Nuansa Pagi

Pagi ini, bagiku, menjadi pagi bernuansa merah jambu. Merah jambu? Entah istilah ini tepat atau tidak. Hanya menuliskan hal yang pertama terlintas. Tapi yang ingin aku sampaikan, bahwa makna sebenarnya dari ‘merah jambu’ itu tidak seperti yang pertama kali terbayang dalam benak. Kuharap tidak ada pikiran liar yang hadir. Aku hanya tidak menemukan sebuah istilah yang menggambarkan nuansa yang kualami pagi ini. Ya, anggaplah istilah ‘merah jambu’ telah mewakili.

Sungguh, aku pun tidak mengerti mengapa aku terlarut dalam nuansa ini. Ya, aku akui, aku pun pernah terlarut pada nuansa serupa sebelumnya. Hanya saja, saat itu aku hanya menjadikan keterdiaman sebagai respon dari jutaan syaraf yang terlibat dalam diriku. Berbeda dengan pagi ini. Bisikan hati yang berdesir, luapan rasa yang mencuat, dan lintasan pikiran yang berkelebat, menggerakkan jemari ini untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Judul nuansa pagi ini adalah : kamu.

Setiap kali aku ingat kamu, pikiranku senantiasa diarahkan pada sebuah perenungan. Mengapa Ia mempertemukan aku denganmu kala itu? Walau aku meyakini tidak ada skenario hidup bernama ‘kebetulan‘, namun pertanyaan itu tak pernah lenyap dari benakku.

Sebenarnya, aku tidak ingin pikiranku diisi hal rumit. Tak heran, saat itu aku hanya berpikir bahwa pertemuan aku dan kamu tak ubah layaknya pertemuanku dengan kawan-kawan yang lain. Tidak lebih. Seiring berjalannya waktu, dengan segala rentetan skenario yang kualami, entah mengapa aku merasa pertemuan aku dan kamu ini telah tertakdir. Tertakdir secara khusus.

Ah, aku tak ingin menjadi seorang yang terlalu berlebihan menanggapi hal ini. Kenyataan bahwa skenario ini hadir sudah cukup menjadi alasan atas ucap syukurku pada perenungan pagi ini. Bersyukur pernah bertemu denganmu. Bersyukur pernah mengenalmu. Bersyukur berada dalam satu skenario bersamamu.

Saat ini, mungkin masih asa berbalut malu yang tertampak. Banyak rasa enggan yang seringkali muncul. Bahkan hingga enggan untuk bertemu sekalipun. Bukan karena tidak mau, tetapi karena ingin penghujung kisah ini mengharu biru. Saat apa yang mereka sebut itu ‘cinta’ tertumpah di momen semestinya. Karena aku pun ingin, untuk perihal ini, kisahku tidak terkontaminasi riak-riak tak guna. Masih mencoba menahan agar di saatnya nanti aku bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Barangkali, ketika tiba saatnya aku dan kamu dibolehkan untuk saling jujur, kita akan mengaku bahwa kita mendamba sebuah keteduhan. Keteduhan dari perlakuan yang aku pun tak tahu bagaimana itu bisa didefinisikan. Tapi untuk saat ini, biarlah aku dan kamu hanya menjadi dua insan lugu yang sama-sama sedang menunggu.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: