Menapaki 5 Bandara

27 Mei 2013

Setelah semalaman packing, menyiapkan dokumen-dokumen penting seperti paspor, itinerary tiket pesawat, hard copy acceptance letter dan paper, serta sejumlah uang, saya membuka laptop untuk mempersiapkan slide presentasi. Jam dinding menunjukkan sekitar pukul 2 dini hari saat itu. Namun, beberapa menit setelah power point dibuka, mata malah mencari titik temu. Akhirnya, terpaksa saya memutuskan untuk istirahat sejenak hingga tanpa di sadari, adzan shubuh berkumandang. Oke. Slide presentasi ditunda sebentar ga masalah lah ya.

Selepas shalat shubuh, saya bersama 3 rekan lain: Ghozie, Arief, dan Fuad bersiap menuju Cipaganti. Kami termasuk kloter kedua dari empat kloter keberangkatan ke Turki. Rute perjalanan yang kami lalui: Jakarta-Singapura (CGK-SIN), Singapura-Doha (SIN-DOH), Doha-Istanbul (DOH-IST). Mengapa harus ke Singapura terlebih dahulu soalnya harga tiket Qatar Airways, maskapai penerbangan yang kami gunakan untuk ke Turki, dengan rute Singapura-Istanbul lebih murah dibandingkan dengan harga tiket Jakarta-Istanbul. Tiket Singapura-Istanbul yang saya dapat USD1,068. Harga tiket Jakarta-Istanbul sekitar 1100an USD. Beda 100 USD kan lumayan.

Sedangkan untuk penerbangan dari Jakarta ke Singapura, kami menggunakan Lion Air. Harga tiket Lion Air termasuk yang termurah untuk keberangkatan dari Jakarta ke Singapura. Kebetulan saya mendapat harga promo, Rp400.000,00. Sebenarnya, tiket Air Asia bisa lebih murah lagi jika dipesan jauh-jauh hari. Namun, karena saya baru bisa memesan tiket di H-1, ya harga tiket termurah yang bisa saya dapat segitu.

Transit Pertama di Changi

Setelah sampai Cipaganti Dipati Ukur, kami segera memesan kursi menuju Bandara Sukarno-Hatta. Harga travel ke Bandara lebih mahal dibandingkan dengan harga travel biasa, yaitu Rp120.000,00 per orang. Kurang lebih 5 jam perjalanan kami tempuh. Sekitar pukul 11 siang, kami sampai bandara dan langsung menuju terminal 2. Di sana, kami menunggu rekan kami yang lain: Teh Lino, Yahya, Firdaus, Yayang, dan Galih yang pergi ke bandara dengan cara mereka sendiri. Setelah berkumpul, kami segera check in dan bergegas menuju pesawat.

28 Mei 2013

Alhamdulillah, sekitar pukul 6pm kami berdelapan sampai di Changi Airport, Singapura. Di sana kami harus menunggu selama 6 jam sebelum kami naik penerbangan selanjutnya pukul 01.20 dini hari. Ini kali pertama saya ke Changi. Changi adalah bandara termegah, terluas, dan ternyaman yang pernah saya masuki. Karpetnya empuk, lebih empuk dibandingkan dengan karpet asrama. Haha.

Januari lalu saya sempat ke Singapura, namun tidak sempat ke Changi, karena saat itu saya masuk singapura lewat jalur laut dari Batam, dan pulang ke Indonesia dari Malaysia.

Sambil menunggu check in, kami berkeliling menikmati setiap sudut Changi. Di sana, saya dan kawan-kawan juga bertemu dengan Mawla dan Sabilil yang pergi di kloter pertama. Karena perut mulai berdendang, kami memutuskan untuk pergi ke Terminal 3, mencari McD. Harga menu regular Mcd di sini berkisar 4-6 Dolar Singapura. 1 Dolar Singapura sekitar 8000 rupiah.

Setelah loket Qatar Airways dibuka, kami segera check in. Sembari menunggu boarding, saya sedikit merebahkan kaki di free hotspot dan free charging area. Cas HP dan OL tentu menjadi aktivitas otomatis setelah berada di area ini. Sekitar pukul 1am kami segera menuju pintu gerbang A12 untuk boarding.

Perjalanan menuju Istanbul pun dimulai.

Turbulensi Menegangkan

Qatar Airways dari Singapura ke Doha ini memiliki komposisi tempat duduk 3-3-3. Saat hendak duduk di kursi pesawat, di sana telah tersedia satu buat selimut, satu buat headset, dan satu paket perlengkapan tidur yang berisi penutup mata, penutup telinga, sikat gigi, pasta gigi, dan kaus kaki. Fasilitas ini diberikan secara cuma-cuma. Bahkan paket perlengkapan tidur dapat dibawa keluar pesawat.

Di belakang kursi penumpang, terdapat sebuah layar monitor. Monitor ini merupakan paket entertainment Qatar Airways bernama Oryx Entertainment. Di dalamnya terdapat movie, audio, games, tv program, dengan pilihan beragam. Selain itu, selama di pesawat, penumpang diberikan makan gratis dan beberapa kali snack. Tak heran, Qatar Airways mendapat predikat maskapai bintang 5.

Karena headset yang ada di depan saya tidak dapat saya gunakan, saya memutuskan untuk tidur. Hingga akhirnya saya bertemu dengan momen yang tak terlupakan. Turbulensi dahsyat! Turbulensi pesawat merupakan hal yang biasa, namun dengan kadar yang sangat luar biasa saat itu cukup membuat jantung berdegup kencang. Pasalnya, turbulensi yang terjadi saat itu jauh lebih dahsyat dibandingkan biasanya.

Saya terbangun seketika setelah tiba-tiba pesawat turun kemudian naik kembali dengan cepat. Terasa seperti sebuah mobil yang bannya masuk jalanan berlubang yang cukup dalam. Bahkan hingga pramugari yang berdiri beberapa kursi di depan saya terbentur ke langit-langit pesawat! Setelah itu pesawat turun dengan kecepatan yang lebih dari biasa. Perasaan yang saya rasakan saat itu seperti saat berada di turunan roller coaster.

Suasana cukup chaos saat itu. Tidak sedikit juga yang menjerit ketakutan. Sempat terlintas dalam pikiran saya sebuah scene dari film Final Destination. Saya kemudian menutup mata dan hanya bisa berdoa semoga scene film tersebut tidak menjadi kenyataan. Beberapa lama setelah itu, pesawat kembali stabil dan saya pun beristirahat kembali.

7 jam berlalu. Saya dan kawan-kawan sampai di Doha, Qatar. Hamad International Airport di Doha ini menjadi transit kedua kami sebelum kami sampai Istanbul. Setelah sampai di bandara, kami segera mencari mushala untuk shalat.

Terdampar di Roma

Di depan mushala airport ternyata sudah berkumpul kawan-kawan dari kloter tiga yang berangkat langsung dari Jakarta ke Doha. Mereka berangkat dari Jakarta tanggal 28 Mei dini hari tanpa transit di Singapura terlebih dahulu. Ternyata untuk perjalanan dari Doha ke Istanbul, kami semua berada dalam satu pesawat.

Sekitar 6-7 jam lagi waktu tunggu kami di bandara hingga kami sampai di boarding berikutnya. Kami tidak dapat pergi keluar bandara, karena visa di sini berbeda dengan visa Turki yang on arrival. Lagian, Rp300.000 terlalu sayang jika hanya digunakan untuk berkeliling Doha selama kurang lebih 4 jam (hitungan di luar check in bandara dan syalalala lainnya). Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menunggu di bandara.

Kejadian tak terduga muncul saat kami hendak melakukan boarding. Tetiba, salah satu petugas bandara Qatar Airways, Miss Shaima, mendatangi beberapa dari kami dan menawarkan pengubahan rute perjalanan untuk 7 orang dari kami karena suatu alasan. 7 orang dari kami diarahkan ke Roma terlebih dahulu sebelum akhirnya ke Istanbul. Sebagai kompensasi, masing-masing dari kami diberikan USD250. Untuk perjalanan dari Roma ke Istanbul, tentu bukan urusan kami. Petugas Qatar Airways yang mengurusnya.

Akhirnya, saya, Kang Deden, Faqih, Yayang, Candra, Iqbal, dan Arip yang menjadi tumbal perubahan rute pesawat. Tapi sebenarnya masing-masing dari kami senang hati. Ya, kapan lagi kami dapat berkunjung ke Italia jika tidak hari itu. Selain kami, ada satu orang wanita dari Thailand yang rute perjalanannya juga dibelokkan. Karena namanya panjang dan susah diucapkan, saya lupa namanya siapa.

Sama, sesampainya di bandara Roma, kami tidak dapat keluar bandara. Lagi-lagi karena visa. Akhirnya, kami hanya berkeliling di zona internasional tersebut dan membeli sedikit oleh-oleh. Juga berpoto.

Pesawat kami selanjutnya adalah Alitalia. Maskapai ini cukup memberikan delay yang sangat lama. Take off yang seharusnya pukul 21.10, baru bisa dilakukan sekitar pukul 3 pagi. Saat itu, padahal kami dan penumpang lain telah berada di pesawat, tapi karena suatu hal, kami diturunkan kembali dan diantar balik menuju bandara. Katanya ada suatu hal yang jika penerbangan dilanjutkan akan mengancam keselamatan penumpang. Karena sudah mengantuk, saya tidak terlalu peduli saat itu.

Kami menunggu di dalam bandara. Menunggu pesawat selanjutnya datang. Setiap penumpang diberi air minum dan dipersilakan menunggu. Selama menunggu, kami bertemu dengan seorang dari Algaria yang ternyata senang berkeliling Indonesia. Terakhir dia mengunjungi salah satu daerah di Sumatra. Dia bilang dia suka Indonesia, cuman jalanannya crowded parah.

Sekitar pukul 3am, pesawat datang. Kami dan penumpang lain kembali berkronologi seperti sebelumnya hingga akhirnya kami sampai di tempat duduk pesawat. Karena sudah lelah, saya kembali tidur hingga akhirnya sampai Istanbul.

Menghirup Udara Istanbul

29 Mei 2013

Pukul 6 pagi waktu Istanbul kami sampai di Attaturk International Airport. Setelah itu, kami pergi ke tempat pembelian visa. Visa turki itu on arrival. Jadi tak perlu mengurus ke Kedubes Turki di Indonesia. Harga visa Turki USD25.

Setelah sampai di pintu gerbang keluar bandara, kami bingung, karena tidak ada free hotspot sedangkan kami harus menghubungi kawan kami agar dia menjemput kami. Kami harus berbegas ke hotel mengingat konferensi dimulai pukul 8 pagi.

Tercetus ide untuk membeli simcard salah satu provider di sana. Di sana ada 3 buah provider besar: Avea, Turkcell, dan Vodavone. Menurut informasi yang kami dapat, Avea provider terbaik. Namun, harganya tidak cukup baik. Total harga simcard plus dengan paketnya (free 500 sms, 500 menit nelepon, dan 500MB internet) itu 65 TL (Turkish Lira). 1 TL sekitar 5000 rupiah. Wew. Cukup mahal.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 9, akhirnya kami memutuskan untuk sendiri menuju President Hotel, tempat dimana konferensi diadakan.

 

Bersambung ke GIM Conference.

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: