Perihal Harga-Menghargai

Tentang sebuah penghargaan.

Saya tidak menyebut ini dengan suatu pilihan kata, apresiasi. Karena, menurut saya, makna apresiasi lebih luas dibandingkan dengan penghargaan, setidaknya untuk sesuatu yang akan ditulis dalam beberapa kalimat nanti. Karena apa yang akan ditulis ini, adalah tentang sebuah penghargaan. Penghargaan atas usaha orang lain. Atau mungkin lebih spesifik, penghargaan atas niat dan itikad baik orang lain.

Manusia. Makhluk yang dilengkapi dengan rasa tidak puas, hasrat berkeluh kesah, mau terlihat tinggi, dan ingin memiliki bahkan untuk hal yang tidak mungkin dapat ia miliki. Segelintir sifat yang jika ditarik lebih jauh, semua bermuara pada satu hal : nafsu. Bukan, bukan suatu hal yang negatif. Karena salah satu hakikat hidup, sepemahaman saya, adalah berjuang menerobos dinding nafsu.

Kembali.

Bahwa terkadang, manusia tidak melihat sesuatu di balik sesuatu. Perihal kesuksesan, tidak semua orang melihat perjuangan dibalik kegemilangan. Perihal kegagalan, tidak semua orang melihat pembelajaran dibalik kesedihan. Apa yang dilihat hanya apa yang ada pada kasat mata. Semua yang tertangkap retina, itulah yang dijadikan landasan dalam bersuara, atau berkata, “Keren sekali dia!” atau “Bodoh banget sih!”

Pun dengan perkara harga-menghargai.

Setiap dampak dari apa yang dilakukan oleh seseorang, atau oleh sekelompok orang, hanya dinilai dari apa yang dirasa, yang dilihat. Atau bahkan jika saya boleh menyebutkan lebih parah lagi, hanya dari apa yang didengar. Tidak ada pelibatan di sana sedikitpun. Hanya mendengar dari kabar yang tingkat distraksi informasinya mungkin sudah melewati batas minimum informasi itu valid untuk disampaikan. Lalu dari sana, tanpa ada langkah kaki untuk melakukan validasi informasi, langsunglah beropini. Memang sih beropini itu hak setiap manusia. Tapi ada hak orang lain yang terambil ketika opini yang mengudara tidak memiliki unsur validasi dari objek opini, menurut saya.

Padahal, bisa jadi keringat yang telah diperas sudah sangat deras. Pengorbanan yang telah dikeluarkan sudah sangat hebat. Bahkan duri nafsu yang telah dicoba untuk diterobos sudah sangat banyak. Dan semua terhalang oleh tampakan kasat mata saat semua hal tadi berkonversi menjadi hasil. Unik memang. Apakah definisi harga-menghargai hanya sebatas memuji kesuksesan yang tampak atau berempati atas kegagalan yang tampak saja?

Perihal tanggapan atas sesuatu.

Keterikatan memang bukan sebuah kewajiban. Apalagi dalam sebuah kumpulan orang. Keterikatan hanya terlahir dari sebuah kesepakatan komunal, yang mungkin belum tentu setiap individu turut berucap atasnya. Tapi sejatinya, saat keputusan komunal diketuk, tingkat kekuatannya satu tangga dengan mufakat dalam musyawarah. Artinya, saat berdiam diri dalam pengambilan keputusan atau penyetujuan atas sesuatu dalam forum komunal, tandanya turut setuju. Kan?

Saat kesepkatan komunal akan keterikatan tadi telah terbentuk, konsekuensi logisnya adalah ia bersedia untuk berlaku atau diperlakukan sama. Namun terkadang, keterikatan itu luntur, ketika sifat dasar manusia tadi terlalu mendominasi. Seakan lupa atas mufakat yang telah ia ucapkan, terlepas ia berucap dengan suka rela atau turut yang lain.

Akibatnya, tak acuh terkadang hadir saat suatu kesepakatan lain hadir dalam kumpulan orang tersebut. Dalam sebuah kegiatan misal. Entah memang tidak tertarik, atau tidak peduli, atau lagi-lagi lupa atas kesepakatan tadi. Tidak mencoba melihat bagaimana dan berapa lama ia disiapkan. Atau lebih jauh lagi, tidak melihat niat dan itikad baik di balik suatu kegiatan diadakan. Jadi semakin ingin cari tahu syarat apa yang harus dipenuhi agar harga-menghargai dapat muncul.

Simpulannya, ada sifat dasar manusia yang harus dilawan, ada makna terdalam dari sesuatu hal yang harus ditelaah, dibalik hal yang bernama penghargaan.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: