Memilih Teman Syurga

Sure. Sebagai makhluk sosial, kita tak bisa hidup seorang diri. Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, kita pasti akan butuh orang lain. Sudah sedari kecil kita diajarkan perihal ketergantungan antar sesama. Bahwa setiap individu akan membutuhkan pertolongan individu lainnya. Dari mulai hal yang paling kecil hingga yang paling besar. Dari mulai minta tolong pijitin pundak, sampe kongkalikong dalam urusan politik.

Orang tua dan guru di masa kecil pernah bernasihat, bahwa dalam hal muamalah (hubungan ‘transaksional’ antar manusia) kita diajarkan untuk berkawan dengan siapa saja. Kita boleh berdagang dengan siapa saja, kita juga boleh menyerap ilmu dari siapa saja. Bukan hanya boleh, dianjurkan malah. Apalagi dalam hal menuntut ilmu.

Pepatah mengatakan bahwa ilmu adalah mutiara yang hilang. Dimanapun kita menemukannya, ambillah. Karena ilmu sangatlah berharga, sekecil apapun itu. Mau itu datang dari orang tua ataupun anak-anak, atasan atau bawahan, muslim atau non muslim, selama ilmunya membawa kebermanfaatan, ya ambil saja. Kita adalah makhluk terbatas yang punya limit. Mengandalkan hanya seorang diri untuk menyerap sebanyak-banyak dan seluas-seluasnya ilmu adalah sesuatu hal yang tidak mungkin.

Sepengalaman saya, bergaul dengan berbagai macam kalangan, tipe orang, atau orang-orang dengan expertise tertentu selalu membukakan pola pikir baru dalam otak saya. Mengamati bagaimana mereka mengkonstruksi ide, menyampaikan pesan, menyikapi suatu masalah, ataupun saat mereka mencoba berpegang teguh pada prinsip yang mereka yakini, seringkali menjadi bagian yang menyenangkan. Selalu ada ilmu-ilmu baru yang serap-able. Tidak jarang saya juga mempelajari dan mengadopsi way of something mereka. Karena dengan begitu, saya merasa ada sesuatu dalam diri saya yang terupgrade.

Tapi.

Lain halnya ketika kita sedang berusan dengan syurga. Untuk menggapai syurga, kita harus selektif dalam memilih teman. Dalam urusan yang berhubungan dengan temptation, memang secara naluriah kita akan mencari strong person yang kadar disiplin dan kebijaksanaannya lebih tinggi dari kita, karena dengan begitu kita akan cenderung sincerely mendengarkan nasihatnya. Kalo kata Amy Morin,

Strong-willed friends can increase our self-control.

Perjalanan menuju syurga adalah perjalanan yang panjang, berliku, penuh godaan, super dinamis, sehingga membutuhkan keistiqamahan level tinggi. Namun sayangnya, kadar iman kita tak selalu berada di atas. Kadang-kadang iman kita jongkok, terjelembab, bahkan teperosok di bawah ground iman level. Kalo bukan kawan-kawan special kita yang kembali ‘menarik’ kita ke atas, maka siapa lagi?

Kawan-kawan sekitar kita juga yang seringkali mempengaruhi berbagai macam keputusan yang diambil dalam hidup kita. Bahkan kadang untuk keputusan terbesar dalam hidup, seperti pasangan menikah misalnya. Tidak sedikit orang yang bertemu jodohnya via temannya. Dan banyak juga orang yang menikah dengan temannya sendiri. Beberapa dari mereka juga ada yang menikah dengan teman masa kecil. Ehem.

Terlebih, di syurga nanti orang-orang shalih diberi keistimewaan untuk ‘menarik’ kawannya masuk ke syurga bersamanya. Oleh karena itu, perbanyaklah kawan-kawan yang shalih. Kalau kata Ust Salim A Fillah, perbanyaklah kenalan ‘orang dalam’ :

Tentu berteman dengan teman yang shalih tidak berarti kita hanya menggantungkan ‘nasib’ kita di syurga pada mereka. Karena pada hakikatnya juga lii amali wa lakum ‘amalukum. Bagiku amalku, bagimu ya amalmu. Kita dihisab atas amal masing-masing.

Namun, sepertinya menyenangkan jika kita berteman dengan kawan-kawan shalih. Yang saat bersama mereka, kita selalu malu akan rendahnya kualitas amal kita. Yang saat bersama mereka, kita selalu berpacu untuk ber-fastabiqul khairat. Yang saat bersama mereka, kita selalu berharap bahwa kita akan satu syurga dengan mereka.

Dalam hal muamalah, bertemanlah dengan siapapun. Tetapi dalam hal syurga, pilihlah teman yang ketika dengan mereka syurga seolah terasa lebih dekat.

Apabila penghuni syurga telah masuk ke dalam syurga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka pada Allah,

“Ya Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami, dan berjuang bersama kami..”

Maka Allah berfirman,

“Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah”

(HR. Ibnul Mubarak)

Komentar

Site Footer

%d bloggers like this: