Menyalakan Sensor Hikmah

Kehidupan tersusun atas berbagai ragam ujian, pada hakikatnya. Baik ujian yang menyimpulkan senyum, maupun ujian yang membuat berlinang air mata. Keduanya merupakan satu kesatuan, bak dua sisi koin logam. Allah tidak akan membuat seseorang bahagia selamanya, juga takkan membuat seseorang sedih selamanya. Keduanya berjalan beriringan, saling mengisi sela kehidupan bergantian.

Ujian hidup adalah sebuah keniscayaan. Seseorang tak dapat meminta untuk dilepaskan dari ujian hidup, pun meminta untuk ditantang dengan ujian hidup terus-menerus. Perlu diyakini, bahwa ujian hidup adalah kasih sayang Allah dalam bentuk yang lain. Saat Allah menilai seseorang baik, maka saat itulah ia diuji. Saat seseorang diuji, maka saat itulah Allah sedang menaruh perhatian padanya.

Lain halnya dengan ujian, respons terhadap ujian hidup adalah sebuah pilihan. Karena, penyikapan terhadap ujian, seratus persen di ranah manusia. Seseorang dapat memilih untuk menyikapinya dengan hati terbuka. Atau sebaliknya, ia dapat menyikapinya dengan amarah di dada. Semua tergantung pada kapasitas jiwa dari ia yang sedang diuji. Satu hal yang pasti, besarnya kapasitas jiwa menentukan opsi sikap yang akan dipilih.

Salah satu cara membesarkan kapasitas jiwa adalah dengan menyalakan sensor hikmah. Ujian tidak serta-merta hadir begitu saja. Ia datang satu paket dengan hikmah yang membersamainya. Allah sendiri yang menjamin bahwa bersama kesulitan akan ada kemudahan. Dan jika dipahami lebih dalam, justru maksud ujian diberikan adalah agar hikmah di baliknya mampu dipahami dengan baik.

Satu yang sangat disayangkan adalah mata hati manusia terkadang tak bisa menangkap hikmah yang membersamai ujian. Entah karena masih belum terjaga atau sudah tak dapat terbuka kembali. Naudzubillah.

Pada dasarnya, setiap manusia telah dianugerahi sensor hikmah di dalam dirinya. Sensor yang mampu menerjemahkan maksud dari apa yang sedang dialami. Sensor yang tanggap mencari jalan keluar atas masalah yang hadir. Sensor yang mampu membangkitkan ingatan masa silam untuk diekstrak pembelajaran di dalamnya. Sensor yang dilengkapi sentuhan rasa dan pengaruh akal agar setiap respons tetap mengacu pada apa yang diyakini.

Tugas manusia hanyalah menyalakan sensor hikmah yang sudah lama bersemayam di dalam dirinya. Agar setiap ujian yang datang mampu dimaknai secara utuh. Bahwa di balik serentet ujian yang tampak, terdapat segudang hikmah yang siap diekstrak.

Saatnya menyalakan sensor hikmah. Saatnya memaknai ujian seutuhnya.

0 comments: On Menyalakan Sensor Hikmah

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: