Menjadi Pasangan yang Lebih Baik

Menurut saya, latihan untuk menjadi pasangan yang baik dalam berumah tangga, ya harus melewati lika-liku kehidupan rumah tangga. Segala hal yang ditemui selama menjalani kehidupan berumah tangga, baik hal besar maupun hal kecil, adalah trial yang akan mengajarkan berbagai macam hal yang akan menjadi pembelajaran untuk kedua pasangan. Pembelajaran yang akan mengantarkan pasangan tersebut menuju titik yang lebih baik dari sebelumnya.

Adapun bekal-bekal yang telah dipersiapkan sebelum pernikahan, menurut saya, hanya memberi semacam koridor dan gambaran awal atas apa yang sebaiknya dilakukan atau apa yang tidak untuk dilakukan. Membaca buku, berdiskusi dengan ‘senior’, atau menghadiri seminar pernikahan, lebih bertujuan untuk membentuk mindset awal dan mempersiapkan initial condition yang baik sebelum masuk fase berkeluarga. Hal-hal tersebut di atas tidak secara langsung menjadikan dua orang yang hendak menikah menjadi pasangan yang mengerti satu sama lain, satu pemikiran satu sama lain, dan baik satu sama lain—dalam versi masing-masing.

Jika berbicara dalam sebuah analogi, seorang yang hafal bagaimana cara mengendarai motor belum tentu akan langsung bisa mengendarai motor. Apa yang ia baca dalam artikel-artikel tentang ‘bagaimana cara mengendarai motor yang baik’ atau diskusi dengan orang yang sudah bisa mengendarai motor, tidak akan pernah membuat ia menjadi mahir mengendarai motor, jika tidak langsung mencoba dan bertemu kesalahan saat belajar mengendarainya. Kurang lebih seperti itulah proses belajar menjadi pasangan rumah tangga yang baik.

Jika ingin menjadi seorang suami yang baik, maka segala tantangan yang muncul dalam proses pencarian nafkah, membina keluarga, mengarahkan kemana keluarga akan dibawa, harus dilewati dengan langkah yang bijak. Jika ingin menjadi seorang istri yang baik, maka ujian kepatuhan dan segala hal yang merintangi fungsi sebagai istri, pun sama harus dilewati dengan penuh kesabaran. Karena, menurut saya, hanya hal-hal yang menjadi tantangan saat menjalani hari-hari pasca nikah lah yang akan membentuk dan melatih karakter kedua pasangan secara bertahap. Bukan sebelum, atau sesudahnya.

Saya sendiri merasakan, bahwa sangat banyak hal yang saya pelajari setelah menikah. Yang sepertinya, saya tidak akan mempelajari hal itu, atau bahkan tidak terpikirkan untuk melakukan hal itu jika saja saya tidak menikah dan mempelajarinya dengan kepala dan kaki tangan sendiri. Semacam ada hal-hal yang ter-unlocked untuk diamati dan diambil pembelajaran darinya setelah menikah.

Sebagai contoh misal, saya jadi memperhatikan hal-hal detail dan mungkin dianggap sepele. Bagaimana memilah pakaian saat mencuci, bagaimana agar perabotan rumah tertata rapi, bagaimana menjaga mood istri, bagaimana memenej quality time bersama istri, bagaimana menyiasati agar gas dan air hemat, dan hal-hal lain yang mungkin untuk sebagian orang dianggap hal kecil tapi menurut saya itu hal yang baru saja saya pelajari dengan serius. Walaupun itu sepele, walaupun itu sesuatu yang trivial. Tentu ada banyak lagi hal detail dan sepele lain yang saya dapatkan. Poinnya adalah hal-hal yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya—bisa jadi berbeda-beda setiap orang—bisa berubah menjadi hal penting untuk dipelajari atau dikuasai setelah menjalani hidup bersama pasangan rumah tangga. Sekali lagi, sekalipun itu hal yang dianggap sepele. Karena sadar atau tidak sadar, hal itulah yang ternyata menjadikan dua orang pasangan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Dalam pikir saya, hal-hal besar seperti mimpi bersama, visi keluarga, atau nilai-budaya keluarga adalah hal yang sudah pasti akan menjadi topik pembicaraan utama di masa awal pernikahan. Dan saya rasa, menjadikannya satu frekuensi tidaklah terlalu sulit. Kecuali jika memang sedari awal kedua pasangan tersebut tidak dari kufu yang sama. Berbeda dengan hal-hal kecil atau sepele yang mungkin setiap pasangan memiliki cara-cara sendiri dalam menanganinya. Saat terjadi perbedaan habit atau ‘penanganan’ atas hal-hal kecil itu, friksi pada umumnya terjadi antar kedua pasangan. Dan hal ini bisa menjadi salah satu dari sekian hal yang harus ditelaah dan dipelajari dengan baik agar kehidupan bersama pasangan bisa menjadi lebih baik.

Permisalan yang lain, saya menjadi lebih belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan pasangan. Saya pikir, bahkan seorang ahli komunikasi pun akan kembali belajar bagaimana berkomunikasi dengan pasangan jika sudah masuk dalam ruang rumah tangga. Akan ada saatnya bagaimana saya harus mengatur diksi, menentukan timing yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu, menjaga mood istri, mewarnai hari dengan jokes ringan, dan lain sebagainya. Ternyata, untuk saya pribadi—mungkin yang lain pun demikian, pola komunikasi yang saya lakukan saat bersama teman, di organisasi, atau di kampus dahulu misal, berbeda dengan pola komunikasi dengan pasangan. Dan, hingga menemukan pola komunikasi yang nyaman dan tidak membuat canggung satu sama lain itu tidaklah instan. Ada banyak kerikil yang harus dilewati, kesalahan yang harus dipelajari, dan cara-cara lain yang harus ditemukan selama berinteraksi dengan pasangan. Menemukan pola komunikasi yang baik dengan pasangan itu tidak sulit, namun juga tidak mudah. Tapi satu hal yang pasti, bisa dipelajari.

Banyak lagi hal lain yang saya temukan dan pelajari.

So, menurut saya, terlalu lama mempelajari dari text book atau berusaha mengenali pasangan lebih jauh sebelum menikah, tidak terlalu banyak memberikan dampak yang signifikan jika memang tujuannya ingin menjadi pasangan yang baik dalam rumah tangga. Saya tidak mengatakan dua hal tersebut tidak penting. Karena menurut saya, dalam kehidupan pasca menikah, pada akhirnya akan muncul banyak hal yang menuntut untuk dipelajari. Yang ternyata, hal itulah yang menempa kedua pasangan hingga menjadi pasangan yang lebih baik. Baik dalam membina keluarga, baik dalam menjalani peran masing-masing di dalam keluarga.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: