Orinijib

Hari ini adalah hari pertama Daehan dipercayakan ke Orinijib.

Orinijib (어린이집) terjemahan lepasnya “rumah anak”, terjemahan Google Translate-nya “nurseries“. Atau bahasa simpelnya, daycare. Tempat infant dan toddler ‘disekolahkan’ selama kedua orang tuanya studi atau mengais rezeki di luar sana.

Mulai hari ini, selama kami ngelab, Daehan kami percayakan ke Orinijib. Keputusan yang berat sebenarnya. Siapa coba yang mau pisah sama anak yang lagi lucu-lucunya? Masa-masa dimana Daehan butuh full perhatian kedua orang tuanya, terutama bundanya. Tapi mau bagaimana lagi. Kami tak punya pilihan lain 🙁

Ada satu opsi lain sebenarnya: menitipkan Daehan di bawah asuhan nenek-kakeknya di Indonesia. Tapi, LDR-an ama Daehan malah justru bakal bikin kami baper setiap hari :'(

Sempat kami berdiskusi mengenai hal itu. Tapi kami pikir, menitipkan Daehan di Indonesia bukanlah keputusan yang bijak. Pertama, kami sudah banyak merepotkan orang tua kami hingga saat ini. Dari mulai nikahan, empat bulanan, lahiran, aqiqahan, sampe kemarin liburan sebentar kami di Indonesia. Banyak hal yang beliau-beliau berikan. Kami tak mau menambah repot beliau-beliau.

Kedua, kami ingin Daehan mendapat ASI ekslusif. Kalo Daehan di Indo, Daehan ga mungkin bisa dapat ASI spesial dari Bundanya. Aktivitas menyusui bunda-anak salah satu bentuk transfer kasih sayang, bukan? Selain itu juga, memberikan ASI hingga anak usia 2 tahun adalah perintah agama.

Ketiga, yang kami rasakan, bentuk kasih sayang nenek-kakek terhadap cucunya itu berbeda dari kasih sayang orang tua pada anaknya. Kalo istilah sundanya mah ‘kanyaah diogo’. Nenek-kakek cenderung akan melakukan apa saja, memberikan apa saja, memenuhi apa saja yang cucunya mau. Bisa dibilang, kalo perkara makmur mah, pasti makmur cucu di bawah asuhan nenek-kakeknya mah. Tapi ada beberapa poin yang sedikit berseberangan dari pola didik yang kami mau.

Keempat, kami tak bisa menunaikan kewajiban dan mendulang jariyah jika Daehan di Indo. Mendidik anak hingga menjadi shalih adalah kewajiban orang tua, bukan? Anak adalah titipan Allah. Mendidik dan mengurusnya adalah bentuk syukur atasnya. Kami pikir, menitipkan Daehan adalah bentuk melipir kami dari kewajiban kami sebagai orang tua. Yang lebih disayangkan adalah jika kami tak bisa mendulang jariyah dari Daehan. Dari al-fatihah Daehan, dari lancarnya bacaan Quran Daehan, dari rajinnya shalatnya Daehan, dari seringnya Daehan berdoa kelak. Kami ingin, kami adalah orang pertama yang mengajarkan itu semua. Kami juga ingin, kami yang menyaksikan proses shalihnya Daehan kelak.

Alasan lain, baru akan ditinggal sebentar dan bahkan akan ditengokin dalam beberapa waktu ke depan aja udah bikin istri baper. Apalagi jauh dari Daehan. Mungkin bakal jauh lebih baper dibanding ditinggal sama suaminya dulu, hehe.

Atas semua alasan itu, maka kami putuskan untuk tetap mengasuh Daehan di sini. Walau kami tak bisa bertemu Daehan dalam beberapa waktu, tapi menurut kami, keputusan ini lebih baik.

Jarak rumah-kampus-orinijib tak jauh, untungnya. Alhamdulillah. Bisa ditempuh jalan kaki atau naik sepeda. Radius 4-8 menit lah in syaa Allah. Jadi setiap sekitar 3 jam sekali, kami bisa nengok Daehan di sana.

Walau kami tau setiap pengasuh orinijib di sini tersertifikasi dan pengasuhan di sana di bawah kurikulum yang juga tersertifikasi, tapi tetap saja kami khawatir sama kondisi Daehan. Bagaimanapun, yang paling tau gimana-gimananya Daehan kan Ayah-Bundanya.

Saat ini hingga beberapa waktu ke depan akan menjadi masa-masa adaptasi kami. Semoga kami segera menemukan pola keseharian dan pola didik terbaik kami untuk Daehan hingga semua berjalan baik dan tetap under control.

Aamiin.

Daehan shaleh, baik-baik di sana ya, Nak.

0 comments: On Orinijib

Leave a Reply to Anggita Cremonandra Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: