Celotehan

Menjaraki Media Sosial

Beberapa waktu ke belakang (bulan? tahun? entahlah, yang pasti sudah cukup lama), saya mencoba sedikit menjaraki medsos*. Setelah melihat dan mengalami sendiri beberapa fenomena seputar medsos, ada banyak pikiran-pikiran melintas yang kemudian membuat saya malah jadi bermonolog. Mendiskusikan segala hal (yang menurut saya pada waktu itu) mengganjal dengan…. diri sendiri.

*medsos yang saya maksud di sini meliputi FB, IG, Twitter, dan Youtube, the big 4 of Social Media Universe in 2018. karena 4 platform itu yang paling banyak menggoda saya.

Dan pada ujungnya, akhirnya saya mencoba memutuskan:

“Harus rada disetop dulu mungkin ya medsosnya”

Cenah sayah waktu itu

Boleh dikatakan, waktu itu saya termasuk bagian dari mereka-mereka yang memiliki kadar FOMO yang cukup tinggi. Secara singkat, FOMO adalah sebuah perasaan yang lahir dari interaksi dengan medsos yang terlalu berlebihan. Jadi saya selalu merasa rasanya kalau gak ngecek medos tuh seperti ada sesuatu yang hilang di hari itu. Serasa akan ketinggalan banyak informasi.

Informasi apa?

Ya pokoknya, informasi-informasi apa weh yang berseliweran di medsos, mulai dari apa yang lagi happening di Twitter, update terbaru mereka-mereka yang saya follow di IG, komentar postingan dan foto di FB, check-in yang asik di Path (dulu pisan), balasan-balasan di Plurk (ini mah jaman iraha), siapa yang lagi login di YM (komo ieu), dan lain sebagainya. Dan lama-lama jadinya gatel kalau gak buka medsos. Cek sana, cek sini, untuk hal yang….. mungkin saya sendiri ge, jika ditanya, gak bisa menjelaskan faedahnya apa ngecek semua itu.

Sedikit FYI. Kalo baca salah satu artikel ilmiah tentang FOMO ini, disebutkan bahwa fenomena FOMO erat kaitannya dengan penggunaan medsos. Salah satu benefit dari adanya medsos kan seperti kata Nok*a: connecting people. Tapi, ternyata hal ini memiliki sisi lain yang menjadi trigger munculnya FOMO.

Medsos memudahkan orang dari kalangan manapun untuk membagikan mindset-nya, fashion taste-nya, aktivitasnya, atau kisah hidupnya. Satu suhu dengan itu, fitur sharing yang disediakan medsos juga membuat semua orang mudah untuk mengetahui apa-apa yang dibagikan orang lain, yang jika apa yang dibagikan itu menarik menurutnya, ia akan cenderung untuk mencari update-an terbaru di kesempatan berikutnya. Dan karena hidup ini terbatasi waktu, muncullah kekhawatiran kalau-kalau ada update-an yang terlewat. Lahirlah FOMO.

Dalam artikel itu juga disebutkan bahwa mood dan kepuasan hidup turut berpengaruh dalam memicu kemuculan FOMO. Mereka yang merasa sendiri menyepi, bosan, punya kepuasan hidup rendah (kurang bersyukur mungkin?), atau merasa ada kebutuhan (terutama kebutuhan psikologisnya) yang belum terpenuhi, akan cenderung memiliki interaksi dengan medsos di level yang tinggi, yang kemudian secara tak sadar akan mengantarkan mereka pada gerbang FOMO.

Kembali ke laptop.

Waktu itu, saya bisa bilang bahwa tiada hari tanpa memikirkan dua hal:


  1. Topik hangat apa yang “harus” saya pantau
  2. Konten apa yang “harus” saya bagikan di hari itu

Keren ga sih? Henteu.

Pasalnya, waktu itu saya sudah sampai pada suatu titik dimana kedua poin di atas tidak diletakkan pada posisi yang semestinya. Atau mungkin bisa dibilang porsinya tidak berimbang. Antara mencari topik berfaedah dan mengikuti update-an selewat teman-teman, malah lebih banyak kepo-keponya. Antara membagikan hal inspiratif dan memaksimalkan fungsi medsos, malah lebih banyak postingan harap-harap like-nya.

Di titik itu, saya mulai menyadari bahwa sepertinya saya sedang mengalami disorientasi penggunaan media sosial. Ada sesuatu yang salah dan harus diselesaikan. Walaupun begitu, sayangnya, menyelesaikan problema di atas tidak semudah mengaplikasikan saran orang-orang seperti,

“Yaudah tinggal kurangin aja kepo-keponya meur sama coba terus aja usaha buat lurusin niat. Gampang.”

Asyiap

Saran semacam itu menurut saya…… sedikit normatif. Lah, bukannya sarannya bagus? Memang. Tak ada yang bilang salah sama saran di atas. Kalaupun saya ditanya, “Jangan dulu gitu, udah coba aplikasiin belum saran itu?” Jawabnya?

Syudah In syaa Allah. Namun, excuse nya adalah, easier said than done.

Tapi emang dasar saya nya weh mungkin yang terlalu millenial mudah terdistrak atau belum komit sepenuhnya. Sejujurnya, setiap kali ada suatu kerjaan di depan mata, saya selalu mengupayakan diri buat fokus. Sampai teriak dan ngomong sendiri di dalam hati. Tapi setiap kali ada kesempatan sedikit aja buat melonggarkan baut komitmen, distraksi yang muncul nol koma sekian detik itu tetiba berbuah perjalanan surfing yang cukup panjang. Yang isinya? 28% cari topik berwawasan, 72% distraksi (angka hanya perkiraan semata), yang kalau si distraksi di-breakdown lagi, isinya cuman kepo-kepo, scroll-scroll, klik-klik. Penyebab? FOMO.

Nah, sekarang terkait posting-memosting. Setiap kali habis scrolling medsos atau nemu hasil jepretan yang bagus, selalu aja terbesit buat posting. Akhirnya, mulailah merenung merangkai kata (jika yang mau diposting adalah potongan kata mutiara) buat mencari diksi yang oke, atau terdiam bersama VS*O (jika yang mau diposting adalah hasil jepretan) buat cari editan paling pas. Hingga tak terasa, waktu berjalan begitu saja. Selesai diposting, belum beres. Setiap beberapa menit selalu cek medsos, kali aja ada yang kasih komentar atau like. Dan terus weh sehari-hari looping seperti itu. Penyebab? FOMO.

Awalnya sih tak merasakan apa-apa dengan adanya “segudang aktivitas” tadi. Tapi lama-lama seperti muncul uneasy feeling. Singkat perenungan, atas apa yang telah terjadi itu, saya mencoba menyimpulkan, bahwa sepertinya si medsos ini yang jadi Renya Karasuma dibalik feeling itu.

“Kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia”

Sebuah pepatah

Sebenarnya saya memahami dan meyakini hal itu. Tapi yang namanya manusia (atau saya nya weh), kadang banyak lupanya ketimbang ingetnya. Dan ketika saya lagi ingat-ingatnya sama pepatah itu, saya pun mengalami pergolakan hati, kemudian berkesimpulan bahwa betapa banyak sekali waktu yang sebenernya bisa dialokasikan buat pengembangan diri dan berbagi hal-hal yang dapat mendatangkan kebaikan.

Kan akan lebih baik kalo waktu yang dipakai untuk hal yang (menurut saya) “minim berfaedah” itu dialihkan pada hal-hal yang lebih produktif dan menghasilkan. Ini common sense sih sebenernya haha. Setiap orang pasti meyakini hal ini, atau at least paham tentang hal ini. Tapi ya kebanyakan manusia, termasuk saya, lebih memilih siduru di dalamcomfort zone.

Setelah itu, secara pelan-pelan dimulailah percobaan menjaraki medsos, sebuah usaha untuk tidak wacini. Dimulai dari mematikan notifikasi FB. Awalnya sudah sempat menghapus FB dari gawai, tapi karena masih butuh informasi dari beberapa grup, jadinya cuman mengaktifkan notifikasi dari grup-grup itu. Terus kemudian menghapus akun legendaris @jekfeir Twitter. Sebenernya lebih ke karena sudah gak ada feel lagi aja sama Twitter, jadi setelah mengingat dan menimbang beberapa hal, akhirnya saya memutuskan untuk dihapus aja akun Twitternya.

Di IG, sekarang jadi lebih ke mencoba memfungsikan IG sebagai tempat mengabadikan momen-momen tertentu atau menuliskan buah pikiran singkat. Sedang mencoba untuk tidak menyengajakan diri mencari objek jepretan untuk kemudian diedit dan diposting. Eh, ini bukan berarti hal itu adalah hal buruk ya. Ini mah karena buat saya, hal itu selalu membuat saya malah menghabiskan banyak waktu buat hal yang (menurut saya lagi) asa teu kudu, seperti ngedit berjam-jam dan atau bikin caption yang revisinya aja lebih banyak dari revisi skripsi. Belum dalam beberapa menit sekali cek en ricek berapa tanggapan yang diterima. Kan? Asa teu kudu. Semua itu, sekali lagi buat saya, seharusnya bisa dialihkan pada investasi diri yang lain.

Terus gimana epilognya?

Sejauh ini sih intensitas ber-medsos sudah sedikit berkurang grafiknya. Entah ini bisa dibilang sebuah pencapaian atau ngga. Tapi kalo merefleksikan sama harapan saya waktu itu, mungkin bisa dibilang bisa. Setidaknya ada beberapa bibit distraksi yang bisa sedikit dikikis. Tapi efek sampingnya, kadang jadi malas pegang gawai, yang pada ujungnya kadang suka disentil karena suka lama balas chat. Wakaka.

Sebenernya di titik ini belum bisa dibilang telah sampai di titik epilog, karena setelah chapter the big 4 medsos ini, muncullah chapter Reddit. Eea. Perjuangan menghadapi FOMO belum usai.

Tapi salah satu hikmah yang bisa diambil adalah bahwa dari sudut pandang life trial, sudah sebuah keniscayaan kalau setelah menyelesaikan satu ujian, akan selalu muncul ujian lain. Karena setelah genin, harus ikut chunnin exam dulu sebelum akhirnya jadi jonin. Untuk itulah mengapa kita dianjurkan untuk bersegera menuju urusan lain setelah selesai dalam satu urusan. Karena pada hakikatnya, urusan-urusan itu akan terus menerus datang. Urusan yang sejatinya secara tidak sadar dapat menaikkan kapasitas diri, jika proses penyelesaiannya diikhtiarkan dengan baik dan benar.

Hikmah lain adalah saya jadi mengetahui bahwa FOMO ini ternyata akan jadi destruktif jika dibiarkan hinggap terus-menerus. FOMO mampu memediasi psychopathological symptoms (seperti depresi dan khawatir berlebihan) bertransformasi menjadi negative consequences (seperti mental health problem, rendahnya self-esteem, kurang piknik, dan kurang bersyukur?) seperti yang dilansir dalam studi ini. Sehingga, menjaraki medsos buat saya menjadi opsi yang perlu saya ambil, supaya lebih banyak piknik di dunia nyata.

Pada akhirnya, penggunaan media sosial ini memang ujungnya kembali pada masing-masing orang. Setiap pribadi punya pilihan untuk menjaraki atau membersamainya, selama ia meyakini itu pilihan yang terbaik buatnya.

Wallahualam.

credit featured photo: here

Berikan Komentar

%d bloggers like this: