Menjadi Orang Tua

What it’s like to be a parent: It’s one of the hardest things you’ll ever do but in exchange it teaches you the meaning of unconditional love.
Nicholas Sparks

Menjadi orang tua bukan perkara mudah. Menjadi orang tua bukan hanya perkara mengganti popok anak, memberi mimi anak saat ia haus, meninabobokan anak saat ia ingin tidur, atau berbagai macam rutinitas lainnya. Karena hal-hal tersebut sudah otomatis menjadi jobdesc dari orang tua.

Menjadi orang tua artinya mengondisikan diri untuk menjadi yang terbaik dalam segala aspek. Proses upgrade diri yang tak lagi diperuntukkan untuk kepentingan diri sendiri, tapi juga untuk kebaikan masa depan anak.

Saat menjadi orang tua, kebiasaan-kebiasaan yang sebelumnya telah mengakar, mau tidak mau harus dikondisikan ulang. Entah itu dengan cara ditinggalkan, diubah, atau ditingkatkan kualitas serta kuantitasnya. Bergantung dari baik dan buruknya. Semua dilakukan demi sebuah keyakinan bahwa perkembangan anak dapat berjalan sesuai dengan harapan.

Dan itu tidaklah mudah.

Membuka mata sepanjang malam untuk menemani si kecil bermain itu tidaklah mudah. Memaksakan terbangun di tengah malam saat si kecil tiba-tiba menangis juga tidaklah mudah. Menyesuaikan jadwal-jadwal yang sudah membiasa dengan “jadwal tak menentu” yang tiba-tiba tersisip dalam agenda harian, itu juga tidaklah mudah.

Apalagi setelah anak mulai mendewasa. Mengurusi anak yang sudah mulai bisa berargumen atas setiap apa yang ia lakukan, pasti tidak semudah yang dibayangkan. Memikirkan pendidikan terbaik untuk anak, membentuk karakter anak, menjadikan anak sebaik-baik titipan, pun pasti demikian. Sudah terbayang, bahwa semua itu membutuhkan effort yang sangat besar.

Dan yang paling menantang di antara semuanya adalah menumbuhkembangkan anak agar sesuai dengan harapan. Berbicara pendidikan dan karakter anak berarti berbicara keteladanan, kurikulum pendidikan, serta kekuatan doa dari kedua orang tuanya.

Itu artinya, sebelum menuangkan nilai-nilai keimanan pada anak, mengasah kecerdasan otak anak, dan membentuk karakter anak, kedua orang tua harus sudah mengisi pundi-pundi keteladanannya terlebih dahulu. Lagi-lagi, mengkristalisasi apa-apa yang ingin ditransfer pada anak dalam sebuah keteladanan sangatlah tidak mudah.

Namun.

Hal-hal yang -mungkin hanya dianggap- tidak mudah tersebut sama sekali tidak mengubah kualitas cinta orang tua pada anaknya. Sederetan tantangan yang dihadapi orang tua tidak menjadikan pengorbanan orang tua terhadap anaknya surut, walau barang sejengkal pun.

Dan anehnya, itu terjadi dengan sendirinya. Dorongan untuk melakukan itu muncul dengan sendirinya. Orang tua, sadar atau tidak sadar, tetap akan meletakkan kepentingan dirinya, setelah anaknya. Mungkin itu yang dibilang orang-orang cinta orang tua pada anak. Atau dalam kalimat lain, kasih sepanjang masa.

Menjadi orang tua, tidak hanya belajar meningkatkan kualitas diri sebagai orang tua saja ternyata. Namun juga belajar tentang bagaimana menyelimuti anak dengan cinta tanpa pinta. Tanpa menuntut balas, dan tanpa berharap pamrih.

Bisa terus meningkatkan kapasitas diri dan menghujani anak dengan cinta, menjadi orang tua sungguh menyenangkan.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: