Menikmati Senja

Tak selamanya senja itu redup

menuju gelap, mencekam

karena dibalik senja

tersimpan sebuah ketenangan

Melihat senja di sore hari, membuat jiwa sejenak menghela nafas. Suasana yang diciptanya mengesankan akhir dari cerita. Tetiba terlintas apa-apa yang telah dilalui di hari itu. Tawa, sedih, semangat, lelah, seolah bercampur seketika. Namun, bahagianya, senja mengalirkan untaian kenangan yang meneriakkan bahwa aku hidup di hari itu. Tahukah kamu? Sejenak reka ulang hari, ternyata mengantarkan pada ribuan ikhtisar baru. Sadar atau tidak, itulah ketenangan yang menjanjikan pribadi berkilau esok hari. Jika kita mau membuka pintu hati.

Tak selamanya senja itu sendu

beraroma sedih, mengharu biru

karena di balik senja

tersimpan sebuah keindahan

Tidak semua cerita pahit harus dihiasi butiran air mata, bukan? Karena kita tak pernah tahu, bahwa bisa jadi ada pelangi cantik bersembunyi di balik awan. Berpendar, dan meneruskan keindahannya ke dalam benak, bahkan hati. Dalam diamnya, sejatinya senja mengirimkan pesan-pesannya untuk kita, yang seringkali melihat alam dengan kacamata hitam. Ia senantiasa berpesan, mengapa harus berpaku pada datangnya gulita? Padahal ada indahnya oranye senja yang bisa dinikmati. Namun, itulah hidup. Terkadang butuh sedikit sindiran untuk menikmati senja.

 

Sebuah lintasan malam. Bahwa senja, saat dimaknai, melahirkan ikhtisar di balik kenangan. Bahwa senja, saat diresapi, memancarkan keindahan di balik gulita. Hanya sebuah kicauan, ternyata, sungguh tidak merugi menikmati senja.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: