Padamu, Aku Jatuh Cinta

Dalam beberapa waktu terakhir ini, saya menyadari, bahwa istri adalah sesosok manusia yang luar biasa. Lembut hatinya, lembut sikapnya, lembut tutur katanya. Terlebih lagi, ia adalah sosok teramat penyayang. Menebar kasih sayang tanpa menuntut balik. Mengorbankan dirinya untuk sebuah senyuman yang tersimpul di wajah suami dan anaknya.

Senantiasa membersamainya dalam keseharian, semakin membuat hati ini jatuh cinta padanya.

Hari demi hari terlewati. Tanpa sadar, kekaguman terhadapnya tumbuh meraksasa. Mengamati setiap apa yang ia lakukan, tidak malah membuat diri ini banyak meminta cinta darinya. Justru sebaliknya, semakin membuat diri ini ingin selalu memberikan banyak cinta padanya.

Saat santap siang bersama. Ia rela mengurangi jatah makannya agar suaminya bisa kenyang. Ia selalu bilang cukup, setiap kali diminta tambah. Walau sebenarnya, itu tidak membuatnya kenyang. Ia tak berhenti setelah melihat suaminya makan. Ia harus memastikan suaminya kenyang. Karena ia belum tenang jika suaminya belum kenyang. Padahal, saya, melihat ia sudah makan saja sudah cukup.

Saat sakit. Ia selalu menghampiri dengan wajah khawatir. Sekalipun itu hanya saat ia melihat satu jemari suaminya berdarah karena teriris pisau. Berusaha sekuat tenaga untuk membuat suaminya sehat kembali. Menyediakan ini, memberikan itu. Bahkan, jika pun ia harus meninggalkan pekerjaan dan rutinitasnya, ia dengan senang hati melakukannya. Padahal, saya, masih bisa tega meninggalkannya saat sakit untuk rutinitas sehari-hari.

Saat sakit. Selalu saja terpikirkan untuk meminta perhatian darinya. Mengeluhkan sesuatu padanya walau sebenarnya itu hal yang tak perlu dikeluhkan. Dan ia, selalu saja membuka kedua tangannya, menampung setiap keluhan-keluhan sekalipun ia tahu itu keluhan yang tak seberapa. Padahal, jika ia sakit, ia selalu bertingkah seperti ia sedang tak sakit. Karena ia tak mau membuat khawatir suaminya. Karena ia tak mau mengganggu pekerjaan suaminya.

Saat sang buah hati tetiba terjaga di malam hari. Sebisa mungkin ia tak membuat suaminya terbangun. Menggendong, mengajak berbicara, dan serangkaian taktik lainnya yang ia lakukan pada buah hati kami agar tangisannya tak membuat suaminya terbangun. Padahal, saya, saat tetiba mendengar buah hati kami terjaga, selalu saja berharap ia terbangun dan menemani kami yang sedang melewati malam bersama.

Saat hendak bepergian. Dengan segala kelembutan hatinya, ia selalu berinisiatif untuk mencarikan baju terbaik untuk suaminya. Jika ia mendapati bajunya belum rapi, dengan segera ia menyetrika dan merapikannya. Mendahulukan baju suaminya sebelum bajunya sendiri. Ia juga tak pernah merespon balik setiap kali diminta merapikan baju suaminya. Padahal, saat saya senggang dan ia sedang sibuk, tak pernah ia meminta saya menyetrikakan bajunya. Dan tak pernah sekalipun ia memberikan celah untuk saya menyetrikakan bajunya.

Saat mendapati adab yang menurutnya kurang baik. Ia selalu berusaha membenarkannya. Walaupun itu untuk hal yang sangat sepele. Bahkan mungkin sama sekali tak terpikirkan sebelumnya. Sekalipun saat itu tak ada seorang pun yang melihatnya, ia lakukan dengan senang hati. Untuk suatu alasan yang mungkin hanya ia yang mengetahuinya. Padahal, saya, dalam situasi yang sama, jika hal itu tidak keluar dari koridor-koridor yang diajarkan, saya membiarkannya.

Saat penampilan dirasa kurang pas. Kerah yang tak rapi, kaus kaki yang tak lurus, rambut yang tak disisir, atau celana yang terdapati satu-dua noda, misal. Dengan segera ia membetulkannya. Ya, bukan sekedar memberi tahu untuk membetulkan. Ia, dengan tangannya sendiri, membetulkannya. Agar suaminya terlihat menarik. Padahal, saya, tak pernah dengan mendetail memperhatikan penampilannya. Melihat ia berpakaian rapi dan sesuai dengan keinginannya, itu sudah cukup.

Dan saat-saat yang lainnya.

Cinta, perhatian, dan kasih sayangnya selalu terpancar di setiap hari. Menumbuhkan kekaguman, menciptakan simpul-simpul senyuman. Menyaksikan prinsipnya yang selalu memberi, membuat diri ini juga ingin selalu memberi lebih. Dengan kelembutan yang ia miliki, ia berhasil membuat saya ingin memberi tanpa ia harus meminta secara langsung.

Ah, wahai istriku, padamu aku jatuh cinta.

0 comments: On Padamu, Aku Jatuh Cinta

Leave a Reply to yulianemonic Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: