Pendam Rasa

Kekaguman, adalah sebuah kata yang entah kapan kamu sisipkan di dadaku.

Ada banyak hal yang kutahu dalam dirimu, ternyata mencipta kekaguman itu dalam diriku.

Tentang keramahanmu pada semua orang. Senyum tulus yang tersimpul saat bertukar sapa, adalah hal yang selalu membekas dalam benakku. Bahkan mungkin tidak hanya aku yang merasa hal itu. Setiap kali berhadapan denganmu, seakan ada keceriaan tertular dengan sendirinya. Keceriaan yang menghantarkan sejumlah tawa, yang mendatangkan sejumlah kawan.

Tentang ketekunanmu dalam menyelesaikan sesuatu. Terlihat, kamu yang selalu ingin memberikan porsi terbaik di setiap genggaman amanah yang kamu miliki. Entah itu akademis, entah itu organisasi, atau itu keluarga. Tak jarang, mengorbankan kebutuhan diri, demi hasil terbaik. Dan kuyakin, ketekunan itu yang membawamu hingga berdiri di titik ini, selain izin Allah.

Tentang keteguhanmu dalam menjaga diri. Sejak jilbab panjang kamu sematkan di badanmu, aku tahu, itu titik dimana awal mula kamu mengukir sebuah komitmen. Komitmen untuk menjaga kemuliaan yang teranugerahkan padamu sejak lama, kemuliaan seorang wanita. Tak hanya terkait perihal fisik, namun juga perihal hati.

Dan tentang-tentang lainnya, yang tak bisa kuelaborasi satu persatu.

Namun ada dua hal yang masih membuatku Tak Mengerti. Dua hal yang tapinya melengkapi kekagumanku terhadapmu hingga detik ini. Tentang rasa yang ternyata kamu simpan sejak lama, tentang sikap yang ternyata kamu tampakkan untuk menyembunyikan yang sebenarnya.

Aku tak tahu, seberapa besar kadar sabar yang kamu takar, dalam menjaga rasa yang belum saatnya bermekar. Aku tak tahu, seberapa banyak tahanan sikap yang kamu munculkan, demi sebuah kamuflase agar tak terjadi interaksi tak diharapkan. Bahkan, hingga aku pun tak tahu bahwa ternyata kamu menyimpan rasa itu. Bahkan, hingga aku pun tak tahu jika ternyata sikap keseharian biasa saja yang kamu tampakkan padaku itu menyimpan segudang rasa dibaliknya.

Di satu sisi aku kagum, namun di sisi lain aku malu. Pasalnya, aku tak seperti kamu yang sebegitu menjaga diri agar rasa yang tersimpan tidak lahir secara prematur. Aku juga tak seperti kamu yang pandai menjaga sikap agar interaksi yang tertampak tidak melampaui batas semestinya.

Saat ini, hanya ada satu hal yang terpikirkan olehku. Bahwa aku tidak ingin menyia-nyiakan pendam rasa yang kamu lakukan selama ini. Saat mungkin kamu hanya melihat sisi baik dari yang kupunya, saat itu juga aku ingin berkata bahwa di balik itu ada segudang sisi buruk yang bersemayam. Saat mungkin kamu berharap aku bisa melengkapi kepakan sayap yang kamu punya, saat itu juga aku ingin berkata bahwa sejatinya, aku pun sedang memperindah sayapku agar pantas bersanding dengan sayapmu.

Terima kasih. Diantara sekian banyak orang yang dapat kamu jadikan tautan rasa itu, kamu telah memilihku sebagai satu-satunya yang kamu izinkan untuk tertaut.

Aku hanya bisa berdoa dan berharap, bahwa aku bisa melebihi apa yang kamu sangka dan kamu terka.

Hari yang dinanti akan segera tiba, insyaAllah, hai kamu yang sedang berada di sana 🙂

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: