Memperjuangkan Barakah

Kalo misal, awal tahun baru masehi ini boleh dijadikan momen buat sedikit melirik jejak langkah di belakang, maka, ada satu resolusi yang ingin banget digarisbawahi di tahun ini. Di antara sekian banyak resolusi dan (bismillah semoga bukan wacini) target-target di 2016, ada satu yang buat saya pribadi sangat esensial buat di send to forward, dijadikan prioritas di atas semuanya. Apa itu?

Ialah ia, ‘memperjuangkan barakah‘.

Rasa-rasanya, kemarin-kemarin (lebih kerasa bangetnya akhir-akhir ini sih) terlalu banyak unsur duniawi mendominasi keseharian. Determinasi ada, to-do list ada, target kerjaan di lab atau di rumah ada, tapi sepertinya masih terlalu rabun buat melihat hal yang lebih esensial di balik itu semua. Simpelnya, aktivitas tak beresensi, karena terjebak rutinitas dan kebiasaan. Kalo jaman di himpunan dulu, yang kayak-kayak gini bisa jadi bahan interogasi swasta nih. Melakukan sesuatu gak berpegang pada esensi.

Mungkin memang betul, sesekali perlu menghela nafas sejenak, keluar dari rutinitas, sedikit melipir dari kebiasaan. Buat melihat ke dalam, memaknai ulang setiap apa-apa yang dikerjakan. Dan yang paling penting, mencari, menemukan, lalu menginternalisasi esensi dan nilai-nilai yang sejatinya jauh lebih worth buat dikejar dibanding ‘hanya sekedar’ achievement atau mission accomplished saja. Karena yang saya rasakan, terlalu lama menikmati rutinitas dan kebiasaan, bisa mengaburkan sedikit (bahkan mungkin banyak) pandangan kita dari sesuatu yang lebih esensial. Memperjuangkan barakah ini misal, salah satunya.

Memang gak ada yang salah dengan men-setting target terus meraihnya, atau membuat to-do list terus menyelesaikannya. Dalam hal menej-memenej waktu dan prioritas, itu semua part of tools yang cukup bagus buat diaplikasikan sehingga hari-hari kita jadi lebih produktif. Tapi saat semua itu gak berbuah barakah dan ridhaNya, kan sayang juga. Ibaratnya, kayak pohon yang dikasih asupan zat hara terbaik, disinari matahari dengan kadar yang pas, dan hidup di lingkungan super bagus, tapi sayangnya buah yang dihasilkan hambar.

Memperjuangkan barakah artinya mengeluarkan segenap kemampuan yang dipunya dan berusaha sedekat mungkin denganNya di keseharian untuk mendapat barakah di setiap aktivitas yang dikerjakan. Kenapa hal ini harus diperjuangkan, obviously, IMHO, karena barakah itulah yang sebenarnya menjadikan hidup lebih hidup. Kalo mengutip Lapis-Lapis Keberkahan, barakah akan membawa ketentraman di keseharian, kebertambahan nikmat dan rezeki, dan kontinuitas pemberian taufiq dari-Nya. Semua itu in syaa Allah lahir dari barakah yang membersamai setiap aktivitas.

Betapa worth to be sought kan nilai sebuah barakah.

Setelah dipikir-pikir, mungkin kenapa kemarin banyak gak tenang sewaktu dikasih satu-dua cobaan, ya mungkin karena gak menjadikan getting barakah ini sebagai soul di aktivitas keseharian. Aktivitas cuman disandarkan pada konsep sebab-akibat, atau hanya hubungan logika semata. Antara tercapai tidak tercapai sama selesai tidak selesai doank. Kurang banyak didominasi pelibatan Allah di sana. Akibatnya, gak tenangnya kelamaan. Malah jadinya ada efek samping: berpikiran sempit dan pesimistis.

Berkah adalah menetap dalam ketentraman, seperti unta yang merasakan sejuk meski di sekitarnya panas bersangatan

Salim A Fillah

Satu hal lagi yang beneran jadi ingin baca istighfar sebanyak-banyaknya adalah mindset tentang taufiq yang seringkali menguap terlupa. Kita bisa tau mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk, bisa punya motivasi untuk bergerak, kemauan untuk bertumbuh, bisa punya pikiran untuk maju, perasaan untuk bertahan, bisa tergerak untuk beribadah, terenyuh untuk berbagi, sejatinya karena taufiq dariNya kan. Kalo saja taufiq itu dicabut lalu kita jadi jahat, lupa diri, berhati gelap, ngeselin sampe minta ditonjok kan piece of cake saja buatNya. Tapi naudzubillah siapa yang mau itu terjadi.

Posisi tinggi, achievement banyak, populer dimana-mana, tak ubahnya kayak kulit pisang terinjak kan kalo gak kasih manfaat buat sekitar, membuat pribadi jadi lebih baik, dan terlebih, dinilai baik di mataNya. Sebenarnya bukan berarti achievement ga penting, atau apa-apa yang diperjuangkan sampe saat ini sia-sia. Hanya sepertinya akan lebih sempurna jika semua itu dibawah naungan barakah. Itu yang kepikiran saat ini.

Bekerja dan belajar sambil memperjuangkan barakah juga merupakan bentuk syukur yang lain, menurut saya. Atas kemudahan yang didapat hingga saat ini, atas jalan kebaikan yang diberi hingga saat ini. Karena memperjuangkan barakah artinya berdeterminasi (seperti biasa) ditambah dengan melibatkan Allah di dalamnya. Meniatkan sesuatu karenaNya, beraktivitas atas namaNya, serta meminta dan berharap yang terbaik dariNya.

Semoga dengan memperjuangkan barakah, Allah benar-benar menganugerahi barakah dalam keseharian. Sehingga ketenangan dalam hidup selalu ada, rezeki baik yang berupa materi maupun non materi selalu mengalir, dan taufiq dariNya selalu menghujani.

2016, in syaa Allah jadi titik awal buat menyempurnakan usaha diri dalam memperjuangkan barakah.

Sumber gambar di sini

 

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: