Mendadak IELTS

Semua cerita ini berawal dari Kakao chat pacar di akhir April silam, dimana ia mengirimkan link vacancies untuk PhD position di beberapa kampus di Norway. Norway ㅡdan negara scandinavia lainㅡ memang top target tempat saya melanjutkan studi karena beberapa alasan yang mungkin akan saya ceritakan kemudian. Pas saya lihat, ada satu kampus yang risetnya sejalan banget sama apa yang kemarin saya lakuin di lab.

Wew. Saya pikir ini kesempatan yang muncul once in a million years. Satu, karena riset PhD nya mirip dan linier sama fokus riset saya waktu S2. Dua, lowongannya dibuka di negara yang saya targetin. Di saat saya ingin mendapatkan topik riset S3 yang sejalan sama riset S2 saya kemarin, eh salah satu kampus di top list saya buka lowongan dengan riset serupa. Gayung bersambut ini saya pikir. Ini beneran kayak kisah cinta aku suka sama dia, dan dia pun ternyata suka sama aku’ men. Sangat harus diperjuangkan.

Singkat cerita, saya pun segera mempersiapkan semua persyaratannya. Salah satu dari beberapa berkas yang belum saya lengkapi adalah proof of English proficiency. Dalam sekejap saya pun langsung kepikiran ambil IELTS, karena saya lebih kebayang format IELTS ketimbang iBT soalnya dulu sempat les IELTS waktu masih (lebih) muda. Jadinya gak perlu alokasiin waktu lagi buat membiasakan diri dengan formatnya, dan bisa langsung drilling soal.

As my first step, saya coba surfing ke British Council nya Korea dan langsung register. Saya lihat, venue buat tes nya cuman ada di enam tempat: Seoul, Busan, Jeju, Gwangju, Incheon, dan Daejeon. Di antara semuanya, saya lebih prefer Busan tentu, soalnya ongkos ke Busan lebih ringan di dompet. Jarak tempuh dari rumah juga lebih dekat, jadinya gak bakal lebih capek. Tapi sayangnya, pelaksanaan tes di Busan ㅡjuga sama halnya kayak di Jeju, Gwangju, Incheon, Daejeonㅡ gak lebih sering kayak di Seoul. Di Seoul, setiap pekan ada jadwal dan venue tes nya juga banyak. Sedangkan di kota lain, gak setiap pekan ada jadwal, dan venue nya paling di satu tempat doank.

Alhamdulillah, di bulan Mei kemarin ada jadwal tes di Busan tanggal 20. Langsung lah saya daftar. Biaya tes IELTS di sini 250 ribu won. Cukup membuat saya harus merogoh gocek lebih dalam memang. Jadinya saya harus ber-azzam supaya ini jadi tes pertama dan terakhir dalam dua tahun ke depan. Tak rela hamba kalau lima lembar uang kertas berwarna kuning itu harus menguap sia-sia. Bisa diomelin istri juga.

Lihat kalender, wew, waktu persiapan cuman ada kurang dari tiga pekan. Dikurangi sama hari-hari libur ㅡada tiga hari libur nasional dan satu hari Presidential election sebelum tanggal 20ㅡ yang kebetulan lagi banyak di bulan Mei kemarin, waktu persiapan pun jadi semakin menipis. Bagi saya, hari libur adalah family time, jatahnya Daehan dan emaknya. Jadinya gak bisa belajar secara maksimal di siang hari. Palingan curi-curi waktu atau malemnya pas Daehan udah tidur ㅡitu pun kalo saya gak ikut tidur. Dan itu jarang terjadi.

Melihat waktu persiapan yang sangat minim, panik lah saya. Wadaw, gimana ini cara belajar yang efektif?

Saya mencoba menenangkan diri dengan japri beberapa teman saya alumni IELTS seperti Aha, Gelfi, Denny, Uswa, dan Iie buat nanya-nanya pengalaman mereka pribadi selama mempersiapkan IELTS. Saya juga baca blognya Alam karena inget dia pernah share persiapan IELTS-nya (bayar pajak promosi sini Lam). Plus baca history chat di salah satu lapak Whatsapp yang pernah bahas tentang IELTS. Overall, setelah kepo-kepo. saya cukup dapat gambaran tentang bagaimana mempersiapkan IELTS. Dari japri-japri juga saya dapet catatan kaki based on pengalaman mereka yang menurut saya ini sangat berharga, karena sesuatu yang berasal dari pengalaman suka meng-cover hal-hal yang gak kita notice sebelumnya. Selalu ada “wew, bener oge” moment juga selepas dengar pengalaman orang lain. Jadi tau mana yang urgen, mana yang butuh perhatian ekstra, dan mana yang bisa rada di-selow.

Setelah persiapan mental beres, lanjutlah saya ke persiapan teknis.

Pada intinya, selama persiapan teknis ini adalah bagaimana memahami strategi menjawab soal dan melatih serta meningkatkan skill dasar dalam English communication yang juga diujikan dalam IELTS: listening, reading, writing, speaking. Menurut saya, kedua hal ini harus berkesalingan. Tau gimana cara jawab soal tapi gak pernah latihan malah akan bikin panik dan rusuh saat tes karena tangan dan mulut gak terbiasa dilatih. Latihan tanpa tau gimana menjawab sesuai yang examiner minta juga malah jadi boros waktu dan bisa jadi gak bagus score-nya. Worst case-nya, waktu habis sebelum semua soal selesai dijawab atau malah dapet score jelek karena gak sesuai dengan yang diminta padahal jawaban udah mirip cerpen.

Mendekati hari H tes, saya mencoba cari tumpangan menginap karena tes nya dimulai sedari pagi. Alhamdulillah Pak Lurah wilayah 3 dan Pak ex-Menteri PSDA Perpika bersedia ditumpangi. Kosan mereka cukup dekat dari test venue saya waktu itu, Pukyong Univ, bisa sampai sana dengan jalan kaki.

Di tanggal 20 itu, ada sekitar 35-40 orang yang ikut tes yang kemudian dibagi ke dua ruangan berbeda. Peserta IELTS mostly Korean, beberapa saya lihat orang Pakistan, Bangladesh, Uzbek, Cina, Russia (gak yakin Rusia sebenernya, tapi lihat wajahnya, tipe cewek Rusia). Kebanyakan dari mereka ambil IELTS karena ingin lanjut studi. Ada juga yang sebelumnya bekerja, tapi sekarang ingin sekolah.

Tes dimulai dengan listening test kemudian dilanjut reading dan writing tests dalam sekali duduk. Total tiga tes itu sekitar 3 jam. Mabok emang. Satu hal yang disayangkan, ruangan tes nya ternyata di ruangan kelas biasa yang speaker-nya cuman ada di sudut ruangan. Bayangan awal, tes diadakan di semacam ruang audio-visual gitu, jadinya suara speaker lebih jernih. As consequence, saya merasa gak maksimal sewaktu listening #excuse. Biasa latihan pake headset yang suara sampai langsung gendang telinga, pas selama tes kemarin suara speaker-nya malah gak clearly terdengar, jadi agak “oh, come on, why?”. Faktor Z memang sulit dihindari.

Mengenai speaking test, karena speaking harus perorangan, jadinya setiap orang dikasih jadwal masing-masing. Untungnya saya kebagian speaking di hari yang sama. Ada juga soalnya yang speaking test nya di hari besoknya. Estimasi jadwal speaking test dikabari via sms dua hari sebelum hari tes. Jadwal speaking saya waktu itu jam 4 sore, sekitar 3.5 jam setelah tiga tes sebelumnya selesai. Malesin emang harus nunggu lama ㅡudah kangen yang di rumah soalnya (intermezzo, kalo lagi safar entah kenapa tingkat kerinduan selalu meningkat), tapi Alhamdulillah-nya ada waktu buat latihan lagi.

Saya kebagian examiner speaking test om-om paruh baya brewokan dengan aksen American (I think). Orangnya gak garang walau jarang senyum. Selama tes speaking ini, satu  “oh, come on, why?” moment lagi adalah saat pas tes part 2. Entah kenapa saya tetiba blank sama topik yang ada di cue card nya. Ini tutumbenan asli. Tetiba gak bisa mikir jernih, bahkan hingga waktu satu menit yang disediakan untuk berpikir habis, saya masih belum dapat ide. Ini kan disaster parah. Walhasil, saya membacot gak jelas di part dua ini. Keluar ruangan, udah pasrah aja sama hasil tes speaking.

Hasil tes keluar secara online 13 hari setelah hari tes, dan bentuk fisiknya akan sampai di rumah sekitar satu pekan setelah hasil online keluar. Dengan kata lain, hasil tes saya akan keluar secara online pada tanggal 3 Juni, dan dokumen fisiknya akan sampai di rumah saya sekitar sepekan setelahnya.

Tanggal 3 Juni kemarin adalah hari yang menegangkan. Sebelum 3 Juni ini saya berdoa setiap hari supaya dikasih hasil yang terbaik. Hasil yang mencukupi syarat apply buat PhD nya at least. Saya dapat sms kalau hasilnya akan muncul setelah jam 10 pagi. Hasil keluar jam 10 tapi deg-degannya udah dari pas sahur.

Jam 10 saya buka hape, masuk ke webpage nya British Council, terus ke bagian hasil tes. Saya masukkan tanggal tes, nomor peserta, nomor passport, dan tanggal lahir. Lalu saya klik tombol di bawahnya dan……………

Alhamdulillah Ya Allah hasil tes nya di luar ekspektasi!

Speaking yang dikira ancur ternyata lumayan. Tapi reading yang ngisinya pede ternyata hasilnya gak sesuai ekspektasi. Listening emang sedari awal gak yakin bagus, so let it be. Kalau writing sebelumnya memang gak ada bayangan sendiri sama score-nya. Beneran diserahkan ke Yang Di Atas itu mah.

Di atas itu semua, Alhamdulillah tes nya cukup sekali. Udah deg-degan aja kalau harus ambil tes lagi. Bisa kembali shaum bujang ntar.

Satu hal yang saya sarikan dari pengalaman ini adalah bahwa kolaborasi usaha sama doa emang luar biasa efeknya. Kombinasi antara kesadaran bahwa sebagai manusia banyak memiliki keterbatasan dan keyakinan bahwa ada Yang Maha Kuasa yang mengatur segala sesuatu melahirkan kepasrahan yang tidak kosong. Tidak terlalu merasa santai, karena tau tanpa usaha maksimal hasil maksimal tak akan mengiringi. Tidak terlalu khawatir dengan hasil, karena tau ada Dzat yang sangat kuasa untuk menolong siapapun kapanpun dimanapun. Saya gak mengatakan doa saya yang menjadikan hasilnya di luar ekspektasi, karena apalah saya ini. Saya yakin, usaha saya selama persiapan tes kemarin juga bukan kontributor utama. Menurut saya, ini mah murni pertolongan Allah.

Yang berat sekarang adalah mempertanggungjawabkan hasilnya. Walau hasil tes memang bukan segalanya, tapi setidaknya hasil tes ini adalah hal simple yang bisa dipakai orang lain dalam menilai kemampuan kita. Jadinya harus bisa menjawab ekspektasi orang lain. Tentunya, hasil ini juga bukan titik akhir. Tantangan selanjutnya adalah gimana agar tidak terus merasa puas dengan hasil yang sekarang sehingga bisa terus meng-upgrade skill english communication-nya ke tingkat yang lebih baik.

Credit photo: here

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: