Pasangan

Bahasan tentang pasangan selalu menjadi bahasan yang laris. Sangat laris. Apalagi di kalangan kaum muda. Seolah bahasan ini sudah menjadi perbincangan rutin setiap hari. Kaum adam terlihat sumringah saat topik perbincangan berubah haluan ke arah sana. Tidak tahu dengan kaum hawa. Dengar-dengar dari burung yang gemar memberi kabar, mereka pun memiliki kecenderungan yang sama. Tak mau berasumsi. Sila jika kaum hawa ingin melakukan klarifikasi.

Sudah menjadi bagian dari hukum alam bahwa ketertarikan antar lawan jenis ini ada. Paras, keshalihan, kecerdasan, wibawa, kebijaksanaan, kemilau di depan publik, sikap, perilaku, pandangan hidup, dll kerap menjadi parameter-parameter tak tertulis yang menjadi sumber dari ketertarikan tadi. Ada yang mematok standar tinggi, ada yang mencondongkan pada salah satu paramter, ada pula yang tak ambil pusing dengan semua itu asal lirikannya itu pas di hati. Semua orang memiliki definisi masing-masing dari ketertarikan akan lawan jenis ini.

Bila ditarik agak jauh lagi ke atas, dari sisi psikologis, baik pria maupun wanita memiliki rasa harap untuk diperhatikan. Walau dengan tipe dan kadar yang berbeda. Pria berkecenderungan ingin dilihat saat melewati kerumunan wanita. Wanita berkecenderungan ingin dilihat oleh pria yang dikaguminya. Kecenderungan seperti ini yang pada umumnya mengawali munculnya ketertarikan satu sama lain. Lalu diikuti saling pandang, kemudian buka komunikasi, hingga akhirnya berbincang banyak hal.

Serangkaian kisah pun dimulai. Bertemu di persimpangan jalan, bertukar cerita di kelas, mendengar cerita sang terkagum dari orang lain, meminta tolong sesuatu, dimintai tolong sesuatu, bertanya via sms, tak sengaja chat di media sosial, meretweet twit yang seolah senasib, bekerja dalam satu kepanitiaan, tergabung dalam satu divisi organisasi, bertukar ide pikiran lewat tulisan, atau hanya sekedar interaksi sekejap dalam sebuah kesempatan singkat menjadi bagian dari episode-episode kisah tersebut.

Kisah-kisah bernuansa seperti ini yang acapkali sering menjadi bahan perbincangan dengan kawan terdekat. Memang biasanya tidak semua kawan diberi kepercayaan untuk menampung kisah -jika boleh, disebut- merah jambu ini. Walau terkesan tidak penting, tapi seolah ada kesenangan tersendiri jika punya kisah semacam ini.

Namun, terkadang -bahkan mungkin seringkali- sensor di sekitar god spot diabaikan begitu saja. Sensor ini seharusnya secara alamiah menjadi pagar penahan ego agar tidak terjadi sesuatu hal di luar batas atau hal yang tak diharapkan terjadi. Mungkin, masing-masing sebenarnya tahu psychology given yang mereka miliki. Seorang pria memiliki kecenderungan psikologis untuk menaruh hati pada lebih dari satu wanita. Sebaliknya, wanita memiliki kecenderungan psikologis untuk menaruh hati hanya pada satu pria. Tapi, ego yang tak terkendali seringkali menjadikan psychology given ini memberikan dampak negatif.

Pria yang secara sadar maupun tak sadar memberikan perhatian pada wanita, tak jarang berakhir pada sebuah situasi yang menyulitkan dirinya sendiri. Saat wanita-wanita yang secara sengaja maupun tidak sengaja terpaut hati padanya, kemudian dia sampai pada satu titik dimana ia harus mengambil sebuah pilihan, maka ia harus sampai hati membuat salah satu atau lainnya terluka. Dan biasanya, saat wanita merasa tersakiti oleh kejadian ini, kepercayaannya langsung hilang. Tak melihat seberapa akrab dahulu saat berkawan dengannya. Ini yang berbahaya. Karena terputusnya tali silaturahim akan mengurangi keberkahan hidup bersosial di dunia.

Pun dengan wanita. Wanita terkadang tak mampu menahan dirinya saat ia sudah berada dalam satu situasi bersama dengan orang yang dikaguminya. Walau wanita pada umumnya tak mau untuk mengungkapkan apa yang ada dalam rasanya, namun perasaan-perasaan yang diizinkan tertimbun di dalam hatinya atau mengisi isi kepalanya, seringkali menjadikan sebuah harapan -satu pihak- miliknya meraksasa. Sehingga lambat laun, asa itu berubah jadi keinginan yang tak terbendung. Membuatnya menutup mata pada yang lain, dan menjadikan orang yang dikaguminya sebagai satu-satunya yang ada dalam visi besarnya. Sebenarnya, hal yang dikhawatirkan adalah saat ternyata visi besarnya itu harus sirna, agak sulit dibayangkan bagaimana cara me-recovery apa yang sudah rusak.

Harus berhati-hati memang. Masalah interaksi dan pola hubungan lawan jenis tak bisa sembarang dilakukan begitu saja. Apalagi jika diarahkan pada topik pasangan. Karena tentu, pastinya setiap orang ingin memiliki kisah bahagia sebelum dan sesudah bertemu dengan pasangan tertakdir. Oleh karenanya, pria harus berhati-hati akan perhatian yang ia berikan. Perhatian untuk siapapun, terkhusus untuk wanita. Saat ada yang terluka lalu kemudian ia yang terluka mendoakan hal yang tak mulia, maka sesungguhnya doa tersebut besar kemungkinan terwujud menjadi nyata. Walahualam.

Begitu pun dengan wanita. Wanita harus berhati-hati dengan perasaan yang sesekali ia coba simpan di lubuk hatinya. Sesekali yang terlalu sering, akan membuat harapan yang seharusnya tak ada menjadi ada. Wanita terlalu mulia untuk dikeluarkan air matanya. Ia juga terlalu istimewa untuk dilukai hatinya. Namun, wanita juga perlu menjaga hati dan dirinya agar tidak terjelembab pada rasa sakit yang tak semestinya ada. Bukan permintaan untuk membuang perasaan, hanya himbauan untuk menjaga.

Tak ada rangkaian kalimat yang pas untuk memaknai arti sebuah pasangan selain “Wanita yang baik untuk pria yang baik. Pria yang baik untuk wanita yang baik”. Wanita dan pria yang pandai mengendalikan ego akan dihadiahi pasangan yang serupa. Kembali, bahwa bicara pasangan bukan hanya bicara tentang indahnya kisah atau tumpahan perasaan saja apalagi hanya sebagai bahan obrolan di tengah malam, namun juga bicara tentang menjadi sebaik-baik pasangan yang pernah ada.

Bukankah sebuah kebahagiaan tak terkira saat dipertemukan dengan pasangan istimewa yang selama ini hati dan pikirannya hanya dipersiapkan untuk kita?

***

Hanya sebuah lintasan pikiran. Utama ditujukan sebagai pengingat pribadi. Wallahualam.

8 comments: On Pasangan

  • setuju sama bangjek. memang nature nya begitu. justru jadi hikmah buat perempuan, kalau mau jadi satu-satunya, ya jadilah perempuan yang bisa mencukupi semua kebutuhan suami. yg dengannya, suami tidak punya alasan untuk pindah ke lain hati.

  • Tau darimana zak soal perempuan umumnya punya kecenderungan seperti apa yg kamu tulis?

    • Hasil berbincang, dengar kabar burung, dan sekilas ilmu psikologi.. haha
      Makanya git, disana ditulis ga mau berasumsi, soalnya saya jg ga punya data valid. Mangga kalo mau klarifikasi.. Hehe

      • nah tuh kan kabar burung pula -_-
        btw jahat banget ternyata laki-laki :” selama ini aku cuma berasumsi dari pengalaman dan cerita adik2 dan teman2 perempuan, ternyata asumsiku benar kalau laki2 memang menaruh hati di banyak tempat.
        Dan memang bener kalau perempuan ga seperti itu. Makanya begitu putus pacaran (misal), perempuan biasanya sulit banget buat buka hati. Nah beda tuh sama si laki-lakinya, biasanya mati satu tumbuh seribu.

      • bukan jahat git. emang natural psikologi nya gitu hehe..
        tapi kalo udah serius ama cewe, cowo yang baik itu biasanya jor-joran. Bahkan akan melakukan pengorbanan apapun. Cenah. haha

Leave a Reply to Urfa Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: