Menjaga Ketulusan

Salah satu tantangan yang dihadapi setelah hidup berpasangan adalah menjaga ketulusan. Sekilas seperti hal yang trivial atau hal yang tidak banyak menguras pikiran, tapi dalam praktiknya, banyak momen keseharian yang bersentuhan dengan sisi ketulusan.

Tidak berarti, cerita tentang ketulusan sama sekali tidak ditemui di masa hidup berdua. Tapi yang ingin coba digarisbawahi adalah lebih ke kemampuan diri untuk memunculkan ketulusan. Melawan someone-inside-myself di saat ini tidak segesit masa-masa, let’s say, mencari PW wisuda. Dahulu, rasa-rasanya ketulusan tuh terasa lebih mudah dimunculkan, apalagi untuk orang(-orang) yang dikagumi.

Mungkin, karena setelah hidup berdua rasa keakuan semakin meninggi dan topeng citra diri sudah sebagian besar ditanggalkan, sehingga ujian-ujian yang bersinggungan dengan ego dan ketulusan kini masuk ke dalam starred trials dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi jobdesc syaitan yang memang jadi direvisi pasca hidup dalam mitsaqan ghaliza. Lebih lengkap dah ujian bertemakan “tulus atau tidak” ini.

Sebelum ada cincin di tangan, rasanya sesulit apapun situasi yang sedang dihadapi, atau serunyam apapun kondisi hati yang lagi dirasa, mostly, akan selalu ada rasa untuk rela melakukan apapunㅡwhich can be said as manifestasi dari ketulusan, terlebih untuk dia yang dikagumi. Bahkan mungkin sampai ke level yang literally, apapun. Seperti ketulusan mudah sekali mengalir. Melahirkan pengorbanan ini-itu, yang kalau misalnya situasi yang sama (situasi yang pada akhirnya berhasil memunculkan ketulusan itu tadi) seperti saat itu hadir kembali di masa kini… entahlah. Sepertinya akan bergantung suasana hati. Nah kan.

Pasca hidup berdua, terkadang, ketulusan ini sifatnya jadi situasional. Terkadang sih, tidak setiap. Kalau hati dan pikiran sedang jernih, mudah saja ketulusan itu hadir. Tapi, kalau pikiran sedang runyam atau kondisi hati sedang mendung, bisikan ketulusan yang biasanya mudah mengalir, menjadi berisik sendiri. Yang satu bilang, “come on, itu orang yang katanya kamu cintai sedang minta tolong”, yang satu lagi menimpali, “baru aja beresin ini, selow dulu lah. gantian dulu bisa kali”.

Sifat dasar lelaki yang (salah satunya) hitungan dan sifat dasar wanita yang (sewaktu-waktu) suka berdrama terkadang terlihat jadi lebih dominan. Saat ada momen yang dimana dihadapkan pada opsi ketulusan, dorongan untuk mengambil opsi ketulusan ini selalu terbentur dengan bisikan semacam, misal, “aku kan udah ngerjain ini tadi, sekarang kamu-eun yang lakuin itu” buat lelaki, atau “beresin ini tuh capek tau, masa lakuin itu aja gabisa” buat wanita.

Bisikan-bisikan semacam itu seringkali muncul dalam banyak kesempatan. Menggoda lelaki untuk menunjukkan sisi dominansinya dan mengumpani wanita untuk mengedepankan sisi emosionalnya.

Dan… boom.

Saat berhasil menepis bisikan-bisikan itu, dorongan untuk memilih opsi ketulusan pun terasa lebih mudah untuk dipilih. As a consquence, saat bisa menunjukkan ketulusan di hadapan pasangan, satu heart point pun bertambah. Lahirlah kasih sayang yang termanifestasikan dalam berbagai bentuk pengorbanan, inisiatif, dan aksi yang konkret. Hubungan interpersonal antar pasangan pun jadi menguat. Hingga bisa saja muncul percakapan “Jangan lakuin itu. Kasian, nanti kamu cape. biar aku aja..”

Sebaliknya, saat gagal menenangkan diri sejenak untuk dapat sedikit berpikir jernih, dorongan untuk memilih opsi ketulusan tadi tidak terasa walau mungkin opsi tersebut sudah sempat terpikirkan. Dan akhirnya timbullah konflik. Bisa berupa  konflik ringan dan singkat atau bisa juga jadi konflik besar dan berkepanjangan, tergantung bagaimana level manajemen konflik keluarga dan kondisi masing-masing pribadi saat itu.

Jika sedikit disimpulkan, ketulusan in syaa Allah akan selalu dapat dijaga ketika hati dan pikiran selalu dikondisikan dalam kondisi yang terbaik.

Di sinilah tantangannya, ujiannya, dan kesempatan naik level-nya.

Mengondisikan hati dan pikiran mungkin dapat dilakukan seorang diri. Tapi jika begitu, lalu apa artinya ada pasangan di sisi? Oleh karenanya, perlu aksi-aksi yang constantly dilakukan oleh kedua pasangan dan ditujukan satu sama lain. Aksi-aksi yang secara istiqamah dilakukan.

Karena cinta adalah memberi bukan menuntut, dan semakin banyak memberi semakin banyak pula yang akan diperoleh, maka langkah awalnya dapat dimulai dengan aksi yang bisa dilakukan untuk pasangan. Menginisiasi aksi memberi pada pasangan, melakukan hal-hal yang dapat menjaga kejernihan hati dan pikiran pasangan. Dengan melakukan hal itu, harapannya, ia pun akan mengusahakan hal serupa. Karena prinsipnya, jika hanya menunggu, tak akan pernah bertemu bahkan hingga batas waktu.

Senyum adalah parameter kejernihan pikiran dan hati yang paling mudah dideteksi. Saat lelaki masih bisa bercanda dan wanita masih bisa banyak bercerita dengan seyuman lebar terhias di wajah mereka, bisa dipastikan hati dan pikiran mereka sedang jernih. Setelah hidup berdua dalam beberapa waktu, pasti akan sudah hafal senyum mana yang mengandung ketulusan dan mana yang terkesan dipaksakan. Menjaga kadar senyum pasangan adalah hal simple yang bisa dilakukan untuk menjaga kejernihan hati dan pikiran.

Caranya? Yang terpikirkan adalah melakukan hal yang ia suka, dan hindari sebisa mungkin hal yang ia tidak suka. Termasuk di dalamnya barang, kebiasaan, cara menyampaikan sesuatu, serta aksi keseharian dan hal trivial lain. Tentu membutuhkan duduk bareng dan komunikasi heart to heart sebelumnya hingga akhirnya completely faham apa yang memang disuka dan tidak disuka.

Dari sisi diri sendiri, menjaga kejernihan hati dan pikiran sendiri bisa dengan mengingat sisi cerah pasangan. Mengingat segala kebaikan, hal romantis, dan pengorbanannya, even itu hal yang sangat sepele, yang bahkan mungkin pasangan kita tidak ngeh atau sudah lupa. Lumayan require some efforts memang.

Pasalnya, sudah sangat lazim dari diri seorang manusia untuk lebih meng-highlight titik-titik hitam di atas kertas putih. Menceritakan bahwa titik hitamnya terlihat mengganggu ketimbang warna putihnya yang masyaa Allah menyilaukan. Terkadang, sudah jadi dorongan dalam diri untuk melihat sekali-dua kali hal menjengkelkan ketimbang puluhan kali hal menyenangkan nan romantis. Memang ini fitrah, tapi tidak berarti tidak bisa diikhtiarkan. Dan mengikhtiarkannya sewaktu-waktu butuh energi yang cukup besar.

Dengan sering-sering mengingat kebaikan, keromantisan, inisiatif, serta effort pasangan dalam melakukan sesuatu, even itu untuk hal yang paling kecil, mungkin akan sedikit meredam ego dan sifat dasar yang sudah melekat tadi sebelumnya. Dengan begitu, setiap kali ada dorongan untuk meng-highlight kekurangan dan atau hal yang menurut kita kurang sreg dari dalam diri pasangan, kita mampu meng-counter-nya dengan memunculkan semua kebaikannya di dalam benak hingga kita tersadar betapa luar biasanya pasangan kita selama ini.

Last but not least, tentunya dibutuhkan campur tangan Yang Maha Kuasa dalam setiap ikhtiar dan pengondisian yang dilakukan. Siapa kita berani mengatakan dengan sangat yakin bahwa setiap apa yang kita dapat, hasilkan, dan ciptakan adalah murni buah tangan kita? Karena Ia adalah penggenggam hati, maka mintalah agar hati kita dan pasangan kita selalu dikondisikan dalam kondisi terbaik, agar diberi kekuatan untuk menepis setiap dorongan yang bernuansa negatif.

Kini, menjaga ketulusan sudah menjadi tantangan sehari-hari. Tapi, semua in syaa Allah bisa dilalui, dengan ikhtiar kedua pasangan untuk senantiasa menjaga kejernihan pikiran dan hati.

Wallahualam.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.