Mereka yang Berempati Tinggi

Saya selalu menaruh hormat pada orang-orang yang punya rasa empati tinggi. Orang-orang yang di dalam pikirannya tidak hanya dipenuhi oleh dirinya sendiri, atau orang terdekat yang mereka sayangi. Namun juga oleh wajah-wajah orang lain. Bahkan terkadang oleh orang-orang yang tidak mereka kenal sama sekali.

Sepengamatan saya, mereka yang berempati tinggi seringkali mengulurkan tangan tanpa berpikir dua kali. Entah itu tenaga, pikiran, ataupun materi. Jikapun mereka dalam kondisi yang terbatas, dengan segala kerendahan hati yang mereka miliki, mereka masih mau menyempatkan diri untuk setidaknya bertanya kabar. Mereka masih mau mencoba memberitahukan kalau mereka ada, walau hanya dengan sekedar menyapa. Ini yang membuat saya sangat respek sekaligus iri pada mereka. Membuat saya selalu ingin meniru dan menduplikasi mereka.

Rasa empati, walau sekilas terlihat sederhana, ternyata mampu menciptakan kebahaagiaan yang luar biasa. Saya memiliki banyak pengalaman berinteraksi dengan mereka yang berempati tinggi. Merasakan betapa hangatnya kebaikan yang lahir dari empati mereka. Izinkan saya berbagi beberapa diantaranya.

Pertama.

Di suatu waktu, saya hendak membeli roti. Jarak satu langkah dari pintu, jalanan terlihat sedikit basah. Memang saat itu hujan turun rintik-rintik. Saya pikir, hujan serintik itu tak perlu diteduhi dengan payung. Perkiraan saya, hujan akan tetap bertahan dengan intensitas demikian hingga nanti saya kembali pulang sehingga saya tak perlu membawa payung.

Qadarullah, hujan bertambah deras dan semakin deras seiring saya semakin jauh berjalan. Meskipun akhirnya saya berlari, saya tak bisa mengelak kalo air hujan cukup banyak membasahi saya. Sesampainya di toko, setelah saya memesan, ibu penjual mengarahkan saya untuk mengambil tissue di dinding. Saya menangkap maksud beliau. Keringkan rambut dan tangan saya dengan tissue itu. Dalam hati saya bergumam, ibunya baik sekali memperhatikan kondisi saya yang kebasahan.

Ternyata kebaikan ibunya tak berhenti sampai di situ. Sembari memberikan pesanan saya, ibu itu juga memberikan sebuah payung. Kata beliau, kurang lebih, bawa saja payungnya ke rumah supaya saya tidak kehujanan. Bukan payung yang mahal memang, karena payung itu sering saya lihat dijual di convenient store terdekat. Tapi saya justru melihat empati ibu penjual ini yang sangat mahal. Mau memikirkan dan membantu orang lain, apalagi ‘orang asing’ yang tak sering muncul di hadapannya, bukan hal yang lumrah bagi setiap orang.

Kedua.

Di hari menjelang istri melahirkan, ada satu kekhawatiran yang terbesit dalam benak saya. Prediksi bukaan istri terjadi di tengah malam, yang artinya saya harus bersiap dan berjaga untuk membawa istri ke rumah sakit di tengah malam. Karena laju taksi yang tak bersahabat di malam hari, saya lebih memilih untuk tidak menggunakan taksi.

Di saat yang bersamaan, beruntung ada dua orang sahabat yang bersedia mengantarkan kami dengan menggunakan mobil pribadi. Mereka bersedia membantu meminjamkan mobil dari kenalan mereka untuk kami. Mereka juga bersedia standby dan terjaga hingga saatnya saya memanggil mereka untuk mengantarkan kami ke rumah sakit.

Dan sesuai prediksi, kontraksi hebat istri terjadi di tengah malam. Alhamdulillah, melalui pertolongan mereka, istri sampai di rumah sakit dengan tenang. Mereka berdua juga dengan senang hati mau menemani saya hingga urusan administrasi beres.

Ketiga.

Sewaktu Daehan di rumah sakit, ada beberapa titik dimana kami, saya dan istri, merasa ‘sendiri’. Terpisah jarak yang cukup jauh dengan rumah dan kawan-kawan, membuat kami seperti berada dalam ‘perasingan’ dimana tak ada teman berbagi cerita selain hanya antara kami berdua dan orang tua di tanah air.

Selama ‘perasingan’ itu, ada beberapa kawan dari Korea dan Indonesia, yang dengan sengaja menghubungi saya melalui private message. Mereka, dengan raut kekhawatiran mereka, mencoba bertanya kabar dan perkembangan Daehan. Tak sedikit dari mereka juga yang tulus menawarkan bantuan dan meminta kami tak segan untuk meminta bantuan mereka jika kami membutuhkan. Bahkan ada dua orang kakak yang masing-masing sengaja bertolak dari Daejeon dan Busan untuk menjenguk dan mendengar kisah kami, lalu kembali ke tempat masing-masing tak lama setelah sampai di rumah sakit. Tak lupa juga ada seorang labmate saya yang bersedia mengantar kami ke rumah sakit dengan mobilnya, lalu membantu proses administrasi rawat inap kami hingga selesai.

Satu hal lain yang membuat saya tersentuh adalah saat ada sejumlah bantuan datang pada kami di titik kepasrahan kami dalam menghadapi segala macam bentuk pengobatan Daehan. Di kemudian hari saya tahu, bantuan itu ternyata tidak hanya datang dari orang yang kami kenal, namun juga dari orang yang tak kami kenal. Masyaa Allah. Betapa tinggi rasa empati yang mereka miliki.

Di masa itu, saya jujur merasa bahagia. Saya merasa ‘kesendirian’ saya sebelumnya terobati dengan empati dari mereka. Bagi mereka yang berempati, mungkin hal di atas begitu sederhana. Tapi bagi kami, saya khususnya, kesederhanaan itu sangat istimewa.

Dan masih banyak lagi kisah lain tentang empati yang pernah saya alami.

Satu poin yang saya garis bawahi adalah betapa mengagumkannya sebuah empati. Empati mampu merubah putus asa menjadi semangat, menyulap kesendirian menjadi kebahagiaan, dan mentransformasi kebaikan menjadi energi positif. Terkadang, empati hanya berawal dari sebuah kesederhanaan, namun kemudian ia berakhir menjadi kebaikan dan kebahagiaan yang berlipat.

Hingga saat ini saya masih terkagum dengan mereka yang berempati tinggi. Ingin rasanya mendoakan kebaikan bagi mereka setiap waktu. Karena dari mereka saya belajar, bahwa kebaikan dan kebahagiaan bisa berawal dari empati yang sederhana. Bahkan bisa berasal dari hanya sekedar menyapa dan bertanya kabar.

Kita selalu diajarkan untuk senantiasa berbuat baik. Didorong untuk selalu menebar kebaikan dimanapun dan kapanpun. Sekecil dan sesederhana apapun itu. Karena kita tidak pernah tahu, kebaikan yang mungkin kita anggap kecil, bisa saja bernilai sangat besar bagi orang yang kita bantu. Dan kita juga tidak pernah tahu, kebaikan kita yang mungkin kita anggap sederhana, bisa jadi di lain kesempatan mengantarkan kebaikan yang lebih besar dalam kehidupan kita. Kebaikan yang datang dari doa-doa dari mereka yang kita bantu.

Dan berempati adalah salah satu bentuk berbuat baik.

Mari belajar berempati.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: