Lintasan Pikiran

Memaksimalkan Keterbatasan

January 8, 2016

Hakikatnya, manusia itu makhluk yang serba terbatas. Terbatas dalam berkemampuan, berpikir, dan bertindak. Bahkan juga dalam berperasaan. Itulah kenapa manusia tak bisa hidup sendiri dan melakukan semuanya sendiri. Ia akan selalu butuh orang lain untuk menutupi keterbatasannya. Ia butuh orang tua, ia butuh saudara, ia butuh teman, ia butuh kolega, ia butuh partner kerja, ia butuh guru, ia butuh senior. Juga tak lupa, ia butuh pasangan hidup.

Terlalu banyak hal yang harus dikerjakan manusia. Selain harus meningkatkan kapasitas dirinya, ia harus membina hubungan dengan orang lain, mengikuti aturan dari ‘sistem’ dimana ia berada, dan menyelesaikan target-target pekerjaannya. Ia juga harus menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut dirinya atau orang yang spesial untuknya, jika ia tipe orang yang mempunyai tingkat kepedulian tinggi. Jika ia seorang yang berjiwa sosial, ia harus meluangkan waktu untuk membantu orang lain. Dan di atas itu semua, ia harus menyediakan waktu untuk menjaga aktivitas spiritualnya. Menjaga hubungan vertikal dengan Tuhannya.

Takkan ada orang yang mampu menyelesaikan semuanya seorang diri dalam satu periode waktu tertentu. Sekalipun ia seorang hebat dengan bakat dan kemampuan belajar yang tinggi, pada akhirnya ia hanya akan mampu menyelesaikan sesuatu yang memang penting baginya, atau ia ahli di dalamnya. Akan ada saat dimana ia harus menentukan mana yang harus ia kerjakan terlebih dahulu, mana yang ia bisa simpan untuk dikerjakan kemudian. Dari sanalah lahir yang namanya prioritas.

Prioritas dibuat manusia, karena ia tahu bahwa ia memiliki keterbatasan.

Tapi sebenarnya di balik itu semua, manusia punya kemampuan untuk memaksimalkan keterbatasannya.

Setiap manusia terlahir dengan keunikannya masing-masing, kata orang-orang. Nyatanya, setiap orang memang lahir dengan bakat dan kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Gen orang tua yang diwariskan saja tak semua sama antara satu anak dengan yang lainnya. Ini yang menjadikan manusia unik. Hal ini menandakan, bahwa memang, setiap yang terlahir di dunia ini hadir untuk mengisi posisinya masing-masing. Segala hal yang menjadi faktor dalam proses pertumbuhan dan perkembangan mereka sebagai manusia, menjadikan mereka hidup dengan perannya sendiri-sendiri secara spesifik di kemudian hari.

Keunikan personal ini adalah hal pertama yang perlu digarisbawahi.

Sebagai manusia, tentu kita punya keunikan yang tersimpan dalam diri kita masing-masing. Entah itu berupa bakat, sifat, mindset, atau pun yang lainnya. Jika kita misalkan keunikan ini sebagai sebongkah berlian, maka akan ada berlian-berlian tersembunyi dalam diri kita, yang butuh sedikit usaha untuk membuatnya bersinar. Tapi masalahnya, terkadang kita tak tahu berlian apa yang sebenarnya diberikan spesifik untuk kita.

Untuk itu, mengetahui berlian-berlian yang sedang bersemayam dalam diri kita adalah sebuah keharusan. Agar kita tahu, aspek mana saja yang perlu dikembangkan dan dimaksimalkan, dan aspek mana saja yang cukup sekedar tahu basic-nya. Sehingga keterbatasan kita mampu membuahkan kebermanfaatan. Agar apa-apa yang kita korbankan seperti waktu, pikiran, dan tenaga, tertukar oleh daya manfaat yang nilainya jauh lebih besar dan impact-nya jauh lebih luas.

Hal kedua yang perlu digarisbawahi adalah pengalaman orang lain.

Pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. Tentu yang dimaksud bukan hanya pengalaman sendiri, tapi juga pengalaman orang lain. Karena keterbatasan kesempatan, takkan semua kondisi dan kejadian akan kita alami. Untuk mempelajari hikmah dari suatu kondisi atau kejadian, entah itu baik atau buruk, tak selamanya kita harus mengalaminya terlebih dahulu. Karena kita juga bisa belajar dari orang yang sudah mengalaminya terlebih dahulu.

Untuk tahu api itu panas, tak selamanya kita harus mendekatkan tangan kita ke api terlebih dahulu. Kita bisa tahu dari kisah orang-orang yang pernah terkena api. Untuk bisa mempersiapkan ujian dengan baik, tak selamanya kita harus menerka-nerka bentuk ujian yang akan kita hadapi seperti apa. Kita bisa dengar cerita orang-orang yang sudah mengikuti ujian serupa sebelumnya sehingga kita tahu bentuk dan jenis soalnya bagaimana. Dan untuk tahu bagaimana caranya keluar dari keterpurukan, tak selamanya kita harus terus merenung. Kita bisa belajar dari orang yang pernah punya pengalaman serupa dan kini ia terlepas dari keterpurukannya.

Belajar dari pengalaman orang lain akan membantu kita dalam memaksimalkan keterbatasan kita. Agar kita bisa mengambil ancang-ancang jika itu ternyata membutuhkan usaha keras, atau kita bisa hindari jika itu ternyata hanya menghambat kinerja kita. Sehingga di tengah keterbatasan kita, tak ada hal-hal yang memperlambat usaha-usaha kita dalam memaksimalkan keterbatasan.

Untuk itu, berkenalanlah dengan banyak orang. Terutama orang-orang hebat. Serap pengalaman dan ilmunya sebanyak-banyaknya. Perkaya berlian kita dengan emas-emas pengalaman dan ilmu mereka. Lengkapi usaha-usaha kita dengan asam-garam kehidupan mereka. Sehingga keterbatasan kita tak menjadi alasan kita untuk melemah. Karena sejatinya, tak ada motivasi yang tak bisa diciptakan.

Saatnya untuk menjadikan keterbatasan sebagai tantangan. Jika kita mau menenangkan diri sejenak, kita akan sadar bahwa tak ada keterbatasan yang melemahkan. Karena keterbatasan bisa dimaksimalkan.

Sumber gambar disini.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.