Meredakan Amarah

Di dalam ilmu komunikasi, marah merupakan salah satu bentuk komunikasi seseorang. Saat ia sedang meluap-luap akibat amarah yang membludak di dalam dadanya, maka saat itu sebenarnya ia sedang berupaya menyampaikan pesan pada lawan bicaranya. Bentuk penyampaian amarahnya berbeda-beda, bergantung pada lingkungan dan budayanya. Sebagai contoh, cara orang Batak marah berbeda dengan cara orang Sunda marah. Orang Batak cenderung lebih mudah mengekspresikan amarahnya. Tangan dan kaki siap menjadi ajudannya. Lain halnya dengan orang Sunda. Orang Sunda biasanya lebih banyak diam. Jikapun harus marah, lebih banyak di adu mulut, tidak banyak dalam mengekspresikan marahnya.

Marah itu bagian dari emosi, namun emosi yang negatif. Oleh karenanya, jangan sampai membuat marah ini mengalir ke permukaan, karena marah dapat mendatangkan banyak kerugian, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Tidak sedikit orang yang tersakiti jika amarah dibiarkan mengalir ke permukaan. Bahkan, tidak hanya membuat sakit, namun juga terkadang dapat menimbulkan luka berbekas yang mungkin sulit dihilangkan. Walau dalam sebagian kasus, adakalanya marah dapat memberikan dampak positif, karena terkadang, suatu pesan akan lebih mudah membekas jika disampaikan dalam sebuah amarah.

Rasulullah bersabda : “Orang yang kuat adalah bukan orang yang pandai bergulat diantara kalian, tetapi orang yang dapat mengendalikan amarahnya.”

Di dalam Islam, ada beberapa trik untuk meredakan amarah:

 

  • Ucap A’udzubillahi minassyaitanirajim

Amarah itu bersumber dari syaitan. Maka dari itu, sudah sepantasnya meminta perlindungan dari amarah kepada Allah semata. Siapa lagi yang dapat memberikan pertolongan selain Allah?

Rasulullah pernah mengajarkan pada 2 sahabat yang  saling mencaci dengan mengatakan, “Sesungguhnya aku akan ajarkan kalian satu kalimat yang kalau diucapkan maka hilanglah kemarahan kalian, yaitu mengucapkan A’udzubillahi minasy syaithon nirrajim”

 

  • Mengubah posisi

Jika amarah muncul saat berjalan, maka ubah posisi dengan diam sejenak misal. Atau saat amarah muncul ketika berlari, ubah posisi menjadi duduk. Hal ini dimaksudkan agar kondisi emosi menjadi stabil kembali.

Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian marah, sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda marahnya (maka cukup duduk saja), namun jika belum reda, hendaklah ia berbaring.” (HR Abu Daud)

 

  • Diam membisu

Rasulullah bersabda. “Apabila diantara kalian marah, maka diamlah” (HR Ahmad)

Mungkin untuk sebagian orang, hal ini sulit dilakukan. Ketika amarah datang, inginnya amarah itu dikeluarkan dan dituangkan langsung ke orang yang membuat marah. Namun perlu diketahui, bahwa mengekspresikan marah dengan kekerasan tidak akan membuahkan apa-apa. Marah ataupun tidak, hal yang sudah terjadi tidak akan dapat diulang kembali. Jadi, daripada tenaga yang dimiliki disalurkan pada amarah, mending tenaganya disimpan untuk kegiatan produktif lainnya.,

 

  • Ambil air wudhu

Karena amarah datang dari syaitan, dan syaitan terbuat dari api, maka siramlah dengan air dengan berwudhu. Saat amarah tidak dapat dipendam, maka berwudhulah agar amarah mereda.

  • Shalat 2 Rakaat

Jika keempat trik sebelumnya belum dapat meredakan amarah, maka ambil langkah terakhir, yaitu shalat sunnah 2 rakaat. Ketika amarah telah bergejolak di dalam dada, maka mintalah langsung pertolongan Allah untuk meredam amarah itu. Karena, solusi manusia belum tentu cocok dengan apa yang kita butuhkan dan harapkan. Hanya solusi dari Allah-lah ang paling pas. Mengapa? Karena Allah tahu seluk beluk apa-apa yang ada di dalam diri manusia.

Rasulullah bersabda, “ Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya kedua urat nadi di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia bersujud (shalat).

Wallahualam bisshawab

 

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: