Menerobos Batas Diri

Membuat hidup sedikit terarah, memang tidak mudah. Bermain dengan imajinasi dalam menerka masa depan juga tidak sesimpel yang dibayangkan. Namun, jika kita mau sedikit bersabar untuk menikmati prosesnya serta berpegang teguh pada komitmen yang terucap di fase awal, percaya tidak percaya, apa yang diimajinasikan dan direncanakan itu dapat berbuah sesuatu yang istimewa. Setidaknya, istimewa untuk kita sendiri.

Tidak sedikit orang yang dengan sengaja membuat kompas hidup, kemudian membreakdownnya menjadi targetan-targetan kecil. Hal yang pada mulanya besar dan abstrak kemudian diperkecil dan dipertegas, lalu diejawantahkan ke dalam poin-poin kecil untuk nantinya direalisasikan baik perhari, perpekan, atau perbulan. Satu sisi, hal ini menambah daftar beban pikiran setiap harinya. Namun, di sisi lain, hal ini cukup membuat hidup cukup berarah. Tidak hampa, dan memiliki warna. Dan kita yakin, semua orang tahu akan hal itu.

Perkara yang muncul adalah bahwa tidak banyak orang yang mau mencoba menikmati itu. Pun saya salah satunya. Membiarkan hidup mengalir begitu saja memang mengasyikkan. Apalagi menjalani hidup di zona nyaman. Alasan dibaliknya adalah karena sulit untuk dapat konsisten. Tidak jarang target-target itu kandas bahkan sebelum pijak gas diinjak, karena sulit untuk memulai.

Di sinilah memang tantangannya.

Permulaan. Penantang hidup yang cukup handal. Darinya, entah mengapa, sangat terasa gaya gravitasi yang besar. Begitu sulit untuk berdamai dengannya di awal-awal. Seringkali terdengar bisikan-bisikan untuk menjauhinya dari berbagai macam arah. Yang terkadang, membuat segala hal hebat yang telah tersusun baik di dalam pikiran, tidak berbuah sesuatu hal yang nyata.

Menjaga. Tak kalah sukar dari memulai. Bahkan cenderung lebih membutuhkan banyak kesabaran untuk bertahan. Satu hal yang harus diwaspadai adalah sesuatu yang bernama excuse. Harus selalu siap pasang badan, ketika godaan untuk membuat excuse ini datang.

Tiada jalan lain untuk menang melawan dua hal ini selain menerobos batas diri. Karena, sejatinya sesuatu yang patut diwaspadai adalah diri kita sendiri. Ia bisa menjadi kawan yang baik ketika akal dan nafsu senafas. Sebaliknya, ia bisa jadi musuh yang mematikan ketika kita tak mampu menjadi penengah yang baik diantara keduanya.

Datangkan motivasi untuk membuat sumber energi. Energi untuk menerobos batas diri. Kompetitor yang sejawat dan sepadan acapkali menjadi pilihan untuk menjadikanya sumber energi. Kakak, teman, orang yang diidolakan, atau mungkin pasangan. Seseorang pernah menyarankan bahwa sumber energi terbaik adalah diri kita sendiri. Kita masa lalu, dan kita masa depan. Hikmah masa lalu dan impian masa depan sudah lebih dari cukup, sebenarnya.

Untuk membuat hidup terarah, dibutuhkan kesediaan untuk mencipta targetan kecil. Untuk membuat targetan kecil bertahan, kemampuan untuk mendamaikan nafsu dan akal. Untuk mampu mendamaikan dibutuhkan sumber energi untuk menerobos batas diri.

Selamat mencari sumber energi, selamat menerobos batas diri.

0 comments: On Menerobos Batas Diri

Leave a Reply to aghnataa Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: