Memperjuangkan ASI

Sebagai orang tua, memberikan yang terbaik untuk anak pastinya adalah prioritas utama mereka. Tak perlu ambil sekian sks atau ikut kursus keahlian khusus untuk bisa mendapatkan sense ini. Sudah naluriahnya akan seperti itu. Siapapun, dari kalangan apapun, dan di belahan bumi manapun, kami pikir sudah menjadi sunnatullah, orang tua akan rela mengorbankan apapun demi anak-anak mereka.

Berkeputusan untuk sama-sama menjadi seorang pelajar, tentunya sudah satu paket dengan konsekuensi bahwa Daehan tidak akan mendapatkan pola asuh bayi pada umumnya. Let’s say, definisi ‘pada umumnya’ adalah ayah pergi bekerja, ibu full time di rumah, memberikan ASI, mengajarkan anak ini-itu, bermain, dan segudang aktivitas lain yang dilakukan seharian di rumah.

Walaupun nasib Daehan tidak ‘seberuntung’ itu, kami sebagai orang tua tak pernah sedikitpun menurunkan kadar pengorbanan kami untuk putera kami tercinta. Akan selalu ada usaha untuk memberikan yang terbaik dari kami untuk Daehan. Kapanpun. Dalam situasi apapun.

Sebenarnya, tidak bijak memang mengatakan nasib Daehan ‘tidak seberuntung itu’. Dan ‘tidak seberuntung itu’ bukan berarti tidak baik. Sejak kapan juga definisi ‘pada umumnya’ menjadi yang terbaik di antara definisi-definisi lain yang mungkin ada? Situasi dan kondisi setiap orang tua berbeda-beda. Karena tantangan setiap keluarga tak sama. Oleh karenanya, definisi ‘yang terbaik’ pun, menurut kami, menjadi relatif. Lagian, poin yang ingin di-highlight bukan di sana.

Di usia-usia awal Daehan ini, ada satu hal yang menjadi concern kami: ASI.

Setelah membaca berbagai macam artikel dan buku, juga berdiskusi dengan beberapa orang kenalan kami, kami berakhir pada satu kesimpulan bahwa ASI adalah asupan terbaik dan tak tergantikan bagi Daehan. Yang dimana ini menjadi keyakinan kami hingga saat ini. Dalam pemahaman kami, kandungan ASI takkan bisa ditemukan di susu manapun, serta manfaat ASI takkan tergantikan oleh susu apapun. Hal ini juga yang kemudian membawa kami pada sebuah pembulatan tekad untuk selalu memberikan Daehan ASI. No matter what. Selain karena memang menyusui anak hingga ia berusia 2 tahun adalah perintah langsung dariNya. Itu sih sebenarnya alasan utamanya.

Tantangan bagi seorang ibu yang tidak 24 jam berada di samping anaknya ㅡyang masih bayiㅡ adalah pemberian ASI ini. Situasi yang tak bisa setiap saat memberikan ASI saat anak sedang butuh ASI, menghadapkan seorang ibu pada dua pilihan: memerah ASI atau memberikan susu formula. Hal ini juga yang dulu sempat istri alami. Pergolakan batin antara menyetok ASI Perah (ASIP) atau menyetok susu formula (sufor).

Dulu, di masa-masa awal kami belajar menjadi orang tua, kami masih mencampurkan antara ASI, ASIP, dan sufor. Walaupun sebenarnya memberikan sufor pada Daehan bertolak belakang dengan keyakinan dan keinginan kami. Tapi karena situasi memaksa kami untuk melakukan itu, dengan berat hati kami menurunkan ego kami hingga di titik kami mengizinkan sufor diminum oleh Daehan.

Oke, sebelumnya, mau nge-disclamer dulu. ASI vs Sufor berada di ranah perdebatan. Tapi tulisan ini dibuat, berangkat dari keyakinan kami bahwa bagi kami, ASI di atas segalanya. Kami tak mengatakan sufor tidak baik, kami hanya meyakini ASI jauh-jauh lebih baik. Bagi kami, ‘kenapa harus ASI?’ adalah sesuatu yang tak perlu dipertanyakan lagi. Lanjut.

Kalau boleh me-recall sejenak, record Daehan bersama sufor tak banyak sebenarnya. Pertama kali Daehan minum sufor adalah beberapa saat setelah ia lahir. Korea tidak menganut paham IMD. Dulu, saat mencoba mengajukan adanya IMD pasca melahirkan pun tidak di-acc. Walhasil, pasca Daehan dilahirkan, Daehan hanya diberikan waktu sekian menit untuk inisiasi menyusui. Setelah itu, Daehan dibawa ke ruang perawatan bayi dengan maksud agar istri bisa beristirahat. Masuk ruang perawatan bayi, minumnya Daehan darimana lagi kalo bukan dari sufor. Karena tiga hari pertama ASI keluar sedikit, jadinya selama itu sufor yang mendominasi.

Kali lain Daehan minum sufor adalah saat istri melakukan pembiasaan masuk lab pasca hampir 3 bulan rehat. Saat itu, untuk membiasakan diri dengan aktivitas lab, istri dalam rentang beberapa waktu sekali dalam sehari pergi ke lab, beraktivitas sebentar, lalu pulang lagi. Ada satu masa saat istri sedang di lab, Daehan ingin mimi. Karena iba melihat rengekan Daehan, Ibu ㅡsaat itu Ibu sedang di sini dan membantu mengasuh Daehanㅡ memberikan Daehan sufor.

Terakhir, satu kesempatan lain Daehan minum sufor adalah saat Daehan pertama kali masuk Orinijib. Peralihan dari mimi langsung ke botol saat itu membutuhkan bantuan sufor karena memerah ASI masih belum terbiasa bagi istri. So, bisa dihitung jari lah jumlah Daehan minum sufor hingga saat ini. Masa-masa galau waktu itu cukup banyak mentolelir ketergantungan kami pada sufor.

Tapi sekarang, tekad kami in syaa Allah sudah benar-benar bulat. Kami akan selalu berusaha mem-provide ASI untuk Daehan setiap hari. Setiap hari istri menyimpan stok ASIP untuk dijadikan bekal Daehan di Orinijib setiap hari. Kadang, jika stok kurang, di sela-sela aktivitas labnya, ia pergi ke Orinijib untuk mengantarkan ASIP. Dalam satu-dua kesempatan, biasanya saat istri sedang di tengah eksperimen, saya yang menggantikan istri mengantarkan ASIP.

Menyetok ASIP dan membekalkannya ke Daehan selama di Orinijib, kini sudah menjadi keharusan buat kami. Dan sudah tersisipkan dalam aktivitas keseharian kami. Satu alasan, karena kami ingin memberikan ASI ekslusif untuk Daehan. Untuk kesehatan Daehan, untuk perkembangan Daehan, untuk masa depan Daehan. Di tengah keterbatasan kami memberikan ASI langsung pada Daehan, hal ini yang setidaknya bisa kami ikhtiarkan untuk Daehan.

Teringat istri pernah bilang ㅡkurang lebihㅡ seperti ini:

Aku tuh selalu ngerasa bersalah sama Daehan. Ga bisa setiap saat ada di sisi Daehan. Terutama buat kasih mimi Daehan kalo Daehan lagi haus. Jadi aku ingin kasih yang terbaik buat Daehan. Curi-curi waktu buat mompa atau nganterin ASIP ke Orinijib ga masalah selama itu buat kebaikan Daehan. Biarkan ini jadi bukti sayang aku sama Daehan. Aku udah diamanahi Daehan sama Allah. Setidaknya ini bisa jadi salah satu bentuk syukur aku dengan kasih Daehan yang terbaik.

Saya pikir, perjuangan memberikan ASI untuk Daehan ini tidak seberapa dibanding dengan rezeki diamanahkannya Daehan pada kami. Mungkin memang sekilas terlihat ribet, capek, menyita waktu. Tapi, ㅡmeminjam perkataan istriㅡ biarlah ini menjadi bukti sayang kami pada Daehan. Bukti cinta kami pada Daehan.

Dan biarlah kisah memperjuangkan ASI ini menjadi memorable story buat kami di masa tua nanti.

6 comments: On Memperjuangkan ASI

  • Halo mas zaky.. Salam kenal.. Boleh tau kah info kisaran harga orinijib ny? Dan bagaimana sstem ny? Sy dn suami kbetulan sm” sdg bljr jg. Orinijib mjd salah 1 opsi kami. Terima kasih sebelumnya.

    • Sekitar 400rb won mba perbulan. Itu untuk anak di bawah usia setahun. Semakin besar anaknya, biayanya jadi lebih murah. Sayangnya buat foreigner ga ada potongan harga.

      Mereka pake sistem antar jemput. Jam kerjanya dari jam 9-6 rata2. Bisa request lebih lama atau lebih sebentar. Bergantung kebijakan orinijib nya.

      Di sana aktivitasnya macem2. Dari mulai indoor sampai outdoor. Makan siang disediain di sana. Request seafood atau non daging aja. Setiap anak dikelompokkan berdasarkan usia, supaya mempermudah klasifikasi aktivitas kesehariannya. Di beberapa orinijib, mereka report setiap kegiatan di blog mereka, jd kita bisa pantau keseharian anak kita setiap hari

  • Tulisan ini lahir saat ASI, waktu yang sempit, dan naluri sebagai orang tua digabung. Keren.

Leave a Reply to veccosuryahadi Cancel reply

Site Footer

%d bloggers like this: