Diary PipitZaky

Mencoblos di Korea Selatan

Sebagai bentuk usaha untuk menjadi warga negara yang baik, saya merasa berkewajiban untuk berpartisipasi dalam menyuarakan hak pilih saya di pemilu 2019 ini. Bagi saya pribadi, ini pengalaman pertama saya berpartisipasi dalam pemilihan umum (pemilu) di luar negeri. Oleh karenanya, saya mau sedikit berbagi sekalian merekam pengalaman pribadi dalam mengikuti pemilu di luar negeri, khususnya di tempat kami berdomisili sekarang.

Menurut saya, sepertinya prosedur pencoblosan di luar negeri tidak akan berbeda jauh satu sama lain. Di tulisan ini, saya akan coba berbagi tentang prosedur pemilihan umum di Korea Selatan yang saya ketahui dan alami sendiri.

Prosedur Pemilu di Korea Selatan

Proses pendataan pemilih pertama kali dikumandangkan sekitar akhir Juni 2018 lalu. Seluruh WNI di Korea Selatan dihimbau untuk mengecek data diri di website sidalih PPLN Korea Selatan. Jika data diri belum ditemukan, maka semua dihimbau untuk segera mendaftarkan diri dan memilih metode pencoblosan yang dikehendaki.

Ada tiga jenis metode pencoblosan yang dapat dipilih, diantaranya adalah:

  1. Tempat Pemungutan Suara (TPS). TPS ini tersebar di 7 kota yang dianggap banyak terdapat aktivitas WNI di sana: Seoul, Incheon, Ansan, Daegu, Jeju, Busan dan Gimhae. Pendaftar yang datanya sudah terekam di sidalih akan dibagi ke TPS di lokasi terdekat dari alamat domisilinya.
  2. Kotak Suara Keliling (KSK). Karena tidak semua pemilih berdomisili dekat dengan TPS, maka di beberapa spot keramaian WNI disimpan KSK. Panitia diutus ke tempat tersebut untuk membawa kotak dan surat suara hanya bagi mereka yang mendaftarkan diri dengan metode KSK. Tidak ada bilik suara, pemilih akan langsung mencoblos di tempat, lalu memberikan surat suaranya langsung pada panitia. Pada awalnya ada 5 KSK yang bisa dipilih, tapi di pengumuman terakhir, KSK hanya ada di Teongyeong dan Sacheon.
  3. Kotak Pos (POS). Bagi mereka yang tidak akan berkesempatan datang ke TPS atau KSK di hari-H dikarenakan beberapa alasan seperti misalnya sedang mengikuti conference, harus presentasi di lab meeting, atau mungkin simply karena mager keluar rumah atau males kalau harus ngongkos, pencoblosan via pos menjadi opsi terakhir yang bisa diambil. Amplop berisi surat suara akan dikirimkan langsung ke alamat masing-masing. Pemilih dapat mencoblos, memasukkan kembali surat suara yang diterima ke dalam amplop, lalu memasukkan amplop tersebut ke kotak pos di terminal/stasiun terdekat atau langsung mengirimkannya via kantor pos terdekat. Untuk pengiriman reguler (3 – 5 hari), pengiriman surat suara tidak dipungut biaya, kecuali jika surat suara ingin/harus cepat sampai di hari esoknya.

Di bulan Agustus – Oktober, diadakan perbaikan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Himbauan untuk mengecek data diri dan mendaftar bagi yang belum terdaftar kembali disuarakan. DPT kemudian diumumkan pada tanggal 16 November 2018, tapi perbaikan data masih bisa dilakukan hingga 14 Maret 2019.

Pengalaman Mencoblos

Pada 14 April 2019, pencoblosan dilakukan serentak di seluruh TPS dan KSK yang tersebar di Korea Selatan.

Saya dan istri memilih TPS sebagai metode pencoblosan kami. Tapi, dodolnya adalah, saat kami cek kembali data kami di sidalih PPLN, kami terdaftar di TPS Gimhae, yang dimana berjarak sekitar satu jam 45 menit dari rumah kami menggunakan kereta yang kemudian disambung bus umum. Padahal ada TPS daegu yang berjarak sekitar 45 menit menggunakan subway. Seinget saya sih waktu itu daftarnya TPS Daegu, tapi entah mengapa terdaftar di TPS Gimhae. Entah saya yang gak teliti atau sistemnya yang error. Tapi, ya udah lah ya. Anggap saja saya yang lalai.

Kami pun berangkat ke Gimhae, menuju TPS 1 (di Shelter Gimhae) dimana nama saya terdaftar, dan TPS 2 (di sebelah Warung Mbok Mumun) dimana nama istri terdaftar. Padahal mah barengin weh atuh nyak TPS na da suami-istri.

Sesampainya di Gimhae, kami bertolak ke TPS 1 terlebih dahulu. Bermodalkan alamat yang tertera di broadcast WA dan ke arah mana kerumunan orang-orang Indonesia menuju, TPS 1 tidak sulit untuk ditemukan. Di depan pintu gedung, tampak banyak mas-mas yang lagi ngudud berkumpul. Perkiraan hemat saya sih si mas-mas ini lagi antri buat nyoblos.

Melihat banyak sekali antrian, bisa disimpulkan mas-mas ini gak terdaftar DPT. Koar-koar pendataan DPT padahal udah dilakukan sejak kurang lebih satu tahun lalu. Tapi masih banyak yang tidak terdaftar di DPT. Baik itu di kalangan TKI maupun mahasiswa-mahasiswa terdidik. Entah karena sosialisasinya yang belum efektif, atau memang calon-calon pemilih yang ignorant terhadap proses pemilu.

Karena sebelumnya sudah terdaftar di DPT, saya cukup melihat nomor pemilih di daftar pemilih yang terpampang di pintu masuk. Tanpa mengantri, saya langsung masuk ke area pencoblosan. Saya pun disambut panitia dan ditanya berapa nomor pemilihnya. Setelah menyodorkan paspor dan sedikit prosedur cek n ricek, saya pun diberi surat suara dan penjelasan tata cara mencoblos. Tak lupa saya diminta untuk mengecek surat suara langsung di depan KPPSLN.

Saya diminta untuk melihat adakah tanda tangan KPPSLN dan bersihkah surat suaranya. Setelah proses pengecekan singkat satu tatapan ala sherlock, saya pun berhasil menemukan tanda tangan KPPSLN dan tidak menemukan surat suara saya berlubang di salah satu kotak paslon seperti yang ramai di medsos. Sebelum menuju bilik suara, saya diminta menyerahkan gawai saya. Khawatir poto-poto atau selfie teu kudu cenah. Tenang, Pak. Sayah juga lagi belajar menjaraki medsos.

Saya diberi dua surat suara. Satu surat suara yang berisi foto dua calon pasangan presiden dan wapres, satu lagi surat suara yang berisi lambang partai beserta caleg-caleg dapil DKI Jakarta II yang nantinya akan menduduki kursi DPR RI. Awalnya saya heran. Naha kudu dapil DKI Jakarta II? Pan saya warga Jabar Juara.

Ternyata, usut punya usut, menurut Komisaris Komisi Pemilihan Umum (KPU), Viryan Aziz, seluruh penduduk luar negeri (pendulu) dianggap telah keluar dari daerah pemilihan asal provinsinya masing-masing sehingga tidak bisa dikategorikan pemilih dapil masing-masing lagi. Dan karena pemilih luar negeri berada di bawah kewenangan Departemen Luar Negeri Indonesia, maka suara pendulu diarahkan ke dapil tersebut, sebagaimana yang dijelaskan dalam Peraturan KPU No. 7 tahun 2017. Oh kitu mang...

Proses nyoblosnya tidak lama. Hanya tinggal srek, jos, srek x2. Setelah itu, kemudian surat suara dimasukkan ke kotak plastik (bukan kardus) yang ada di seberang meja KPPSLN dan di sebelah meja saksi. Tak lupa, sebelum keluar ruangan, jari manis pun dilumuri tinta ungu (warna indigo cenah Daehan mah). Udah deh kelar.

Lalu kami pun bergegas menuju TPS 2, karena langit sudah mulai terlihat sendu kerana sedang tak menampakkan suntikan ceria matahari. Sesampainya di TPS 2, saya meminta istri masuk sendiri aja. Awalnya istri agak-agak was-was masuk sendiri. Siga masuk sarang penyamun cenah. Da isina mas-mas hungkul. Tapi ujungnya masuk sendiri juga.

Tak lama kemudian, istri keluar lagi.

Lelaki 1: Udah? Cepet kan?

Wanita 2: Apaan, aku gak bisa nyoblos. Katanya aku terdaftar via pos. Jadi disuruh nunggu pos nya datang.

Lelaki 1: Naha bisa?! Serius, terakhir aku cek eomma TPS 2 kok.

(langsung cek website sidalih via hape)

Lelaki 1: Si aduh. Liat ma, kolom eomma jadi dua. Satu TPS, satu POS. Padahal sebelumnya TPS doank. Bentar. Naha alamatna alamat kampus?

Suatu kejanggalan memang. Saya inget banget, istri saya daftarin TPS. Data diri istri juga saya ingat betul (in syaa Allah) sudah saya ganti sendiri dengan data terbaru, termasuk alamat. Tapi alamat yang terdaftar untuk metode pos ini alamat kampus. Bukan spesifik alamat lab atau alamat rumah teman-teman. Alamat kampus yang tertera di website kampus. Lantas bagaimana engke mamang pos ngirim surat suarana, ujang?

Tapi ternyata sampai juga surat suaranya ke lab istri. Mungkin si mamang pos searching dulu nama istri terus kasih langsung ke departemen dimana istri berdiam diri, karena memang surat suaranya dikirimnya ke office departemen. Tak lama setelah diterima, surat suara pun segera dicoblos dan langsung dikirimkan via kantor pos yang ada di kampus.

Epilog

Pemilu 2019 cukup berwarna lah. Dari yang jadinya malah didaftarkan di TPS luar kota, hingga ujug-ujug via POS dan alamatnya random pula. Tapi hikmahnya jadi bisa jalan-jalan dan family time. Ndak papa.

Sebagai penutup, saya sangat ingin mengapresiasi PPLN atas kerja kerasnya selama proses pemilu ini. Semoga PPLN 5 tahun mendatang lebih rapi lagi pendataanya, lebih kreatif lagi sosialisasinya, lebih oke lagi persiapannya. Sebagai seorang yang hanya bisa memberi saran normatif, saya ucapkan terima kasih banyak.

Semoga, siapapun yang jadi pemimpin Indonesia terpilih nanti, beliau-beliau bisa amanah dalam mengayomi seluruh warga negara Indonesia, dapat lebih merasakan dengan mata hati bahwa pada pundaknya lah seluruh harapan warga Indonesia terbebankan, pada tatapannya lah kecermelangan masa depan Indonesia tersimpan, dan pada sikapnya lah kedigdayaan Indonesia terpampang.

Berikan Komentar