada di samping kita, dan kita berusaha menunjukkan bahwa kita layak ditolong olehNya, insyaa Allah rezeki akan selalu hadir membersamai kita.

Wallahu’alam.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: